26 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Dampak Positif Operasi Illegal Fishing, Hasil Nelayan 3 x Lipat, Kapal Perang Penolong Nelayan

Operasi Illegal Fishing dilakukan pemerintah berdampak positif pada penghasilan tangkapan ikan tuna nelayan di tanah air.

Karena itu, nelayan mengharapkan operasi tersebut, jangan dihentikan terutama di tahun 2018 ini. Pasalnya. Operasi itu, cukup bagus semakin berkurang Illegal Fishing, namun tetap saja  ada, sesuai  informasi dari nelayan tuna.

Bagaimana kisah para nelayan terhadap operasi Illegal Fishing itu.

Berikut Laporannya: Gino Samsudin.

Gencarnya operasi Illegal Fishing digalakkan Presiden Jokowi, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP-RI), berdampak positif terhadap penghasilan nelayan tuna di Laut Banda dan Arafuru. Hal ini dikatakan Ketua kelompok nelayan tuna asal Desa Gerak Makmur (Lande) La Parmi ketika ditemui di Ambon, Jumat (29/12-2017).

Menurutnya, penenggelaman kapal Illegal itu, berdampak positif pada populasi ruaya ikan tuna diperairan Indonesia. Ikan tuna mulai terlihat bermain dikulit air, sehingga penghasilan nelayan meningkat 3 kali lipat dari sebelumnya.

“Operasi Illegal Fishing positif bagi nelayan. Penghasilan kami meningkat 3 kali lipat. Padahal sebelumnya kami hanya bisa tangkap tuna paling banyak 5 ekor, namun saat ini, rata-rata diatas 5 ekor perharinya”, tutur La Parmin.

La Parmin, meminta operasi illegal fishing harus terus dilanjutkan terutama TNI AL. Karena masih ada saja kapal illegal fishing itu. Namun jumlahnya makin berkurang. Yang harus ditertibkan adalah buyer (pembeli) daging  tuna, harga dimainkan para tengkulak penimbang.

Mengingat pembeli ikan tuna yang begini murah belakangan ini, sepantasnya ditertibkan pemerintah, karena tuna yang dipancing nelayan bukan sedikit modalnya dan juga tidak gampang menarik 1 ekor ikan tuna. “Sabung nyawa” di lautan, ombak ganas, jaraknya pun cukup  jauh sekitar 20 mil dari bibir pantai.

“Saya minta pada pemerintah, agar dapat mengawasi penjualan daging ikan tuna (Loin), harganya dipermainkan. Padahal sebelumnya tuna Loin Rp 60.000/kilogram, namun belakangan ini menurun hingga kini Rp 40.000/kg. Padahal BBM tidak turun harganya”, ujarnya.

Hasil Meningkat Tajam, TNI-AL Penolong Nelayan.  Meningkatnya hasil tangkapan nelayan tuna, semestinya dibarengi penertiban para pembeli (buyer) ikan tuna. Baik itu di Maluku-Irian, maupun di Pulau Buton. Harga perkilogram dipermainkan. Demikian pula, alat timbang, banyak yang tidak benar harapannya  di “Tera atau diukur ulang oleh petugas”.

“Alat Timbangan para Buyer, harus di Tera atau diukur keasliannya. Karena banyak yang tidak benar. Hal inilah yang kami cukup resah belakangan ini”, ujar Pamrin.

La Mahudi nelayan Lande, mengisahkan kapal-kapal tuna asal Taiwan, sulit disaingi dengan alat tangkap nelayan Indonesia. Taiwan modern, mampu mendeteksi dimana lokasi tuna. Sementara kita mendapatkan ikan mengikuti arah burung kemana terbangnya.

“Alat pancing Taiwan dan asing lainnya, moderen menarik tali pancing gunakan mesin. Demikian pula Ikan tuna didapatnya besar-besar, 2 jam saja puluhan dan ratusan ekor mereka peroleh. Kita menarik tuna 2 Jam, itupun hanya satu ekor saja”, ujar Mahudi.

La Sawali juga nelayan asal La Kaliba Kecamatan Lapandewa, banyaknya ikan tuna pasca operasi ini, selain nelayan tuna bangga dengan petugas Angkatan Laut, juga ternyata angkatan laut kita itu penyayang nelayan. Hal ini disebutkannya karena belum lama ini, dibantu Angkatan Laut.

Sawali mengisahkan, asyiknya ia memancing tuna, tidak menyadari BBM solar persediannya habis. Dalam kondisi pasrah pada Illahi, tiba-tiba melihat kapal perang. Ia memberanikan diri membuka baju putihnya, berdiri putar-putar melambaikan, hanya dalam hitungan menit kapal perang itu, merapat menolongnya.

“Saya terlalu asyik mancing ikan tuna, lupa BBM kapalku habis. Saya beranikan diri melambai kapal perang yang kebetulan melintas di Lautan Banda. Hitungan menit kapal perang itu tiba disampingku, membantu saya, memberikan BBM 100 liter”, ujarnya.

Ketika ditanya apa nama kapal perang penolongnya, Sawali lupa nama kapalnya. Dan yang paling membanggakannya, TNI-AL ketika ditawarkan ikan tuna, enggan mengambilnya dan mengatakan persedian makanan TNI-AL cukup.

“Saya bangga dengan TNI-AL, mereka membantu kami, meskipun saya mau barter ikan dengan BBM, mereka enggan ambil, bahkan saya pun dikasih Nasi, beras dan obat-obatan”, ungkapnya.

Mengenang kisah nelayan tuna diperairan Indonesia, selain bangga meningkatnya populasi ikan tuna diperairan saat ini, meskipun tantangan ganasnya ombak, mereka tidak gentar. Karena itu, sebaiknya bantuan Asuransi nelayan itu, dialihkan untuk ketahanan kapal-kapal nelayan.

Demikian pula pihak TNI-AL yang selalu setia menjaga kedaulatan Laut NKRI, harus diberikan subsidi BBM oleh pemerintah, karena banyak kisah para nelayan dibantu BBM, beras, makanan dan obat-obatan oleh TNI-AL ditengah lautan. (*****).

%d blogger menyukai ini: