20 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Bekas Hutan Jati Sampolawa, Mulai diserobot Para Petani

Batauga-Timurmerdeka.com. Hamparan hutan jati yang luasnya sekitar 24 ribuan hektar itu, mulai dirambah dan diserobot para petani disekitar kawasan hutan itu. Karena itu, semakin kompleks masalahnya. Sehingga selayaknya Pemda Busel dan Pemerintah Provinsi Sultra harus melakukan penertiban. Demikian dikatakan Kinipulu (Pejabat Kesultanan Buton) LM Syarif, kepada media ini di Sampolawa Minggu (31/12/2017).

Menurutnya, dijadikannya ladang pertanian lokasi ribuan pohon jati Sampolawa itu, tentu saja akan semakin menambah masalahnya. Masyarakat petani yang terus giat melakukan pembakaran, dan penghancuran anak-anakan jati itu, akan menghilangkan barang bukti secara hukum, karena telah dijadikan perkebunanan.

“Para petani sudah menyerbu lokasi bekas pohon-pohon jati itu, untuk dijadikan perkebunan. Karena lokasinya sangat dekat dengan jalan raya. Sehingga masing-masing pihak mengklaimnya. Hal ini tentu akan semakin kompleks masalah dilokasi itu”, katanya.

Selain itu tambah Kinipulu, masyarakat yang melakukan kegiatan perkebunan dilokasi itu, akan menjadi rumit urusannya. Padahal, sudah ditetapkan “Moratorium” dalam rapat gabungan seluruh pihak, bahwa lokasi itu adalah Status Quo. Tidak boleh ada aktivitas di lokasi itu, karena masih dalam kondisi sengketa antara kampung dan dusun.

“Adanya Status Quo, dilokasi itu, tidak boleh ada aktivitas siapapun juga. Karena peruntukkan lokasi itu, masih dalam pembicaraan. Sehingga tidak boleh ada aktivitas disana”, ujarnya.

Melihat situasi itu ujar LM Syarif, diminta semua pihak untuk menahan diri, karena lokasi itu sesungguhnya yang memiliki sesuai ketentuan kesultanan Buton adalah Lembaga adat atau milik negara. Seperti warga Saumulewa, itu lokasi bukan miliknya. Yang berhak adalah orang-orang asli Sampolawa.

Orang Saumulewa itu, dari Gunung Bugi. Hanya karena adanya reseltemen diturunkan pemerintahan orde baru, maka masyarakat itu, bermukim didaerah itu, dan kini bernama Dusun Saumulewa Keluarahan Lapola Kecamatan Sampolawa.

“Yang menyerbu lokasi itu, kebanyakan orang Saumulewa. Padahal sesungguhnya mereka itu, bukan asli tanah perkebunannya. Yang miliki perkebunan disitu adalah orang-orang Sampolawa Asli”, kata LM Syarif.

Sementara itu, seorang petani dihubungi media ini di lokasi perkebunan baru digarapnya itu, mengaku bernama La Musi menyebutkan, bukan hanya dia merebut lokasi, orang Saumulewa membuat kebun disini. Karena pemerintah sudah membangun gedung Sekolah SMP Lapola saat ini.

“Bangunan SMP saja sudah dibangun pemerintah. Jadi lokasi ini, adalah benar berubah total fungsinya dari hutan jati menjadi Areal PenggunaanLain (APL)”, ujarnya.

Sumber lain dihubungi disekitar lokasi mengaku bernama La Madi, lahan ini sudah diperebutkan banyak pihak terutama petani, demikian pula La Wuraha alias La Ode Jamal juga sudah memiliki tanah perkebunan yang luas, bilamana ada ketentuan lain petani akan menungguh, ujarnya.

Pemerintah kecamatan Sampolawa yang dihubungi via ponselnya, Camat, hpnya tidak aktif, namun salah satu staf kecamatan Sampolawa menyebutkan, kondisi itu, sangat sulit diatur karena sebelumnya Camat saja perna dilempari batu sama pengolah lahan itu, ungkapnya.

Mendengar informasi tersebut, selayaknya semua pihak dapat menahan diri. Karena lokasi bekas hutan jati itu, selain sangat dekat dengan jalan raya, juga menjadi rebutan berbagai pihak. Karena itu, sangat diperlukan hadirnya pemerintah. (Gin/Mad).

%d blogger menyukai ini: