27 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menengok Turnamen Wali Kota CUP II, Budaya Buton Jadikan Rangkaiannya

Open Turnamen Futsal Wali Kota Cup II, meskipun sudah berlangsung kurang lebih 2 bulan lamanya. Namun banyak masyarakat yang masih menghendaki adanya turnamen dan iven itu.Pasalnya. selain menjadi ajang aduh teknik dalam memainkan bola juga menjadi tontona gratis bagi masyarakat.

Bagaimana kisahnya hingga masyarakat masih menghendaki turnamen itu.

Laporan : Nur Afni Talo-Talo.

  

Open Turnamen Footsal Wali Kota CUP II di Kota Baubau diwilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), belakangan ini, merupakan suatu ajang membagi prestasi bagi kemajuan olah raga di Kota Baubau itu.

Masyarakat kota baubau, mengucapkan tahniah dan juga tak sedikit warga kota masih menghedaki iven itu. Demikian dikatakan Kinipulu Lembaga Adat Kesultanan Buton DR (HC) LM Syarif pada media ini, ketika ditanyai sisi mamfaat Footsal di Baubau Selasa (9/1/2018).

Turnamen Footsal Wali Kota CUP II kata dia, sepatutnya dijadikan sebagai kalender iven Kota Baubau setiap tahunnya. Masyarakat Kota Baubau yang telah ketagihan menonton, menyaksikan laga para pemain, membuat hiburan dan totonan gratis.

Kedepan turnamen itu, pesertanya bukan saja dari wilayah Kota Baubau, melainkan juga diundang club-club Footsal dari berbagai penjuruh tanah air. Bukankah wilayah Kesultanan Buton itu cukup luas dimasa lampau…?.

LM Syarif juga menjelaskan, olah raga selain mempersatukan atlit, juga serta-merta mengenal budaya Buton. Bukankan Kota Baubau itu, pusat lembaga adat di Kesultanan Buton. Diperbanyak iven-iven agar turnamen footsal dari berbagai Kota itu, lebih dekat mengenal budaya Buton.

“Turnamen footsal, diutamakan sportivitas. Dan akan lebih menarik lagi, bilamana dirangkaikan dengan gelaran adat dan budaya Buton. Artinya, atlit bola memiliki manfaat ganda”, ujarnya.

Kinipulu (pejabat Lembaga Adat Kesultanan Buton), menjelaskan, panitia penyelenggara Footsal Wali kota Cup III kedepan, agar dapat menghubunginya. Karena olah raga itu, selain spotivitas yang menjadi kunci suksesnya kemenangan tim, juga tatanan dalam aturan itu, berkaitan erat dengan adat istiadat dan budaya.

Patut pula disyukuri antosiasme penonton Footsal, dan akan sangat berkesan bilamana disisi lapangan, ada gelaran adat budaya. Itu akan menambah semaraknya turnamen. Secara otomatis para pemain dan penoton, sekaligus mengenal budaya dan adat budaya Kesultanan Buton.

“Saya ucapkan terima kasih pada Wali Kota AS Tamrin sebagai penggagas Footsal. Sebagai Kinipulu di Lembaga Adat Kesultanan Buton, sangat bangga. Kedepan Turnamen itu bisa menggandeng Handy kraft warga local guna meningkatnya ekonomi masyarakat”, usulnya.

Yusuf  pengamat olah raga Footsal di Provinsi Sultra menyebutkan,benar usulan Kinipulu dari Lembaga Adat Kesultanan Buton itu, prestasi pemain footsal yang dibawah pulang hanyalah pengetahuan di olah raga, namun kalau dibarengi dengan pameran adat budaya, dua sisi keuntungan.

“Saya kagum usulan Kinipulu, pemain Footsal bukan saja prestasinya, melainkan juga akan mendapat pengetahuan adat istiadat dan budaya. Artinya peserta dan penonton mendapat dua sisi keuntungan”, katanya.

Pengamat ekonomi Kota Baubau, Drs LaOde Bel’abeto, mengatakan, Olah raga merupakan dua sisi keutungan. Pemain menghasilkan prestasi dan kesehatan prima. Implikasinya terhadap bakal alam pemuda-pemudi, disini juga akan terukur.

“Olah raga itu, merupakan dua sisi mata uang. Artinya, satu sisi mendapatkan prestasi dan ekonomi, kesehatan dan dipastikan terjamin. Pemuda kita akan terlihat yang memiliki bakat alam”, paparnya.

Menyikapi usul Kinipulu itu, ide brilian, harapannya Wali Kota AS Tamrin, sebagai pencetus turnamen itu, akan sangat singkron dengan nilai ekonomi Kota Baubau.

Kota Baubau sebagai wilayah pelabuhan di gunakan oleh 6 Kabupaten Kota itu, nilai perputaran ekonominya, menjadi sangat baik, karena pemain footsal menjadi tertunda kepulangannya, guna mengenal budaya Buton.

“Perputaran ekonomi itu, menjadi meningkat apabila olah raga dirangkaikan dengan pagelaran adat istiadat dan budaya Buton”, ungkapnya. (*****).

%d blogger menyukai ini: