28 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

UNTUK RENUNGAN DI BULAN RAMADHAN PENUH BERKAH

Kiriman via WA oleh : Eddy Boekoesoe

Editor : Taufiqurrahman Nasiru.

Bagus untuk dibaca dan direnungkan.

Bismillah… Kisah Nyata: Indahnya Cinta Sesama Mukmin Karena Allah. Ini kisah nyata yang dialami Ustadz Uyad Albantani (Uy).

Sekitar tahun 2014, beliau mendapat undangan ceramah keluar kota, berangkatlah beliau dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta dengan taksi. Sepanjang perjalanan beliau ngobrol dengan supir taksi (ST);

Uy: “Ngomong-ngomong udah berapa lama nyupir taksi, pak?”

ST: “Owh belum lama pak, baru beberapa bulan saja”.

Uy: “Ooh gitu, emang sebelumnya kerja dimana?”.

ST: “Dulu sempat kerja di perusahaan perkapalan di Surabaya pak. Kebetulan dulu pernah ambil Tehnik Mesin di ITS, trus perusahaannya bangkrut jadi saya kena PHK. Lama nganggur di Surabaya akhirnya saya putuskan pindah ke Jakarta.”

Uy: “Wah, sayang sekali ya… Ngomong-ngomong anak sudah berapa?”.

ST: “Alhamdulillah sudah 4 pak, yang besar malah udah mau tamat SMA”.

Uy: “Oh gitu…? Kalo boleh tau, narik taksi sehari – bersih bisa dapet berapa sih…?”.

ST: “Yaa Alhamdulillah pak, kalo di rata-rata sehari bisa dapet Rp 75.000, Kalo lagi rame bisa sampe Rp 150.000,- dan gak tentu jugalah pak”.

Uy: “Oh ya… Tapi sebelumnya mohon maaf nih, emang segitu cukup buat anak istri?”.

ST: “Yaa… Insya Allah cukup pak dari pada gak ada sama sekali”.

Uy: “Masyaa Allah, kok bisa cukup ya pak. Ini di Jakarta lho?”.

ST: “Ya, kalo dihitung-hitung sih gak cukup pak. Tapi sekarang saya merasa lebih tenang pak. Alhamdulillah sekarang kerja bisa sambil ngurus masjid. Alhamdulillah juga, saya masih bisa rutin sedekah 10% dari hasil naksi (saya infakkan ke masjid)”.

Uy: “Ya Allah, jadi uang segitu masih dipotong lagi buat sedekah? (seraya bergumam, air mata ustadz menetes haru)”.

ST: “Iya pak, mumpung Allah lagi ngasih kesempatan saya bersedekah. Dulu waktu masih jaya, boro-boro saya mau sedekah pak. Makanya habis apa yang saya miliki. Saya bersyukur kali sekarang bisa dekat sama Allah”.

Mobil memasuki portal menuju terminal 1B Soetta, argo menunjukkan Rp 115.000,- lalu ustadz Uyad bayar Rp 150.000,-.

Karena rasa haru biru yang teramat haru dan mendalam dari cerita ST tadi, Uy keluarkan lagi uang sebanyak Rp 2.000.000,- lalu diberikannya ke bapak ST seraya berkata ; “Ini buat anak istri dirumah ya, salam buat keluarga”. Uy kemudian beranjak keluar dari mobil.

Mendapat perlakukan demikian, dengan tergesa-gesa ST keluar dari mobilnya lalu setengah berlari menyusul menjajari langkah Uy.

ST; “Masyaa Allah pak, ini kebanyakan” sambil menyodorkan kembali uang yang diberikan tadi.

Uy: “Oo…h gak paa pa. Kebetulan saya lagi ada titipan rezeki dari Allah dan saya mau sedekah sama orang yang Ahli Sedekah seperti anda. Senang ketemu sama bapak, tolong jangan dikembalikan. Berilah kesempatan Allah mencatat sebuah Amal Jariyah buat saya”.

Dengan mata berkaca-kaca, ST menerima uang tersebut sambil memeluk Uy. Mereka berpisah dan suasana haru itu pun berlalu.

Sebagaimana detik yang lari meninggalkan waktu, pada tahun 2016 di suatu malam. Ustadz Uyad bersilaturahmi dengan teman-temannya di lobby hotel JW. Mariot. Ketika sedang asyik ngobrol, datang office boy (OB) menghampirinya sambil menyerahkan sebuah amplop.

Uy: “Apa ini?”

OB; “Tak tau pak, Saya disuruh sama bapak-bapak diluar tadi. Itu titipan dari dia pesannya, supaya diserahkan ke bapak”.

Uy: “Bapak yang mana?”

OB: “Wah, saya juga gak kenal pak. Orangnya diluar sana pak”.

Melihat kejadian itu, salah satu teman Ustadz Uyad yang berdinas di Kepolisian memberi saran untuk segera membuka amplop tersebut. Yang ternyata berisi uang US $ 2.000.

Rasa heran dan terkejut bercampur baur, mendalam, menggoda hati dan pikiran Ustadz Uyad yang berujung dan muncul rasa penasaran serta curiga. Sambil bergumam (jangan-jangan uang ini diberikan sebagai jebakan), Ustadz Uyad berlari keluar hotel dan meninggalkan temannya di lobby.

Uy: “Mana bapak yang ngasih amplop ini?” tanya Ustadz Uyad pada OB yang menjajari langkahnya berlari.

OB; “Itu pak, bapak itu masih diluar”.

Dengan salto berulang kali, Ustadz Uyad mendekati, menghampiri dan menemukan bapak yang ditunjuk OB.

Uy; “Pak, maaf yaa… Bapak yang ngasih amplop ini, apa maksudnya? Bapak siapa?” Nada suaranya agak meninggi karena takut dikena dan menerima jebakan dari seseorang.

ST; “Iya, saya pak. Saya memang udah lama mencari bapak, saya supir taksi yang pernah nganterin bapak dulu ke bandara. Masa bapak lupa?”

Uy; “Waduh maaf pak, mana saya inget. Saya sering naek taksi” jawab Ustadz Uyad sekenanya dalam penasaran.

ST; “Saya supir taksi yang 2 tahun dulu, pernah bapak kasih uang Rp 2.000.000,- di Bandara Soeta”.

Uy; “Masyaa Alla…h. Maaf pak, saya bener-bener gak inget”.

ST; “Saya yang pernah anter bapak dari Lebak Bulus ke terminal 1B, pas bapak mau ke Bangka Belitung”.

Samar-samar Ustadz Uyad mulai teringat kejadian 2 tahun yang lalu.

ST; “Terus terang pak, saat itu saya memang sedang membutuhkan uang sebanyak itu untuk bayar kontrakan yang jatuh tempo. Hari itu juga sama saya harus bayar sekolah anak saya. Dan saya tidak tau lagi kemana harus saya cari uang sebanyak itu”.

“Jadi ketika bapak kasih Rp 2.000.000 waktu itu, selain saya kaget – Saya sampe nangis setelah Kita berpisah. Dan Saya berterima kasih sekali sama bapak”.

Uy: “Masyaa Allah pak, maafkan saya. Saya baru ingat, lagian itu kejadian 2 tahun yang lampau. Trus, ini kenapa kok bapak ngasih sebanyak ini?”.

ST; “Saya cuma ingin berterima kasih saja sama bapak, Alhamdulillah pak sekarang saya sudah bekerja di perusahaan konsultan teknik untuk proyek-proyek”.

Uy; “Masyaa Allah pak, ya udah pak saya terima tapi ini kebanyakan”. Tangan terjulur sambil bermaksud menyerahkan amplop itu kembali, namun ditolak ST.

ST; “Maaf pak, tolong diterima pak. Jangan dikembalikan, berilah kesempatan Allah mencatat sebuah Amal Jariyah buat saya“.

Pelukan rasa cinta dan air mata mengiringi haru biru pertemuan kembali dua hamba yang saling mencintai karena Allah.

Pengalaman (narasi) diatas sangat inspiratif, semoga bermanfaat buat orang lain. Aamiinn…!? Dan terima kasih kepada Ustadz Uyad yang telah memberikan izin kepada saya untuk menuliskan kembali kisah nyata [email protected]

Allah berfiman: Barang siapa membawa Amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat Amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)… (QS. Al An’am : 160).
.
Sekarang anda mempunyai Dua pilihan:

  1. Biarkan Tulisan ini berada di page ini supaya orang lain tidak membaca.
  2. Menyebarkan ke Teman yang lain dengan klik ‘Bagikan’ supaya orang lain ikut terinpirasi dan Inysaallah mendapat pahala.
    .
    Silahkan Di Share Ya… Semoga yang Klik Suka dan Share Akan ditambahkan Rezekinya dan diangkat penyakitnya. Aamiinn….!!?
    .
    Ya Allah…

😊✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
😊✔ Lapangkanlah hatinya
😊✔ Bahagiakanlah keluarganya
😊✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
😊✔ Mudahkan segala urusannya
😊✔ Kabulkan cita-citanya
😊✔ Jauhkan dari segala Musibah
😊✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah,Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
😊✔ Dan semoga yg me-LIKE, komen Aamiin dan membagikan status ini rezekinya berlimpah aamiin..
.
Boleh di SHARE sebanyak mungkin.

%d blogger menyukai ini: