1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Waktu Indonesia Lebih Cepat 4 Jam, Mengapa Arab Saudi Hari Raya Lebih Awal? Begini Penjelasah Ahli

Berita ini diberdayakan untuk tribunnews.com


@ M ANSHAR, Ilustrasi gerhana bulan.

SERAMBINEWS.COM – Perbedaan waktu perayaan Idul Fitri 1440 H antara Arab Saudi dan negera-negara Teluk pada tahun 2019 ini, menimbulkan tanda tanya dari masyarakat Indonesia.

Pasalnya, perjalanan waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam dari Arab Saudi.

Misalnya, saat ini di Indonesia adalah hari Selasa (4/6/2019) pukul 15.00 WIB, maka di Saudi masih pukul 11.00 WIB.

Banyak orang kemudian menganggap bahwa hal ini menunjukkan waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam daripada Arab Saudi.

Tapi kenapa justru Arab Saudi duluan merayakan Idul Fitri, sementara kita di Indonesia harus menunggu besoknya?

Penjelasan-penjelasan tentang hal ini sebenarnya telah banyak disampaikan oleh para ulama dan pakar, di Aceh, Indonesia, hingga manca negara.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Muslim Ibrahim MA, dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu pernah menyampaikan bahwa perbedaan Idul Fitri, di mana Arab Saudi lebih duluan daripada Indonesia, salah satunya karena yang menjadi ukuran dari penetapan penanggalan dalam Islam adalah penampakan bulan (qamariah), bukan matahari (syamsyiah atau GMT).

Jadi, ketika pada malam tanggal 29 Ramadhan, ternyata bulan syawal tidak terlihat, maka puasa digenapkan menjadi 30 hari, meski kemudian bulannya terlihat pada malam.

Hal ini didasarkan kepada perintah Rasulullah dalam hadits Sahih yang berbuyi “Berpuasalah kalian karena melihatnya, berbukalah kalian karena melihatnya.”

Penjelasan Agus Mustofa

Penjelasan tentang duluan Idul Fitri di Arab Saudi ini juga disampaikan penulis puluhan buku serial Diskusi Tasawuf Modern, Agus Mustofa.

Pria yang akrap disapa Pak AM ini menjelaskan, menurut perhitungan ijtimak alias konjungsi, ‘habisnya bulan Ramadhan 1440 H’ terjadi pada Senin, 3 Juni 2019 pukul 10:02 GMT atau pukul 17:02 WIB, yakni sebelum datangnya Magrib, pukul 17:21 WIB.

Menurut Pak AM, bulan Ramadhan 1440 H sudah habis 19 menit sebelum Maghrib pada Senin 3 Juni 2019, dengan usia bulan Ramadhan tahun ini 29 hari.

Sedangkan sisanya, yang 19 menit itu adalah penggenapan. Sehingga bisa dikatakan, bulan Ramadhan 1440 H ini berusia 29 hari 19 menit.

Masalahnya, tulis Pak AM yang berlatar belakang pendidikan Teknik Nuklir Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini, ketinggian hilal yang hanya berusia 19 menit itu sangat tipis di atas horizon khususnya bagi pengamat yang ada di Indonesia bagian barat.

Ketika dirukyat saat Magrib, dengan peralatan secanggih apa pun, hilal pasti tidak kelihatan dari permukaan bumi wilayah Indonesia Barat.

Karena, akan tersilaukan oleh cahaya matahari yang sangat berimpit dengan bulan.

Bukan hanya bagi perukyat, bagi pelaku hisab hakiki pun ketinggian hilal yang berusia hanya 19 menit itu, juga tidak wujud ketika dilihat dari wilayah Indonesia bagian tengah.

Apalagi, dari Indonesia bagian timur. Karena, tertutup oleh lengkungan bumi.

Semakin ke timur, posisi hilal semakin jauh di bawah horizon.

Itulah sebabnya, meskipun di wilayah Indonesia barat posisi hilal sudah wujud di atas horizon, tetapi karena sedemikian tipisnya, sehingga tidak wujud di WITA dan WIT, maka Muhammadiyah pun memutuskan menggenapkan puasa Ramadhan 1440 H menjadi 30 hari.

Penjelasan Ustadz Ammi Nur Baits

Penjelasan lain tentang perbedaan atau duluannya Arab Saudi dan negara Teluk merayakan Idul Fitri 1440 H ini juga disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com).

“Ada yang bertanya, mengapa Saudi berhari raya lebih dulu, sementara Indonesia yang secara geografis lebih timur justru belakangan,” tulis Ustadz Ammi Nur Baits.

Ia pun memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Berikut penjelasannya.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, berikut penjelasan sederhana yang bisa kami berikan.

Tugas kaum muslimin adalah mencari hilal ketika tanggal 29. Selanjutnya ada 2 pendekatan dalam hal ini:

Pertama, Wujudul Hilal.

Jika saat matahari tenggelam d tanggal 29, hilal SUDAH ADA (wujud), maka besok berarti masuk tanggal 1. Jika Hilal belum wujud, berarti besok ditetapkan tanggal 30.

Kedua, Rukyatul Hilal

Jika saat matahari tenggelam d tanggal 29, hilal TERLIHAT, maka besok berarti masuk tanggal 1. Jika Hilal belum terlihat, berarti besok ditetapkan tanggal 30.

Berdasarkan hisab yang diterbitkan Muhammadiyah, pada saat matahari tenggelam di tanggal 29 Ramadhan, tinggi bulan -00 derajat 9 menit 22 detik (waktu Jogja).

Sementara menurut metode imkanur rukyah (mengukur kemungkinan terlihat hilal), hilal akan terlihat jika di ketinggian 2 derajat. Sehingga, jika hilal menurut perhitungan hisab belum wujud, kemungkinan untuk terlihat hampir tidak ada.

Lalu bagaimana hari raya di Saudi bisa lebih cepat?

Di Saudi, matahari tenggelam jam 18:44 waktu Saudi.

Sementara di Jakarta, matahari tenggelam 17:44.

Artinya, selisih rentang waktu shalat Saudi dengan Jakarta adalah 4 jam + 1 jam = 5 jam.

Sehingga, ketika di Jakarta sudah maghrib, 5 jam kemudian di Saudi baru maghrib.

Saat matahari tenggelam di Indonesia, Hilal belum wujud.

Sekitar 5 jam kemudian di Saudi, matahari baru tenggelam, sehingga bulan sudah semakin tinggi.

Di saat matahari tenggelam di Saudi, kemungkinan besar hilal terlihat sangat besar, karena jauh lebih tinggi dibandingkan saat maghrib di Indonesia.

Demikian, Allahu a’lam.

Penulis : Zainal Arifin M Nur
Editor : Zaenal
Sumber : Serambi Indonesia

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Waktu Indonesia Lebih Cepat 4 Jam, Mengapa Arab Saudi Hari Raya Lebih Awal? Begini Penjelasah Ahli, http://aceh.tribunnews.com/2019/06/04/waktu-indonesia-lebih-cepat-4-jam-mengapa-arab-saudi-hari-raya-lebih-awal-begini-penjelasah-ahli?page=all.
Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Zaenal

%d blogger menyukai ini: