22 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Dampak Illegal Fishing, Hasil Nelayan Meningkat 3 Kali Lipat, Ikan Tuna Bermain Gencar di Kulit Air

Ambon-Timur Merdeka.com. Gencarnya operasi Illegal Fishing digalakkan Presiden Jokowi, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP-RI), berdampak positif terhadap penghasilan nelayan tuna di Laut Banda dan Arafuru. Hal ini dikatakan Ketua kelompok nelayan tuna asal Desa Gerak Makmur (Lande) La Parmi di Ambon, Jumat (29/12-2017).

Pasca Operasi Illegal Fishing. Lokasi Pemancingan ikan tuna begitu ramai bermain dikulit air, lokasi tepatnya diseputaran Sangia Lonto-Lonto Pulau Bulan.(Foto Gino.SM)

Menurutnya, penenggelaman kapal-kapal Illegal Fishing tersebut, besar pengaruhnya terhadap perkembangan ikan tuna diperairan, penghasilan pemancing tuna meningkat 3 kali lipat dari sebelumnya.

“Operasi Illegal Fishing berdampak positif terhadap nelayan tuna. Penghasilan kami meningkat hingga 3 kali lipat. Sebelumnya kami menangkap tuna paling banyak 5 ekor setiap hari, namun saat ini, rata-rata diatas 5 ekor”, tutur La Parmin.

La Parmin, menyikapi operasi illegal fishing, hendaknya operasi itu terus dilanjutkan, dan berharap adanya penertiban pembeli ikan tuna, terutama harga tuna jangan dimainkan. Karena, tuna ditangkap bukan segampang membalikkan telapak tangan, melainkan “Sabung nyawa” dilautan dengan ombaknya yang ganas. Demikian pula jaraknya dengan daratan paling dekat 20 mil.

“Saya minta kepada pemerintah agar dapat mengawasi harga penjualan daging ikan tuna (Loin), supaya jangan dipermainkan. Sebelumnya tuna Loin perkilogram Rp 60.000, namun belakangan ini turun harganya menjadi Rp 40.000”, ujar Parmin.

Menyinggung situasi dilautan, pasca gencarnya operasi Illegal Fishing, ikan tuna mendidih atau bermain dikulit air cukup banyak saat ini. Hanya saja ikan tuna yang bermain dikulit air itu, masih jauh dengan daratan.

“Ikan tuna sebelum operasi illegal fishing, kita tidak pernah melihat tuna mendidih, atau bermain dikulit air. Namun saat ini terlihat cukup jelas, meskipun lokasinya bermainnya masih jauh dengan daratan”, ungkapnya.

Hasil Nelayan Meningkat Tajam. Meningkatnya hasil tangkapan nelayan, semestinya harus dibarengi dengan penertiban para pembeli (buyer) ikan tuna, baik di Maluku-Irian, maupun di Pulau Buton. Harga perkilogramnya tergolong masih rendah dan dipermainkan kalangan tengkulak. Demikian pula, timbangannya tidak benar.

“Tangkapan ikan tuna saat ini, meningkat hingga 3 kali lipat dari sebelumnya. Cuma yang kami resahkan adalah para tengkulak pembeli ikan tuna, harga naik turun. Demikian pula, alat timbangnya tidak layak (Rusak) untuk dipakai”, ujar Pamrin.

La Mahudi nelayan asal Lande, mengisahkan kapal-kapal tuna asal negara asing, sulit disaingi alat tangkapnya modern, dan dapat mendeteksi dimana lokasi itu tuna. Ketika ditanya, kalangan Illegal Fishing berasal dari negara mana saja…?. Mahudi, menyebutkan kebayakan asal negaranya dari Taiwan dan Vietnam.

“Alat pancing kapal asing itu, moderen, mereka menarik tali pancing dengan menggunakan mesin. Demikian pula Ikan tuna yang didapat besar-besar, dalam hitungan 2 jam saja mereka bekerja selesai. Sementara nelayan kita menarik tuna untuk satu ekor memakan waktu 2 Jam lamanya”, ungkapnya. (Gin/Tar).

%d blogger menyukai ini: