21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kota Baubau Diuntungkan Masyarakat Busel, Perlu Solusi

Baubau-Timurmerdeka.com. Masyarakat Kota Baubau telah lama diuntungkan secara ekonomi oleh masyarakat pedagang asal Kabupaten Buton Selatan (Busel). Hampir 2000-an orang Busel berbelanja di Baubau setiap harinya, tak terkecuali hari minggu. Karena itu, sepantasnya pemerintah Busel, mencari solusi. Demikian dikatakan pedagang Kecamatan Sampolawa Wangaja, kepada media ini, Jumat, (30/12-2017).

Menurutnya, pedagang barang enceran di Sampolawa, Lapandewa, Kadatua, Siompu, Batauga dan Batu atas, begitu barang dagangannya habis, tidak ada alasan tidak belanja di Baubau. Dan tak jarang terpaksa harus tidur di Kota Baubau karena barang belanjanya banyak.

Ketika ditanya berapa banyak belanja dalam sepekan, Wangaja menjelaskan, paling sedikit Rp 10 juta. Padahal kalangan pedagang enceran seperti dirinya jumlahnya diatas 200-an orang yang dating berbelanja di Kota baubau setiap harinya.

“Sebagai seorang pedagang barang kelontong di Pasar Sampolawa paling lama 1 minggu, kami turun belanja di Baubau. Sementara uang yang dibelanjakan paling sedikit Rp 10 Juta-an, padahal yang datang belanja seperti saya cukup banyak”, tuturnya.

Senada dengan itu La Bando asal Lapandewa, perkembangan ekonomi di Busel, sejak dimekarkan menjadi kabupaten, perputaran ekonomi menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Setiap kali belanja di Baubau paling sedikit Rp 10 juta dalam pekan. Karena itu pemerintah Busel sepatutnya memikirkan solusinya.

“Saya La Bando, pedagang di pasar Lapandewa 20-an tahun lamanya. Paling sedikit berbelanja Rp 10 juta, dalam sepekan. Karena itu, sepantasnya pemerintah Busel memberikan solusinya. Kenapa harus belanja di Baubau, kalau ada yang dekat”, katanya.

Sopir angkutan antar kota La Udin mengatakan, banyaknya warga Busel yang belanja di Baubau, membuat sopir meraih keuntungan, karena mengangkut banyak barang para pedagang. Bahkan, Ia telah beberapa kali ditilang Polisi Lalu lintas, karena muatannya berlebihan.

“Saya kewalahan mengangkut barang pedagang, tiada henti meskipun hari minggu. Penumpang saya rata-rata pedagang enceran. Bahkan telah beberapa kali ditilang Polantas, karena mengangkut banyak barang penumpangnya”, ujar Udin.

Melihat kondisi moda transportasi, sepantasnya Pemda Busel memikirkan hal tersebut, karena dalam perjalanan melewati banyak resiko, jalan rusak berat. Selain itu, belanja di Kota Baubau, menguntungkan retribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Baubau.  Pertanyaannya “Sulitkah solusinya Pak Bupati…?”. (Gin/Nur).

%d blogger menyukai ini: