27 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Nggedabrus-Anak Kencur, Saling Sindir Elite Gerindra-PD

Berita ini diberdayakan untuk detik.com

Oleh : Elza Astari Retaduari


Foto: Arief Poyuono. (dok. pribadi).

Jakarta – Pernyataan Waketum Gerindra Arief Poyuono yang ‘mengusir’ Partai Demokrat (PD) dari koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus meruncing. Poyuono terus menyerang Demokrat yang berang.

Ketua DPP PD Jansen Sitindaon memberi perumpamaan terhadap sikap Poyuono. Menurutunya, Poyuono memiliki sifat nggedabrus alias banyak berbicara yang isinya kosong.

“Kalau pakai istilah Suroboyoan, Jawa Timuran, karena aku lama kuliah di sana, Arief Poyouno itu manusia jenis nggedabrus, banyak bicaranya tapi omong kosong,” ungkap Jansen kepada wartawan, Sabtu (11/5/2019).

Baca juga: PD: Poyuono Cari Saja Setan Gundul Angka Halu 62% Kemenangan Prabowo

Jansen menyebut Poyuono tidak dianggap di lingkup internal Gerindra sendiri. Karena itu, ia meminta Poyuono tidak mengatur-atur posisi Demokrat di Koalisi Adil dan Makmur.

“Jangankan di koalisi yang banyak partai, di internal Gerindra saja suara Arief Poyuono itu tidak didengar. Jadi saran kami, jangan terlalu banyak bicara terkait sikap Demokrat. Tidak ada hak Poyuono ngatur-ngatur Demokrat, orang ngatur Gerindra aja nggak bisa, nggak didengar. Ini kok sok ngatur-ngatur Demokrat,” tutur Jansen.

Demokrat kesal karena dituduh Poyuono tak berkontribusi menaikkan suara Prabowo-Sandiaga. Menurut Jansen, justru Poyuono-lah yang membuat suara pasangan nomor urut 02 itu turun. Jansen, yang merupakan salah satu juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, merasa justru Demokrat yang lebih banyak berkontribusi menaikkan suara dibanding Poyuono.

“Harusnya Poyuono berkaca karena Poyuono yang buat suara Prabowo turun. Setiap dia muncul itu suara Prabowo turun. Muka Poyuono itu yang turunkan suara Prabowo, muka Jansen Demokrat menaikkan suara Prabowo. Jadi jangan amnesia Poyuono itu. Ketimbang nggedabrus banyak bicara ngurus-ngurusi Demokrat, lebih baik dia ngurus-ngurusi setan gundul yang ngasih data 62% ke Prabowo itu,” tuturnya.


Foto: Jansen Sitindaon (Dok Pribadi)

“Poyuono itu yang harus ditanya ngapain dia 7 bulan ini, ngapain dia. Nggak ngerti posisi dia apa di BPN. Aku nggak pernah lihat dia di rapat BPN. Aku kan di BPN. Makanya nggedabrus dia itu, banyak bicara tapi kosong. Kok ngatur-ngatur Demokrat,” lanjut Jansen.

Demokrat memang mengkritik klaim kemenangan 62% yang disampaikan Prabowo. Menurut partai pimpinan Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, tak mungkin Prabowo memperoleh kemenangan hingga mencapai angka tersebut. PD menyebut pihak yang memberi data angka 62% kepada Prabowo itu sebagai setan gundul karena menyesatkan.

Makanya Poyuono suruh ngurusin angka yang halu itu, yang 62%. Jangan-jangan sudah halu juga itu Poyuono. Jadi mending Poyuono jadi pencari setan gundul di internal Prabowo pemberi angka 62% halu, ketimbang dia keluar-keluar ngurusin Demokrat,” tegas dia.

Demokrat pun meminta Gerindra mendisiplinkan Poyuono. “Kami sebagai sesama teman koalisi juga menyarankan kepada Gerindra untuk mengingatkan orang semiring Poyuono ini, biar nggak kampungan gitu,” imbuh Jansen.

Arief Poyuono menanggapi singkat pernyataan Jansen. Ia lalu berbicara soal kader Demokrat yang masih belum dewasa dalam berpolitik.

“Biar aja. Ngomongin saya nggedabrus, tahu apa anak-anak kencur di perpolitikan Indonesia tuh kader-kader Demokrat?” ungkap Arief Poyuono.

Pernyataan Poyuono sendiri dipicu dari sikap Demokrat yang mengkritik klaim kemenangan Prabowo di Pilpres 2019. Demokrat menyebut pihak yang memberi data Prabowo menang 62% kepada Prabowo sebagai setan gundul.

Baca juga: Disebut Nggedabrus, Arief Poyuono: Tahu Apa Kader Demokrat Anak Kencur?

Poyuono pun kembali ‘mengusir’ Demokrat untuk keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Ia juga kembali menyerang SBY yang diperumpamakan seperti undur-undur.

“Yang pasti monggo aja keluar dari Koalisi Adil Makmur. Gampang kok daripada Ketum dan kadernya jadi serangga undur-undur,” kata Poyuono.

Soal permintaan Demokrat agar Poyuono ditertibkan mendapat tanggapan dari Mahkamah Partai Gerindra. Rupanya, Poyuono sudah diklarifikasi meski masih bersifat informal.


Foto: Sufmi Dasco Ahmad. (Dok Pribadi).

“Iya (sudah ditanya). Baru disampaikan saja dan ditanyakan kok statement-nya begitu. Apa yang disampaikan Arief itu adalah respons yang spontan karena menanggapi pernyataan salah satu kader Demokrat. Jadi spontanitas dan karena menanggapi kader Demokrat yang mengeluarkan pernyataan yang menurut dia perlu ditanggapi,” papar Anggota Mahkamah Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.

Waketum Gerindra ini menyebut pihaknya belum akan fokus pada kontroversi pernyataan Poyuono itu. Sebab, kata Dasco, Gerindra masih memprioritaskan penyelesaian urusan pilpres.

“Kita sekarang sedang sibuk menghadapi pilpres. Mungkin nanti setelah pilpres kita akan klarifikasi. Akan kita bahas sesudah Lebaran. Tentunya dengan menggunakan prinsip kehati-hatian,” sebutnya.(elz/fdn)

%d blogger menyukai ini: