29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Meneropong Melambungnya Harga Beras, Di Pasaran Wilayah Sultra

Melambungnya harga beras di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), membuat para pedagang beras menjadi kuatir. Pasalnya. Selain kurang pembeli, juga banyak konsumen mengeluh.

Bagaimana hasil pantauan media ini.

Laporan Ketua Tim Timurmerdeka.com : Gino Samsudin Mirsab. (Sultra)

Melambungnya harga beras di daerah ini, membuat banyak konsumen mengeluhkannya. Hal ini dikatakan sejumlah konsumen di Pasar Mandonga (Kendari), Pasar Wameo (Kota Baubau), dan Pasar Sentral Wangiwangi (Wakatobi).

Seperti konsumen di pasar Mandonga Kendari Ny Armin menyebutkan, harga beras baik yang berkualitas maupun yang biasa saja semuanya melambung naik. Ada dugaan karena fluktuasi kalangan pedagang di pasaran, maupun karena cuaca yang tidak menentu belakangan ini.

Selain itu ada juga kalangan yang berspekulasi bahwa naiknya harga beras hingga melambung tinggi itu, baik di Baubau maupun di kota Kendari diduga dipicu dengan memanasnya suhu politik Pilkada Gubernur Sultra Periode 2018-2023.

Hal ini ditegaskan banyak pihak, karena sebelumnya harga beras sebelum adanya Pilgub, haraga stabil-stabil saja. Demikian dikatakannya pada media ini di Lepo-lepo Jum’at (12/1/2018).

Menurut Ny Armin, harga beras dipasar Lepo-lepo, sebelumnya, beras yang bermerek Dewa Rucci ukuran 25 Kg, hanya seharga 260 ribu, naika menjadi naik Rp 290 ribu. Demikian pula merek lainnya, juga pada naik harganya.

“Harga beras di Pasar Mandongan dan Kota baubau, melambung tinggi. Beras merek Dewa Rucci sebelumnya ukuran 25 Kg hanya dihargai Rp 260 ribu saja. Namun setelah memanasnya suhu politik Pilgu dan Wali kota Baubau, melambung hingga Rp 290 Ribu”, tukasnya.

Dikatakan Ny Armin, harga beras yang terus melambung belakangan ini, sepatutnya para pihak terutama Bulog perusahan milik pemerintah daerah, dapat menetralisirnya dengan operasi pasar. Padahal, Pilkada Wali Kota Baubau dan Pemilihan Gubernur baru saja dimulai. Untuk itu, semua pihak dapat memikirkannya, karena naiknya harga beras ini, otomatis akan memicu harga sembako lainnya.

“Naiknya harga beras dipasaran diwilayah Sultra, diyakini akan memicu, naiknya harga sembilan bahan pokok (Sembako) lainnya”, katanya.

Senada dengan itu, Ny Salmin yang bermukim di Lorong Hoga menyebutkan, di Pasar Wameo Kota Baubau, harga beras dipasar itu, terus-menrus melambung harganya. Ironinya, sekali naik harga beras ini, bukannya pelan-pelan naik, melainkan dalam prosentasi hingga 60 persen, meninggalkan harga sebelumnya.

“Harga beras naik hingga 60 persen cukup tinggi. Di pasar Wameo kota Baubau. Beras dewa rucci misalnya ukuran 25 kg sebelumnya hanya dari Rp 260 ribu saja, kini melambung hingga menjadi, Rp 290 ribu”, kesalnya.

Konsumen di pasar sentral Wangi-wangi (Wakatbuatobi) Ny Salimuddin, menyebutkan, semua merek beras naik. Seperti Beras Dewa Rucci, sebelumnya untuk ukuran 25 kg, hanya seharga Rp 310 ribu, namun belakangan ini terus naik hingga Rp 360 ribu.

“Harga beras sebelumnya masih tergolong murah dan dapat dijangkau, namun begitu naik membuat kita pusing. Untung saja kita memiliki kebun ubi kayu. Akhirnya kita terpaksa makan ubi”, ujarnya kesal.

Menyinggung kenaikkan harga beras diwilayah Sultra, salah seorang aktivis pemantau harga beras di Provinsi Sultra Umar Saleh, menjelaskan, harga beras tersebut, akan terus merangkak naik. Karena selain para cukong pengepul beras dari petani, sengaja menggudangkannya.

“Saya berani mengatakan, naiknya harga beras itu, selain terpicu para pengepul beras, juga adanya kesengajaan oknum. Artinya kalau saja tidak digudangkan, beras  dipasaran itu, masih biasa-biasa saja”, ujarnya.

Ia juga menjelaskan, naiknya harga beras tersebut, bukan saja di Kota Kendari, melainkan di Wakatobi, Konawe maupun di kota Baubau dan sekitarnya. Yang pasti harga-harga ini, selain dipicu karena factor cuaca, juga adanya unsur kesengajaan dari para pengepul beras di petani.

Dalam pantauannya di seluruh wilayah Provinsi Sultra, harga beras merangkak naik itu, para cukong sengaja memanfaatkan isu nasional, maupun isu-isunya tentang gagal panen karena cuaca.

Padahal sesungguhnya kalau dilihat dipetani wilayah Konawe, hingga persawahan dibeberapa daerah di wilayah Sultra ini, para petani, cukup bagus hasilnya. Bukankah padi persawahan dewasa ini, setiap tiga bulan panen…?.

“Dugaan naiknya harga beras itu, sesungguhnya dipicu oleh pengepul dan cukong beras. Dengan menggudangkan stock berasnya, dan dikeluarkan sedikit-sedik. Kalau ditelisik sebaik mungkin hamper semua gudang para pengepul masih cukup banyak”, ungkapnya.

Umar berharap, pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan, pertanian, termasuk pihak Kepolisian, selayaknya turun tangan, guna mengatasi oknum-oknum yang dengan sengaja menggudangkan beras itu. Artinya, kalau ditindak tegas secara hukum para pengepul dan cukong itu, tentu saja akan ada efek jerahnya…?.

“Pihak yang berwajib diantaranya Dinas Perdagangan, Pertanian, Bulog, dan petugas keamanan, seharusnya tangkap para pengepul maupun cukong itu. Karena sesungguhnya stock beras di Provinsi Sultra, mestinya memiliki stock yang cukup. Kenapa malah melambung harganya. Makanya saya sarankan para pihak untuk ditindak lanjuti dengan penyelidikan”, himbaunya.

Dinas Perdagangan Provinsi Sultra yang dihubungi media ini secara terpisah Jum’at (12/1/2018), salah satu stafnya mengaku bernama Zainuddin, mengungkapkan, memang pihaknya sudah ketahui bahwa harga beras melambung saat ini.

Pihak Pemerintah melalui Dinas Perdagangan Provinsi, sudah mendapat banyak masukkan, termasuk ada 3 lembar surat yang dikirim para pihak ke kantornya. Namun sejauh ini, belum dapat dilakukan tindakkan penyelidikan, karena pimpinan masing terus disibukkan dengan urusan kantor.

Hal ini tidak bisa disangkali diawal tahun 2018 ini, pihaknya masih membuat rencana strategi guna mengatasi beberapa mata anggaran yang akan di belanjakannya.

“Kantor kami sudah menerima banyak informasi tengtang hal itu, namun karena pimpinan masih sibuk, juga kepala bidangnya masih melakukan beberapa kegiatan, sehingga belum bisa kami tindak lanjuti”, ujarnya sembari menghentikan komentarnya. (*****).

%d blogger menyukai ini: