24 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cerita Kapolres Jakpus soal “Ustaz, Tolong Kami…”

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Oleh : Fadjar Hadi


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Kapolres Kombes Harry Kurniawan Foto: Anggi /kumparan

Kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, menyisakan berbagai macam peristiwa, mulai dari kisah haru hingga peristiwa heroik.

Salah satu peristiwa yang paling mencolok adalah momen ketika Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Harry Kurniawan, meminta bantuan kepada seorang ustaz yang hadir di lokasi untuk menenangkan massa.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Harry Kurniawan saat mengecek Pos Polisi di Jalan Sabang yang dibakar massa. Foto: Fadjar Hadi/kumparan

Tak ayal, insiden itu membuat masyarakat memuji tindakan Harry. Dua hari setelah kejadian, ditemui dalam sela-sela pengamanan di Gedung Bawaslu, Harry menceritakan alasan ia meminta bantuan ustaz setempat. Harry menyebut tindakannya itu merupakan aksi spontan.

“Ya, kalau kita , polisi itu ada (prosedur tetap)-nya, tetapi ada juga kita dalam pelaksanaan tugas menggunakan hati nurani kita, kita menyentuh dari aspek ataupun sisi karena polisi sekarang itu ‘kan salah satunya mengedepankan aspek humanis. Walaupun kita sebagai komandan mempunyai sifat pemutus, keputusan, di sisi lain kita harus mementingkan kepentingan yang lebih besar lagi,” kata Harry, Jumat (24/5).


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Kapolres Jakpus memeluk anggota TNI usai Kericuhan di depan Kantor Bawaslu. Foto: Soejono Ebenezer/kumparan

Harry menjelaskan, dalam menjabat Kapolres, ia harus bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat meskipun dalam keadaan terdesak. Dengan membaca suasana, Harry menilai, bantuan ustaz yang juga merupakan koordinator lapangan massa dapat meredam kerusuhan.

“Saya akan lihat siapa kelompoknya dalam kelompok mayoritas, seperti kemarin ada yang , yang mayoritas kemarin ‘kan tokohnya tokoh muslim, saya juga orang muslim ‘oh, ada kelompok yang besar’, bahwa salah satunya ulama, ustaz, habaib, itu yang sama seperti polisi yang dituakan di sini ada Kapolres,” tegas Harry.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Sejumlah massa Aksi 22 Mei terlibat kericuhan di depan gedung Bawaslu, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

“Makanya saya menyebutkan, saya Kapolres Metro Jakarta Pusat, berserta Dandim itu orang-orang yang dituakan. Kelompok masing-masing mereka pun seperti itu dengan kita menyebut seperti itu, saya yakin dan saya berikan jaminan mereka pasti akan menurut kelompoknya,” lanjut Harry.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Sejumlah anggota kepolisian berjaga di arah Tanah Abang. Foto: Iqbal Firdaus/kumpaan

Upaya Harry meminta bantuan kepada ustaz membuahkan hasil. Terbukti, setelah itu, massa mulai bergerak mundur sehingga polisi dapat segera mendinginkan suasana.

“Makanya perilaku orang-orang yang enggak menurut , , itu berarti orang yang berniat itu untuk mencederai situasi yang kemarin damai. Akhirnya mereka terpisahkan dengan yang memang tidak ikut mereka musuhnya itu kita tangkap, gitu,” tutur Harry.

Meski begitu, Harry mengaku tidak begitu kenal dengan sosok ustaz yang ia minta untuk menenangkan suasana. Namun ia selalu berupaya untuk mendekatkan diri dan mengenal kepada tokoh-tokoh setempat.

“Saya di sini baru dua bulan, dua bulan ini saya berkomunikasi dengan beberapa di lapangan. Secara pribadi saya eng kenal, tapi saya suka menyapa saat kegiatan begini, saya sapa mudah-mudahan dari itu beliau-beliau ‘oh lah pernah bersalaman’ dengan kita sering ketemu di lapangan,” pungkas Harry.

%d blogger menyukai ini: