25 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berani Lantang di Depan Soeharto, ini Profil Jenderal M Jusuf yang Ternyata Mantan Panglima TNI

Berita ini diberdayakan untuk surya.co.id


Kolase Tribun Jambi, Profil Jenderal M Jusuf yang Ternyata Mantan Panglima TNI

SURYA.co.id – Mungkin profil Jenderal TNI (Purn) M Jusuf sudah tak asing lagi di kalangan militer Indonesia karena sudah menduduki banyak posisi penting.

Dari profil Jenderal TNI (Purn) M Jusuf, keturunan bangsawan suku Bugis ini sempat menjadi panglima ABRI (sekarang TNI) pada masa pemerintahan Soeharto.

Dilihat dari profilnya yang tertulis di Wikipedia, Jenderal TNI (Purn) M Jusuf memiliki karier militer yang cukup gemilang

Dalam buku yang berjudul ‘Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto’ karya Prof Salim Haji Said, Ph, sosok M Jusuf makin fenomenal saat ia dikisahkan pernah berbicara lantang di depan Soeharto.

Tak hanya itu, ia juga berani menggebrak meja Soeharto saat di rumah keluarga cendana.


Jenderal M Jusuf dan Soeharto (Kolase Tribun Jambi dan Kompas.com)

Seperti apa profil Jenderal TNI (Purn) M Jusuf yang aksinya cukup fenomenal ini?

Dilansir dari Wikipedia, M Jusuf memiliki nama lengkap Andi Muhammad Jusuf Amir

Jenderal M Jusuf lahir di Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1928 dan meninggal dunia di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 8 September 2004

Jenderal M. Jusuf adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang sangat berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia.

Ia juga merupakan salah satu keturunan bangsawan dari suku Bugis, akan tetapi ia melepaskan gelar kebangsawanannya itu pada tahun 1957 dan tidak pernah menggunakannya lagi.

Dalam posisi pemerintahan ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan pada periode 1978 – 1983.

Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian pada periode 1964 – 1974 dan juga Ketua Badan Pemeriksa Keuangan periode 1983 – 1993.

Karier Militer

  • Perang Kemerdekaan di satuan Sulawesi (KRIS) di Yogyakarta
  • Ajudan Letkol Kahar Muzakkar di staf Komando Markas ALRI Pangkalan X di Yogyakarta
  • Kapten dalam Corps Pilisi Militer (CPM) (Desember 1949)
  • Anggota Staf Komisi militer untuk Indonesia Timur (Desember 1949–1950)
  • Ajudan Panglima TT-VII/TTIT Kolonel Alex Kawilarang (April 1950)
  • Kepala Staf Resimen Infanteri (RI)-24 di Manado (1953–1954)
  • Asisten II (Operasi) TT-VII/TTIT di Makassar (1955–1956)
  • Kepala Komando Reserve Umum (KRU) dgn pangkat Mayor (Oktober 1956)
  • Kepala Staf Resimen Hassanudin (RI-Hasanuddin) di Pare-pare Sulsel (ex KRU)
  • Menandatangani Naskah Piagam Permesta (no.24) (1 Maret 1957)
  • Pangkat Letkol (Februari 1958)
  • Kepala Staf Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) di Makassar (Februari 1959)
  • Panglima KDMSST (Oktober 1959)
  • Pangkat Kolonel (Juli 1960)
  • Panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar (1960–1964)
  • Menhankam/Panglima ABRI dalam Kabinet Pembangunan III (29 Maret 1978–19 Maret 1983)

Pendidikan

Umum

  • HIS di Watampone
  • MULO
  • SMA

Militer

  • Kursus Atase Militer
  • SSKAD (Sekolah Staf & Komando AD) sekarang Seskoad di Bandung (1952-1953)
  • US Army Infantry Officers Advanced Course di Fort Benning, Amerika Serikat 1955-1956
  • Kursus Lintas Udara / Airborne Course di Amerika Serikat
  • Kursus Singkat Khusus Angkatan IV
  • Seskoad 1969

Telah disebutkan diatas, sosok M Jusuf makin fenomenal saat dikisahkan pernah berkata lantang hingga menggebrak meja Soeharto

Prof Salim Haji Said menyebut dalam bukunya kalau popularitas Jenderal M Jusuf menyaingi Soeharto kala itu.


Soeharto dan Jenderal M Jusuf (IST/Tribun Jambi)

Kabarnya, hal ini membuat Soeharto sempat ‘cemburu’ melihat popularitas jenderal dari Bugis itu. Tak hanya dicintai prajuritnya, Jenderal M Jusuf juga dikenal tegas dan tak ada rasa takut.

Pada suatu waktu ada pertemuan di kediaman pribadi Presiden Soeharto, di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Pertemuan itu dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara.

“Adalah Mendagri (Jenderal Amir Mahmud) yang bicara pertama kali, (bahwa) dengan semakin populernya Jenderal Jusuf selaku Menhankam/Pangab, maka diduga ada ‘ambisi-ambisi’ tertentu Jenderal Jusuf yang perlu ditanyakan kepada yang bersangkutan.”

“Tiba-tiba, Jenderal Jusuf menggebrak meja dengan tangannya. Dengan suara lantang, dia berkata; Bohong! Itu tidak benar semua. Saya ini diminta untuk menjadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden.”

“Saya ini orang Bugis. Jadi, saya tak tahu arti kata kemanuggulangan yang bahasa Jawa itu. Tapi, saya laksanakan perintah itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa,” tulis Salim Said.

Gebrakan meja Jenderal M Jusuf mengejutkan semua yang hadir. Soeharto langsung membubarkan pertemuan yang baru beberapa menit berlangsung di kediaman pribadinya itu.


Profil Jenderal M Jusuf yang Ternyata Mantan Panglima TNI (Kolase Tribun Jambi)

Sejak itu, hubungan Jenderal M Jusuf dengan Soeharto dikabarkan mulai dingin. Jenderal M Jusuf jarang mengikuti sidang kabinet yang dipimpin Soeharto di Bina Graha.

Jenderal M Jusuf kemudian digeser oleh Soeharto menjadi Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Setelah itu, sang jenderal memilih pulang kampung ke Makassar dan mengurusi masalah agama.

Penulis : Putra Dewangga Candra Seta
Editor : Adrianus Adhi

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Berani Lantang di Depan Soeharto, ini Profil Jenderal M Jusuf yang Ternyata Mantan Panglima TNI, https://surabaya.tribunnews.com/2019/06/17/berani-lantang-di-depan-soeharto-ini-profil-jenderal-m-jusuf-yang-ternyata-mantan-panglima-tni?page=all.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi

%d blogger menyukai ini: