27 November 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kisah Munculnya Kembali Para Pemuda Gereja Berkaus “Aku Kancamu” Saat Shalat Id di Yogyakarta

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Beberapa kelompok pemuda gereja membantu kelancaran dan ketertiban kendaraan parkir selagi berlangsung Shalat Id di alun-alun Wates. Salah satu kelompok mengenakan kaos bertulis Aku Kancamu yang berarti aku temanmu. KOMPAS.com/DANI JULIUS

KULONPROGO, KOMPAS.com – Ribuan orang dari berbagai penjuru berbondong menuju lokasi shalat Id di alun-alun Kota Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (5/6/2019).

Mayoritas mereka berjalan kaki menuju alun-alun ini. Tidak sedikit pula di antara mereka berkendara motor maupun mobil sehingga lalu lintas sekeliling alun-alun memadat.

Beberapa pemuda maupun remaja tampak menonjol di antara lalu lalang ribuan orang ini. Pasalnya, kaus yang dipakai serba hitam dengan tulisan bahasa jawa “Aku Kancamu”. Dalam bahasa jawa, artinya “aku temanmu”.

Mereka tersebar di berbagai titik di alun-alun. Ada yang di sekitaran rumah jabatan bupati dan wakil bupati Kulon Progo, kantor Kodim Kulon Progo, hingga sekitaran kantor Pemkab.

Beberapa di antara mereka beraksi sambil memberi aba-aba untuk mengurai kepadatan pengendara, benerapa ada yang membantu memarkirkan kendaraan, merapikan motor yang sudah terparkir, bahkan beberapa membagikan selebaran berisi pesan kebajikan yang disampaikan dalam ShalatsId.

“Kami hadir di sini untuk membantu parkir dan membantu menertibkan kendaraan,” kata Martinus Dwi Anggara, salah satu ketua kelompok pemuda berkaus ‘Aku Kancamu’.

Martinus mengungkapkan bahwa mereka berasal dari Gereja Kristen Jawa yang lokasinya tidak jauh dari alun-alun.

Para pemuda yang masih sekolah, kuliah, dan tidak sedikit yang sudah bekerja ini berasal dari kelompok pemuda gereja yang biasa aktif dalam kegiatan Hari Besar Kristiani.

Pada hari besar umat Islam, mereka juga terpanggil untuk turut membantu, dengan rasa sukacita, dan tanpa keterpaksaan.

“Mereka bangun pagi sekali, kumpul di sini jam setengah enam untuk mulai aktivitas,” kata Martinus yang juga pendeta di GKJ Wates.

Menurut dia, ini bukan kali pertama. Pada Hari Raya Idul Fitri di 2018, mereka lakukan aksi serupa. Waktu itu mereka sudah mengenakan kostum sama “Aku Kancamu”. Kaus ini, lanjut Martinus, sebenarnya dibuat untuk kegiatan Natal di beberapa tahun lalu.

Tulisan Aku Kancamu dan gambar tangan saling berjabat dinilai penuh inspirasi sehingga dipilih untuk dipakai ketika turun ikut mengamankan shalat Id 2018 dan tahun ini.

Gambar pada kaus, lanjut Martinus, juga bisa menunjukkan tentang toleransi di antara manusia. Gambar berjabat tangan menunjukkan sebuah pertemanan yang meski berbeda agama tapi tidak ada perbedaan sebagai sesama manusia.

“Ini adalah solidaritas dalam menjalin komunikasi dengan saudara muslim. Kami sering bertanya apa yang bisa kami lakukan (di hari besar keagamaan). Menurut mereka, parkir dan menertibkan kendaraan, itu wujud kasih yang nyata,” kata Martinus.

“Kami sering dibantu”

Kelompok pemuda kristen ini tidak sendirian. Sekelompok pemuda dari Muda Mudi Katolik Gereja Katolik Santa Maria Bunda Penasihat Baik di Wates juga melakukan hal yang sama di sisi lain alun-alun sisi barat daya, tidak jauh dari gereja mereka.

Mereka juga bekerja mulai dari mengatur lalu lintas untuk mengurai kepadatan kendaraan, menjadi juru parkir, hingga merapikan kendaraan parkir.

Salah seorang di antara mereka Isnu Hardoyo, anggota Hubungan Bidang Kepercayaan dari gereja Katolik, mengungkapkan bahwa setidaknya ada 15 orang yang terlibat.

Isnu mengatakan, mereka datang untuk mewujudkan jalinan hubungan kekerabatan warga berbeda agama di Kulon Progo. Mereka ingin menunjukkan bahwa warga Kulonprogo saling membantu dan peduli, terutama saat hari besar keagamaan berlangsung.

Tidak sedikit pula, warga Muslim yang ikut membantu di lingkungan umat Katolik dalam banyak kegiatan keagamaan dan hari besarnya. Mereka juga melibatkan diri, seperti mengatur keamanan hingga parkir.

“Kami ini sering dibantu, baik oleh ormas muslim, seperti Banser. Inspirasi ini melahirkan niat serupa. Alangkah indahnya melakukan hal serupa,” kata Isnu.

Kelompok pemuda ini pertama kali terjun di Idul Adha kemarin. Kini, mereka mengulang kembali aksi yang sama. Bagi Isnu, ini penting bagi generasi muda saat ini.

“Mulai sekarang harus kita tanamkan pada generasi muda kita,” kata Isnu.

Menebar kebaikan

Ribuan orang sejatinya khusyuk menjalankan shalat Id di alun-alun Wates sejak pukul 07.00 WIB. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah memenuhi alun-alun sejak pukul 06.00 WIB.

Tampak dalam saf terdepan yakni Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo dan Sutedjo, serta sejumlah pejabat teras atas Pemkab. Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, bertindak sebagai imam dan khatib.

Dalam khotbahnya, Haedar mengajak seluruh umat muslim untuk memaknai bulan Syawal lebih dalam lagi. Haedar berpesan agar umat muslim lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu cara yang dapat dilakukan, lanjut Haedar, adalah menebar kebaikan yang didapat selama bulan Ramadhan.

“Ramadhan telah kita lalui dengan ibadah puasa dan beragam ibadah lainnya. Setelah itu, alangkah baiknya kita lebih mendekatkan diri pada Allah SWT,” kata Haedar.

Penulis: Kontributor Yogyakarta, Dani Julius Zebua

Editor: Caroline Damanik

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: