1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Sepatu Hak Tinggi Bukan Cuma Mengganggu Kesehatan Kaki

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Seorang perempuan dan sepatu high heels-nya. Shutterstock

KOMPAS.com – Bahaya pemakaian sepatu bertumit tinggi alias high heels memang bukan hal baru. Walau begitu, masih banyak profesi yang mewajibkan karyawatinya mengenakan sepatu jenis ini karena alasan penampilan.

Pekan lalu, para perempuan Jepang mengkampanyekan gerakan untuk melarang para pekerja dipaksa mematuhi aturan terkait alas kaki.

Kampanye #KuToo tersebut digaungkan sebagau respons terhadap para pemberi kerja di Jepang yang mewajibkan pekerja perempuannya menggunakan high heels.

Gerakan tersebut mendapatkan dukungan global. Banyak orang yang kemudian memprotes busana kerja yang dianggap tidak adil tersebut yang membuat para perempuan mengorbankan kesehatannya.

Dampak pemakaian sepatu berhak tinggi ternyata bukan cuma dirasakan oleh kaki.

Pakar Osteopati teregistrasi Tim Allerdyce mengatakan bahwa tipe sepatu tersebut bisa merusak kaki. Jika terlalu sering digunakan, bisa menimbulkan masalah mulai dari masalah jempol hingga tulang belakang.

“Masalah pertama adalah kemungkinan munculnya benjolan sakit pada bagian luar jempol kaki,” kata Tim.

Benjolan tersebut memberi tekanan pada bagian depan kaki dan tulangnya yang dapat menyebabkan penyimpangan pada area jempol kaki. Ini akan terlihat kurang bagus dan juga rasa sakit.

Masalah otot betis kencang juga bisa dialami jika bagian tumit kita terangkat. Kondisi tersebut bisa memperpendek otot betis.

“Tumit yang terangkat mungkin membuat penampilan bisa terlihat seperti rajin olahraga otot, tetapi ini bisa memperpendek otot sehingga memiliki dampak biomekanik pada kaki untuk jangka panjang,” katanya.

Penggunan sepatu hak tinggi secara rutin juga bisa memberi tekanan pada tulang tibia dan berpotensi memunculkan masalah seperti tibia terbelah atau sakit pada bagian tibia seperti yang lazim dialami pelari

Osteoartritis juga bisa terjadi. Osteoartitis sendiri merupakan kondisi dan penyebab umum dimana sendi pada kaki terasa kaku dan sakit.

Kapalan atau kulit menebal pada bagian depan dan bawah kaki juga menjadi risiko lainnya.

Tim menambahkan, meskipun kita tahu bahwa ada distribusi kekuatan melalui sendi pinggul ketika mengenakan sepatu hak tinggi, bukan berarti hal itu bisa menyebabkan masalah pinggul. Bahkan ketika sepatu hak tinggi menyebabkan tekanan pada area tersebut.

Untuk menghindari masalah pada pinggul, Tim menyarankan untuk mengistirahatkan kaki secara berkala.

“Batasi penggunaan sepatu hak tinggi, terutama pada waktu perjalanan pergi atau pulang. Apalagi jika kamu diwajibkan menggunakannya ketika bekerja,” kata Tim.

Dalam perjalanan (pergi dan pulang kerja) usahakan menggunakan sepatu tumit datar dan pakaian nyaman untuk membuat pinggul dan lutut tidak tegang. Jika masih merasakan sakit, lakukan peregangan betis.

Ada pula beberapa terapi rumahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa sakit tersebut, seperti berdiri di ujung pijakan dan membiarkan bagian tumit jatuh ke pijakan berikutnya, membuat kaki bisa teregang.

Setelah itu, cobalah memijat bagian alas kaki, misalnya menggunakan bola golf atau rolling pin. Pengobatan lainnya misalnya mandi air hangat dan bergerak, seperti menggambar lingkaran dan alfabet dengan kaki.

The Society of Chiropodists and Podiatrists juga menyatakan bahwa mengenakan sepatu hak tinggi dapat menyebabkan masalah kaki jangka panjang, seperti lecet, kapalan, sakit kaki, lutut dan punggung yang serius, hingga sendi yang rusak.

Ia menambahkan, memakai sepatu hak tinggi secara rutin memberi banyak tekanan pada sendi lutut dan juga dapat menyebabkan masalah punggung.

“Menggunakan sepatu hak tinggi seharusnya hanya menjadi pilihan, bukan kondisi wajib sebuah pekerjaan. Kode berpakaian harus didasarkan pada akal sehat, bukan kebijakan seksis yang ketinggalan zaman,” katanya.

Penulis: Nabilla Tashandra

Editor: Lusia Kus Anna

Sumber: metro.co.uk

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: