29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menyikapi Lolosnya Pasangan Rusda-Sjafei, “Kuda Hitam”

Kendari-Timurmerdeka.com. Dengan didapatkannya legitimasi Surat Keputusan (SK) dari tiga Ketua umum DPP Demokrat, PPP, dan PKB, pasangan Bakal Calon (Balon) H Rusda Mahmud SE – Ir H La Ode Muhamad Sjafei Kahar MSi, di bursa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tenggara (Sultra), membuat pasangan gubernur bimbang. Pasalnya. Kedua figur ini, merupakan tokoh sentral di Sultra.

Karena itu, semua Balon Gubernur yang telah mendapat pintu dan legitimasi partai sesuai kuotanya, tentu saja akan pasang kuda-kuda. Demikian dikatakan pengamat politik Sultra La Ode Usman Baga BA SE, kepada media ini via ponsel Senin (8/1/12).

Menurutnya, kehadiran pasangan Rusda dan Sjafei ini, keduanya bukan pendatang baru dikanca perpolitikkan di wilayah sultra. Karena itu, semua pasangan, patut mawas diri, karena Rusda-Sjafei terkenal mantap dalam hal blusukkan kemasyarakat.

“Kedua pasangan ini, tidak boleh dipandang remeh. Karena selain profesional dalam memainkan peran juga terbilang “kuda hitam”, dalam politik wilayah Sultra”, tuturnya.

Selain itu tambah Usman Baga, sebagai mantan anggota legislative 3 periode, kedua pasangan itu, tidak bisa dipandang sebelah mata atau remeh. Keduanya memiliki basis masa yang ada diseluruh daerah di Sultra.

Seperti Rusda Mahmud misalnya, hampir semua wilayah Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Konawe sekitarnya, termasuk Kota Kendari memiliki basis masa yang sangat kuat.

Sebaliknya Sjafei Kahar, di wilayah pemekaran Buton besar, seperti Buton, Buton selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Wakatobi, Kota Baubau, dan juga di Kabupaten Muna serta Muna Barat memiliki kans yang luar biasa.

“Kedua tokoh ini, memliki basis masa yang kuat. Rusda kuat didaratan, sementara Sjafei sangat kuat di wilayah kepulauan Sultra”, ujarnya.

Menyikapi pasangan ini, sudah bisa dipastikan akan memiliki kans untuk memenangkan pertaruhan. Sehingga kalau tidak ingin babak belur, sebaiknya harus pasang kuda-kuda. Itupun kuda-kudanya tidak boleh goyang sedikit. Goyang sedikit akan disambar kekuatan Rusda-Sjafei.

“Saya berani menyebutkan, pasangan lain tidak boleh pasang kuda-kuda salah-salah, dan kalau goyang sedikit akan disambar pasangan Rusda-Sjafei’, Katanya.

Senada dengan itu, pengamat pers di Sultra Arfan Nasiru, menyebutkan, Rusda-Sjafei dengan mengantonginya urat Keputusan (SK) dari Ketua Umum DPP, masing-masing Partai Demokrat, PPP, dan PKB, dapat dipastikan kedua pasangan ini akan mendominasi masa disetiap Kabupaten dan Kota.

“Rusda dan Sjafei, diperdiksi akan mendominasi masa. Survei sebelumnya Rusda-Sjafei ini merupakan tertinggi dari seluruh bursa Pilgub Sultra. Nah, kalau sudah kantongi SK dari induk partai, tentu akan semakin banyak pendukungnya”, ujarnya.

Yang patut di hitung beber Arfan, kedua pasangan ini, adalah mantan Bupati masing-masing dua periode. Rusda 2 periode di Kabupaten Kolaka Utara, sementara Sjafei dua periode juga di Kabupaten Buton.

Selanjutnya anak kandung Sjafei yakni Agus sudah menjadi Bupati Buton Selatan. Kharisma seorang Bupati tentu akan mewarnai suksesi pilgub sultra.

“Rusda, dua periode jadi Bupati Kolaka Utara, Sjafei 2 periode di Kabupaten Buton. Keduanya tidak memiliki cacat hukum. Sementara yang lain-lainnya, tak jarang dikabarkan ada dugaan cacatnya di masyarakat”, bebernya.

Mengakhiri paparannya Arfan mengungkapkan, semua ini didalam politik Pilgub Sultra ada saja saja celah semua Balon, namun yang patut dilihat yang memiliki kans dan tidaknya itu kembali kepada kalangan wajib pilih.

Makanya “Jargon dan perangsangnya yang utama”. Artinya, bilamana ada kans, harus segera direbut jangan sampai kesambar pasangan lainnya.

Amatan media ini, diseluruh wilayah Sultra, ditemukan mayoritas wajib pilih, memperbincangkan berapa banyak “Ole-ole”, dan siapa yang banyak upetinya maka disitulah pihaknya.

Ironi memang, pemilih cerdas sesuai hasil berbagai lembaga survey menyebutkan ada 3 kategori. Yakni; Pertama pemilih cerdas, hitungannya hanya 12 persen. Kedua pemilih biasa harus ada ole-ole 76 persen. Ketiga, antara cerdas dan milih ole-ole sebesar 12 persen.

Itu artinya para balon harus cekatan memilah dari 3 kategori wajip pilih itu. Hal ini sesungguhnya bukan rahasia umum lagi.

Karena itu, semestinya yang dipertanyakan selama kurun pemilihan gubernur secara langsung, belum pernah terdengar, pihak Panwas atau Gakumdu menegakkan aturan yang sebenarnya. (Gin/Idw/Par).

%d blogger menyukai ini: