25 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Hasil Tangkapan Anggota TNI-AL, Belum Terangkut Dari TKP

Buton Selatan-Timurmerdeka.com. Dalam tugas di Tentara Nasional Indonessia (TNI) maupun di Kepolisian Republik Indonesia (Polri), tidak kenal menyerah dalam tugas mengamankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tidak kecuali oknum perusak lingkungan. Demikian dikatakan Mayor Marinir Muhtar kepada media ini via ponselnya Jumat (5/1/2017).

Satu unit alat berat Traktor. Memudahkan manuver Illegal Loging kayu jati. Masyarakat lokal diyakini tidak cukup modal untuk miliki traktor. (Foto. Serda Sumaji).

Menurutnya, hasil tangkapan puluhan kayu jati dan 1 unit alat berat traktor masih tertinggal dihutan hingga saat ini. Karena itu, diminta pada pihak kepolisian agar dapat mengamankan BB tersebut.

Bebicara mengenai prestasi yang dalam tugas operasi papar Mayor TNI Muhtar, sebagai anggota TNI-AL memiliki semboyan; “Berhasil Tidak dipuji, mati tidak dicari”. Semboyan ini, selalu menggaung ditelinga seorang anggota korps Marinir Indonesia.

“Dalam bertugas seorang anggota TNI korps Marinir, tidak mengenal menyerah. Semboyan kami, Berhasil Tidak dipuji, mati tidak dicari. Semboyan ini melekat sejak awal memasuki pendidikan marinir”, ujarnya.

Dikatakan Mayor Muhtar, sebagaimana pengaduan pihak Lembaga Adat Kesultanan Buton, dalam suratnya bernomor; 06/Srt.P.It.S/LAKB/XI/2017, Perihal tentang adanya Illegal Loging Pengelolaan Jati Sampolawa dan ditujukan kepada Bupati Buton Selatan dan ditembuskan kepda 28 tembusan termasuk TNI-AL, pada tanggal 20 November 2017. Menyiratkan bahwa di lokasi itu sudah cukup parah situasi terutama lingkungan atau AMDALnya.

Dalam surat ditembuskan ke TNI-AL menyebutkan ada 3 poin inti. Pertama. Menjaga tidak terjadinya kerusakan lingkungan, akibat penebangan pohon secara illegal. Kedua. Mencegah tidak terjadi pengolahan dan penjualan jati Sapolawa secara bebas. Dan Ketiga. Peregistrasian Surat Keterangan Tanah (SKT) dan sterusnya.

“Surat Lembaga Adat Kesultanan Buton, agar semua pihak melakukan pencegahan llegal Loging. Kemudian disusul pengaduan. Dasar itu pihak TNI-AL, melakukan operasi”, katanya.

Mayor Marinir Muhtar, dan kedua anggotanya, Sertu Awi, dan Serda Sumaji, serta 5 orang tokoh masyarakat setempat, dalam melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 3 orang TSK pelaku Illegal loging ditemukan tanpa dokumen, selanjutnya diserahkan ke Polsek Sampolawa.

Dalam kajian pihak Pos TNI-AL, sebagimana dipaparkan pejabat Kesultanan Buton (Kinipulu), DR (HC) La Ode Muhamad Syarif, kata Muihtar, ratusan petugas yang bertugas yang lalu-lalang di wilayah sekitar lokasi hutan jati itu, namun hingga berita ini diangkat kepermukaan tanpa ada tindakkan hukum.

Mayor TNI Muhtar ketika di TKP penjarahan kayu jati Sampolawa. (Foto. Sertu Awi).

Mengenai Barang Bukti (BB) yang berhasil di sita pihak TNI-AL di Tempat Kejadian Perkara (TKP), itu, masing-masing; 50 Kubik Kayu Jati olahan, 1 Unit alat berat Traktor, dan 3 orang oknum illegal loging kayu jati.

“Selama kurun waktu satu tahun, jutaan pohon jati Sampolawa telah hansur. Lingkungan luar biasa rusaknya. Dan disayangkan, tidak satupun oknum illegal loging yang ditangkap dan diproses hukum”, ujar Muhtar meengakhiri komentarnya.

Sementara itu Lembaga Adat Kesultanan Buton, DR (HC) La Ode Muhammad Syarif, mengisahkan, Illegal Logging jati Sampolawa, diduga ada oknum yang membackingi. Pasalnya. Meskipun ada keputusan Moratorium bersama, lokasi itu adalah Status “Quo”, namun ada saja oknum yang melakukan penjarahan jati Sampolawa itu.

Bersyukur kepala Allah SWT, tambah LM Syarif, hadirnya 3 anggota Korps TNI-AL langsung melakukan penangkapan 3 orang oknum illegal loging asal Dusun Saumulewa Kelurahan Todombulu Kecamatan Sampolawa.

Dikatakan LM Syarif, menyikapi 3 anggota korps TNI-AL tersebut, Lembaga Adat Kesultanan Buton, mengusulkan kepada Panglima TNI, agar ketiga anggota TNI-AL itu, diberikan penghargaan berupa KPLB, karena kepedulian dalam tugasnya berhassil mencegah illegal loging dan kerusakan lingkungan hidup.

Kejahatan perusak lingkungan hidup itu, lebih kejam dari teroris. Karena teroris itu bisa dicegah dengan siaga dan deteksi dini. Namun kerusakan lingkungan sulit diprediksi, kapan akan terjadinya bencana alam.

“Naluri TNI ketiga anggota TNI-AL ini, dalam melakukan tindakkan represif menangkap 3 oknum illegal loging dan perusak lingkungan. Lembaga Adat Kesultanan Buton, sangat menghargainya. Hal ini saya nilai memiliki naluri pejuang, terutama dalam penegakkan hukum, terutama pencegahan kerusakkan lingkungan hidup”, ujarnya.

Ketika ditanya 3 TSK, mengaku diperintahkan La Salam sebagai pemodal dan bahkan meminjamkan mesin pemotong kayu jati (senso). Ironinya ditengah-tengah diproses oleh TNI-AL, oknum yang disebut-sebut sebagai backingnya Salam, dalam komunikasi via HP, malah mengancam anggota TNI. Hal ini disesalkan oleh banyak pihak.

Hal ini, bilamana semua petugas takut dengan ancaman perusakkan lingkungan ungkapan Syarif. Tentu saja negeri kita Indonesia yang kita cintai ini, akan rusak. Sebagai seorang pejabat Kinipulu di Lembaga Adat Kesultanan Buton, meminta kepada pemerintah untuk menindak oknum tersebut. (Gin/Nur ).

%d blogger menyukai ini: