29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Beras Melambung, “Cukong” Gudangkan Stock, Pemerintah Di Minta Hadir

Kendari-Timurmerdeka.com. Melambungnya harga beras di Kota Baubau maupun di kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diduga dengan karena memanasnya suhu politik Pilkada. Hal ini dikatakan banyak pihak, karena sebelumnya harga beras stabil-stabil saja. Demikian dikatakan seorang ibu rumah tangga Ny Chanda pada media ini di Lepo-lepo Jum’at (13/1/2018).

Menurut Chanda, harga beras dipasar Lepo-lepo, sebelumnya yang bermerek Dewa Rucci ukuran 25 KG, hanya seharga 260 ribu, namun saat ini, menjadi naik Rp 290 ribu. Demikian pula merek lainnya juga pada naik harganya.

“Harga beras di pasaran kota baubau, melambung tinggi. Seperti beras bermerek Dewa Rucci sebelumnya ukuran 25 Kg hanya Rp 260 ribu. Namun setelah memanasnya politik melambung naik hingga Rp 290 Ribu”, tukasnya.

Dikatakan Chanda, harga beras yang terus melambung saat ini. Sepatutnya pemerintah daerah maupun bersangkutan, dapat menetralisir nya. Padahal, Pilkada Wali Kota dan Gubernur baru dimulai. Untuk itu, semua pihak dapat memikirkan karena naiknya harga ini, memicu harga sembako lainnya.

“Naiknya harga beras diyakini akan memicu naik harga-harga Sembilan bahan pokok lainnya”, katanya.

Senada dengan itu, Ny Salmin, diKota Baubau yang bermukin disekitar Lorong Hoga kota Baubau, menyebutkan, memang harga beras dipasar Wameo terus melambung harganya. Ironinya sekali naik, bukan pelan-pelan melainkan naik hingga 60 persen dari harga sebelumnya.

“Harga beras naik hingga 60 persen. Terutama di pasar Wameo kota Baubau, dari Rp 260 ribu per 25 KG naik menjadi, Rp 290 ribu”, kesalnya.

Menyinggung tentang kenaikkan harga beras tersebut, salah seorang aktivis pemantau harga beras di Provinsi Sultra Umar Saleh, menyebutkan, harga beras tersebut menjadi naik, karena para cukong pengepul beras sengaja menggudangkan beras yang dibelinya sama petani.

“Saya berani mengatakan, bahwa naiknya harga beras itu, terpicu para pengepul beras, bukannya dijual, melainkan digudangkan”, ujarnya.

Umar Saleh juga menjelaskan, baik di Kota Kendari, Wakatobi, Konawe maupun di kota Baubau, dan sekitarnya di wilayah Provinsi Sultra, harga beras merangkak naik. Hal ini ditegaskan karena benar sesuai hasil pantauanya, rata-rata para cukong beras menggudangkan berasnya.

“Dugaan naiknya harga beras itu, karena banyak cukong, menggudangkan berasnya”, ungkapnya.

Umar berharap, pihak pemerintah termasuk kepolisian selayaknya turun tangan, karena penggudangan beras itu, besar unsur pidananya. Artinya, kalau ditindak secara hukum para pengepul itu, tentu saja ada efek jerah.

“Petugas seharusnya tangkap para pengepul maupun cukong. Karena beras yang dikumpulnya digudang, sengaja ditahan, dan kemudian harga dinaikkan. Makanya saya sarankan untuk ditindak”, ketusnya.

Dinas Perdagangan Provinsi Sultra yang dihubungi terpisah, salah satu stafnya mengaku bernama Zainuddin, memang beras saat ini melambung.

Pihaknya sudah mendapat banyak masukkan termasuk ada 3 lembar surat yang dikirim kekantorny. Namun sejauh ini, belum dapat dilakukan tindakkan, karena pimpinan terus sibuk.

“Kami sudah menerima banyak informasi, namun karena pimpinan sibuk, sehingga belum ditindak lanjuti”, ujarnya sembari menyesalkan. (Gino/Amir/Dedy).

%d blogger menyukai ini: