21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Figur Walikota Baubau Dan Gubernur Sultra, Paling Baik Diantara Yang Baik

Banyaknya Baleho bakal Calon (Balon) Wali Kota Baubau dan Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) di dalam kota Baubau, merusak citra Kota Baubau, yang belum lama ini mendapat penghargaan kota sehat. Mungkinkah dengan pesta demokrasi, akan merusak julukan Kota Sehat…?. Nah, kalau memang tidak… kenapa tidak ditertibkan, dimana fungsi tugas panwas, dan KPUD….?.

Bagaimana kisah pesta demokrasi Pilkada Wali kota dan Gubernur Sultra di Kota Baubau.

Berikut Laporan:  Tim. Timur Merdeka.com di Sultra.

Dialam demokrasi dewasa ini, segala macam wejangan ditemukan dilapan. Salah satu bukti adalah dengan banyaknya baleho yang bertebaran disepanjang pesisir jalan raya di wilayah Provinsi Sultra, Tak ayal baleho-baleho itu, sudah banyak yang usang dan rusak. Itu memang syah-syah saja adanya. Hal yang dikuatirkan adalah pengguna jasa transportasi.

Karena itu pula, tak sedikit pengguna jalan terpaksa pulang dalam kondisi luka-luka, karena dijatuhi baleho para balon para kadindat. Demikian di temukan Tim Timurmerdeka.com diseluruh wilayah Sultra yang dirangkum media ini, kurun waktu 3 bulan ini.

Kisah dan kasih sejumlah masyarakat, sulit membedahkan manakah yang paling Baik diantara para kadindat. Karena sebagai masyarakat awam, sepatutnya memulai untuk memilah dan memilih diantara semua balon Wali Kota Baubau dan Balon Gubernur Sultra yang paling baik.

Masyarakat Kota Baubau, dan di wilayah Provinsi Sultra, secara kasat mata, amatannya sedang bingung yang mana satu, balon Walikota dan Gubernur sultra yang paling baik. Tetapi tidak boleh terlalu lama menentukan siapa yang akan didukung, pemilukada Wali Kota Baubau dan Gubernur tinggal menghitung hari saja.

Kota Baubau Baubau misalnya sedang giat-giatnya mencari calon pemimpinnya dipemilihan dua kepala daerah baik Wali Kota Baubau maupun Gubernur Sultra, periode 2018-2023. Karena itu dalam mencari pemimpin, tentu saja akan memilih yang paling baik, diantara yang sudah baik dalam konteks Pilkada.

Seleksi memang bukan perkara mudah, dan enteng. Mengapa…?. Takaran, “Nilai Paling Baik Dari Yang Sudah Baik”. Memang relative adalah sifatnya. Apa yang dinilai sudah baik, itu pasti ada yang paling baik, untuk diusung menjadi Walikota dan Gubernur kelak.

Ya, tergantung kondisi plus pendukung embel-embel jargon menjadi latarnya. Karena dalam kompetisi Pilkada Kota Baubau dan Gubernur, walaupun disadari, dipentas politik adalah sebuah keniscayaan yang bakal menghasilkannya. Dua pihak bergesekkan sebagai akibat dari konsekwensi logis dalam sebuah kompetisi.

Bagi pihak yang kalah, Ia akan meradang, dan pihak menang itu pasti tenang dan gembira tak terkira. Nah, buntut dari kekalahan pada gaung kompetisi proses pilkada kota dan gubernur nanti, itu bukannya, “Kiamat”. Disitulah para kandidat diuji, sportifitas mental sesuai  komitmen, “Siap Kalah dan Diap Menang”.

Sedangkan pada ujung bagi pemenang, itu bukan euvoria semata, melainkan bagaimana menyelaraskan antara euvoria suasana kemenangan, penuh rasa tanggung jawab sebagai pemenang, mengemban misi dalam memimpin warga Kota Baubau kurang lebih 200-an ribu, dan 2 juta lebih warga Sultra.

Kembali kesoal figur jadi Wali Kota Baubau dan Gubernur, siapa dia…?. Kita insafi, balon yang ikut bertarung dalam kompetisi politik. Harus diakui, para calon baik semua. Memang ada paling baik, itu pasti tidak jauh bedanya. Paling tidak, beda tipis, plus-minusnya, pasti mewarnai gaya hidupnya.

Dalam konteks itu, tentu warga Kota Baubau dan Sultra, sebagai wajib pilih, diminta harus cerdas menyelektif, memilah dan memilih, calon yang dianggap baik, Jangan salah pilih, sebab ini menyangkut nasib Kota Baubau dan Pemerintahan Provinsi pada rentan waktu, 5 tahun kedepan.

Bagi seseorang figur pada takaran politik, konteks pilkada Wali kota dan Gubernur, hasilnya bukan perkara benar atau salah, melainkan harus dianggap terbaik menurut kita, boleh jadi kurang baik bagi orang lain. Itu tergantung sisi pandang dalam memberi bobot dan bibit penilaian.

Kecerdasan memilah dan memilih tidak boleh dinomor duakan, plus satukan. Tapi, harus nomor satu harus, kendati itu disadari istilah pemilih cerdas hanyalah merupakan “Jargon politik, sebagai bahasa penyedap saja”. Tujuannya adalah menggalang dukungan para figur yang ikut berkompetisi.

Awam mengenal tentang soal figur yang paling baik, diantara yang sudah baik, biasanya dipandang dari sisi style atau gaya, kewibaan seseorang figur yang diusungnya. Namun, terkadang ada saja hal yang tak boleh dilupakan, sebagaimana substansi penilaian.

Itupun tak boleh hanya dilihat dari style kepimpinan. Substansi nilai seorang figur, dipengaruhi dengan rekam jejaknya, bagaimana kecerdasan, bagaimana pula perilaku hidup kesehariannya di tengah masyarakat.

Indikator tersebut, banyak orang cerdas yang mampu untuk memimpin, tetapi kerap tersandung dalam perkara korupsi demikian pula sebaliknya. Banyak orang jujur, tapi tidak bisa mejadi wali kota atau gubernur. Intinya, kecerdasan, kemampuan dan kejujuran lebih diutamakan untuk dipilih di konteks pilkada Baubau dan Pilgub Provinsi Sultra.

Kencenderungan politik terasa belakangan ini, suhu politik Kota Baubau dan wilayah Sultra jelang pilkada, memang terasa hangat. Karena masing-masing figur mengklaim, dirinya paling layak jadi Wali Kota Baubau dan Gubernur Sultra. Itu memang lumrah disebuah kompetisi. Namun perlu disadari, semua ini kembali pada masyarakat, menjadi obyek penentu kemenangan para figur Periode 2018-2023 mendatang.

Dampak sistemik dari aspek phisikologisnya berbentuk syndrome, rupanya telah merasuki jiwa wajib pilih dimasyarakat pada umumnya. Wajib pilih khususnya, terkadang melihat pengaruh gaya dan intrik lainnya. Bagi figur mempengaruhi calon pemilih memberikan dukungan pada proses pilkada.

Memang semua tahu, masing-masing figur sedang mencari celah dan peluang politik untuk menggalang dukungan, kencenderungan kearah itu sedang bergesek-gesek kemudian berkembang jadi sebuah gesekkan. Sehingga masyarakat menjadi bingung membedahkan mana yang paling baik.

Inilah yang tampak dipublik didalam gaung kompetisi politik dan proses pilkada di Kota Baubau dan Pilgub Provinsi Sultra.

Demikian halnya para politikus di Kota Baubau maupun di Provinsi, kian terasa panas saja, kalau sudah panas tentu saja akan berpotensi untuk terbakar. Dan kalau sudah terbakar tentu akan menjadi abu. Itulah merupakan takaran kualitas penilaian sebuah demokrasi politik di daerah ini.

Hal ini sangat bersinggungan perilaku para calon pemilih. Bagi yang tidak terpengaruh “Serangan Fajar”, nilainya berfariasi. Ya, ada yang bilang kisaran Rp 200-an ribu, ada yang menyebutkan lebih dari itu. Kita semua berharap jadilah pemilih cerdas, bermoral, bermatabat, demi suksesnya Pilkada Kota Baubau dan Pilgub Sultra. (Gino.SM).

%d blogger menyukai ini: