29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Petani Penyerobot Bekas Hutan Jati Sampolawa, Diduga Ada Beckingnya

Batauga-Timurmerdeka.com. Petani yang telah bercocok tanam dilokasi bekas jati itu, diduga ada membacking. Karena itu, sepantasnya ditindak lanjuti secara hukum oleh pihak yang berwajib. Demikian dikatakan Kinipulu (Pejabat Kesultanan Buton) LM Syarif, kepada media ini di Sampolawa Minggu (31/12/2017).

Menurutnya, para petani penyerobot ladang itu, selain telah menggarap lokasi bekas hutan jati itu secara illegal, juga melakukan pembakaran sisa-sisa kayu jati, sehingga bekas dan jejak jutaan pohon jati Sampolawa itu, menjadi hilang jejak termasuk anak-anak pohon jati.

Dari kiri-kekanan, Sertu Awi, Mayor Marinir Muhtar, LM Syarif (Pejabat Kesultanan Buton), dan Serda Sumaji. (Foto Gino)

“Para petani sudah menyerbu lokasi, bekas jutaan pohon jati, diduga ada oknum yang backing. Karena itu, diminta pihak yang berwajib agar mengusut, baik petani penggarap maupun backingnya”, tuturnya.

Selain itu tambah Kinipulu, masyarakat perambahan bekas lokasi hutan jati itu, menjadi semakin rumit untuk diatasi. Padahal, ada “Moratorium” sesuai hasil rapat gabungan seluruh pihak, tidak boleh ada aktivitas dilokasi itu.

“Moratorium, tidak boleh ada aktivitas apapun dilokasi bekas jutaan pohon jati sampolawa”, ujarnya.

Melihat situasi itu, LM Syarif, meminta semua pihak untuk menahan diri, karena lokasi itu akan ada pengaturannya, termasuk APL dari Kemenhut-RI, juga akan ditinjau ulang, sebagaimana surat yang telah dilayangkan pihak Lembaga adat Sampolawa, maupun Pemda Busel.

“Yang menyerbu lokasi itu, masyarakat Saumulewa Kelurahan Todombulu Kecamatan Sampolawa Kabupaten Busel”, ujar LM Syarif.

Mayor TNI-AL Muhtar, ketika dihubungi via ponselnya menyebutkan hancurnya jutaan pohon jati di Sampolawa itu, selain sangat disesalkan juga mengundang keprihatinan karena kedepan akan dampak lingkungan yang bakal membahaya nyawa dan kerugian harta benda di lokasi itu. Karena itu, bersama dua orang anggotanya spontan melakukan penangkapan kepada 3 orang oknum penjarah jati dan tidak memiliki bukti hukum kepemilikan.

“Saya terpaksa menangkap 3 oknum penjarah jati itu, karena menebang pohon jati tanpa memiliki izin dan dokumen secara resmi”, katanya.

Sementara itu, seorang petani penggarap lahan dihubungi media ini dilokasi, mengaku bernama La Musi, Ia menyebutkan bukan hanya dirinya yang menggarap, melain banyak orang. Buktinya semua bekas hutan jati itu, sudah dipenuhi rumah-rumah kebun, ungkapnya. (Gin/Mad).

%d blogger menyukai ini: