25 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Wali Kota CUP II di Tutup, Saad Adi Karim Ucapkan Terima Kasih

Baubau-Timurmerdeka.com. Suksesnya Open Turnamen Footsal Wali Kota CUP II di Baubau, selain mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, juga diminta semua club agar meningkatkan prestasinya. Demikian dikatakan Ketua Panitia penyelenggara Saad Adi Karim kepada media ini di Lapangan Footsal Pasar Wameo Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Minggu (7/1/2018).

Menurutnya, Turnamen Footsal Wali Kota CUP II ini, telah terselenggara selama kurun waku, lebih kurang 2 bulan lamanya. Semua peserta turnamen club-club footsal di Kota Baubau, semakin menjalin silahturahmi dengan baik.

Dalam olahraga, memang ada yang menang dan kalah. Itu hal biasa. Dalam olah raga itu yang diutamakan selain sportivitas tinggi, juga kegigihan tim dalam mempertahankan itu, hingga bagaimana triknya untuk meraih kemenangan.

“Turnamen footsal ini, spotivitas yang diutamakan, guna mempertahankan diri, hingga merebut kemenangan. Kemampuan tim dalam bertanding masing-masing Tim, membangga saya. Terutama Hubungan antara club berjalan baik dan signifikan”, tuturnya.

Saad sapaan akrab ketua panitia penyelenggara menjelaskan, Turnamen Footsal Wali Kota CUP II di kota Baubau, merupakan iven dan momen yang ditungguh-tungguh oleh Footsal mania, dengan disatukannya seluruh club dalam turnamen ini, membuat para pihak puas dan bangga.

Selanjutnya, Saad memaparkan, Turnamen yang hanya sekali dilakukan dalam setahun ini, pihak panitia juga memberikan hadia hiburan pada penonton terbaik. Sesuai hasil penilaian panitia seleksi dari sekian ratus orang penonton, ada 3 orang terbaik, diberikan hadia hiburan berupa uang transporatsi, masing-masing Rp 200 ribu.

Adapun jumlah hadia dalam Turnamen Footsal itu, totalnya sebesar RP 40 juta. Patut disyukuri antosias penonton Footsal, sehingga para pihak yang bijaksana memberikan sumbangan hadia, dan menariknya terkumpul sumbangan itu, sebesar Rp 40 juta. Dan yang telah menyumbangkan dananya, mewakili semua panitia diucapkan terima kasih.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada donator pencinta olahraga Footsal. Sebagai panitia, semoga dihari depan Turnamen Footsal di daerah ini, bisa terus meningkat prestasinya”, katanya.

Saad mengingatkan bagi Juara I yakni, Club Stand Cahaya Syukur mengantongi hadia total sebesar Rp 14 Juta, Juara II Club Harapan Jaya, total hadia Rp 9 juta, Juara III dengan total hadia 7 Juta, dan favorit atau juara IV juga miliki total hadia Rp 5 Juta tersebut, agar terus melakukan latihan-latihan, guna menghadapi club-club lainnya.

“Juara I, Rp 14 Juta, Juara II Rp 9 Juta, Juara III, Rp 7 Juta, dan Juara favorit hadianya sebesar Rp 5 juta. Saya harap semua Club dapat mempertahankan prestasinya. Kedepan akan semakin kuat lawan-lawan tandingnya”, ulasnya.

3 orang Penonton terbaik mendapatkan hadia hiburan, yang diserahkan langsung oleh ketua panitia penyelenggara Saad Adi Karim, di lapangan Footsal Wameo Kota Baubau Minggu 7 Januari 2018. (Foto. Gino).

Yusuf  pengamat olah raga Foot Sal di Provinsi Sultra, menyebutkan prestasi para pemain footsal yang mengikuti Wali Kota Cup II ini, dapat dibanggakan, karena teknik dan manuvernya dalam memainkan bola, menyamai prestasi tingkat nasional.

“Saya kagum pada pemain Footsal di Baubau, dapat diandalkan prestasinya. Mentalnya pun patut ditiru. Demikian pula teknik olah gerak pemainnya, sama dengan pemain nasional”, katanya.

Mantan ketua Koni di Zaman Orda Baru Drs La Ode Makmuni, yang ditemui secara terpisah menjelaskan, di Kota Baubau ini, sangat banyak generasi pemain bola, termasuk permainan olah raga lainnya.

Cuman, yang perlu dibenahi adalah arenanya. Karena bilamana ada arenanya, itu pasti akan dilihat sejumlah putra-putra terbaik kita akan masuk pada kanca sepak bola nasional, mungkin saja hingga ke Internasional.

Menyinggung tentang permainan olah raga Footsal, permainan inikan, sama dengan gawang mini ditahun 90-an. Artinya, dalam iven Porda di Sultra ini, siapa yang tidak ngeri bilamana berhadapan dengan Buton (kini Kota Baubau).

“Saya katakan, bakat-bakal alam pemuda-pemudi Kota Baubau, tidak kalah dengan daerah lainnya di Indonesia. Cuman karena kurangnya sarana dan fasilitas, sehingga bakat alam itu, tidak nampak kepermukaan”, ulasnya. (Gin).

%d blogger menyukai ini: