31 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Saling Caci PD Vs Kivlan: Licik, Setan, hingga Mayjen Kunyuk

Round-Up

Berita ini diberdayakan untuk detik.com

Tim detikcom – detikNews


Kivlan Zen (Eva Safitri/detikcom)

Jakarta – Kivlan Zen dan Partai Demokrat (PD) terlibat saling caci. Diksi licik, setan, hingga Mayjen Kunyuk dipakai untuk menyerang.

Adalah Wasekjen PD Andi Arief yang memulai perang dengan memakai frasa setan gundul. Andi saat itu tak menyerang langsung Kivlan Zen, namun pensiunan TNI itu membalas Andi.

Bagaimana saling caci PD versus Kivlan Zen? Dirangkum detikcom, Jumat (10/5/2019), berikut ini perang kata antara PD dan Kivlan selengkapnya:

1. Setan Gundul

Andi Arief, melalui cuitannya, menuliskan soal setan gundul. Dia mengatakan setan gundul itu memberikan masukan kepada Prabowo, yang menurut dia sesat.

“Dalam Koalisi Adil Makmur, ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya, muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi, dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen,” kata Andi Arief dalam Twitter resminya, Senin (6/5/2019). Cuitan Andi ini dibagikannya kepada sejumlah wartawan.

Andi menegaskan Partai Demokrat hanya ingin melanjutkan koalisi dengan partai-partai politik pengusung Prabowo-Sandiaga dan rakyat, bukan setan gundul. Jika setan gundul masih hadir, Andi mengancam Demokrat bakal memilih jalan sendiri.

Kivlan Zen tidak terima. Menurutnya, yang setan gundul adalah Andi Arief.

“Ya yang setan gundul itu dia yang setan gundul, Andi Arief setan gundul, dia yang setan. Masa kita dibilang setan gundul,” ujar Kivlan kepada wartawan saat demo di Bawaslu RI, Jl Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019).

2. Licik

Selain membalas Andi Arief soal setan gundul, Kivlan Zen menyasar Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Menurut Kivlan, SBY licik.

Apa dasar Kivlan sehingga berani memakai diksi licik untuk menyerang SBY? Kivlan menuding SBY tak ingin Prabowo Subianto jadi capres.

“Orang Partai Demokrat nggak jelas kelaminnya, SBY nggak jelas kelaminnya, dia mau mencopot Prabowo supaya jangan jadi calon presiden dengan gayanya segala macam cara,” ucap Kivlan.

Kivlan mengaku sangat memahami sifat mantan muridnya itu, yakni SBY. Bahkan SBY, menurutnya, terbilang licik.

“Dia saya tahu sifatnya mereka ini saling bersaing antara Prabowo dan SBY. Dia tak ingin ada jenderal lain yang jadi presiden, dia ingin dirinya sendiri dan dia orangnya licik. Sampaikan saja bahwa SBY licik. Dia junior saya, saya yang mendidik dia, saya tahu dia orangnya licik, dia mendukung 01 waktu menang di tahun 2014,” jelasnya.

Partai Demokrat tak terima. Ketua DPP PD Jansen Sitindaon meminta Kivlan berkaca karena SBY punya lebih banyak bintang di korps TNI.

“Coba Kivlan apalah, berkaca lagi ke dirinyalah. SBY itu nggak pernah jadi muridnya Kivlan Zen. Kivlan Zen tidak lebih pintar dari SBY. Kalau sudah lebih pintar, Kivlan itu sudah jadi presiden dia, bintangnya sudah 4,” ujar Jansen.

3. Mayjen Kunyuk

Elite PD lain membela SBY dari serangan Kivlan. Wasekjen PD Rachland Nashidik mengutip pernyataan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) soal Mayjen Kunyuk.

“Kata Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Kivlan Zen itu ‘Mayjen Kunyuk’. Mungkin karena dinilai liar dan biang onar,” kata Rachland kepada wartawan, Jumat (10/5/2019).

Karena itu, Rachland enggan menanggapi serius ucapan Kivlan yang menyebut SBY licik. Sebab, menurut dia, Kivlan sebagai ‘kunyuk’ tak pantas menilai SBY, yang merupakan Presiden ke-6 RI.

“Masa kunyuk mau menilai manusia, Presiden ke-6 RI pula, yang jauh melebihinya dalam hal apa pun?” katanya.

“Tidak usah ditanggapi serius. Tidak pantas dan tidak penting. Cuma sebangsa kunyuk yang mau dengar,” imbuh Rachland.

Pengacara Kivlan, Eggi Sudjana, mengatakan pernyataan itu merupakan serangan terhadap personal.

“Yang mendasar kan semua orang kalau mengerti perilaku politiknya SBY itu kan sudah bisa menduga apa benar nggak yang disebut Kivlan. Jadi jangan serangnya itu jangan serang personal, apalagi jenderal kunyuk. Itu nggak ilmiah, nggak intelektual,” kata Eggi.(gbr/imk)

%d blogger menyukai ini: