21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kapal Ilegal Fishing Masih Ada, Kapal Perang Penolong Nelayan

Buton Selatan-Timur Merdeka.com. Kehadiran operasi Illegal Fishing, membanggakan para nelayan, terutama nelayan ikan tuna. Pasalnya. Sebelum adanya penenggelaman kapal pencuri ikan (Illegal Fishing), nelayan diseputaran Laut Arafuru, Banda, sering kali berebut lokasi tangkapan. Menariknya, nelayan sering mendapat bantuan dari Kapal Perang KRI Sampit dan KRI Kris. Demikian dikatakan nelayan asal Lande La Nudi kepada media ini di Lande pada Kamis (28/12).

Menurut La Nudi, nelayan teluk Lande, melaut menangkap ikan bukan saja diperairan Sulawesi Tenggara, melainkan di laut Kawasan Timur Indonesia (KTI). Selama kurun waktu 3 tahun ini, Illegal fishing di Indonesia berkurang terutama di Laut Banda dan Arafuru. Hasil nelayan meningkat tajam. Padahal sebelumnya paling banyak Rp 10 jutaan perbulan, kini meningkat menjadi Rp 20-an juta keatas perbulan.

Akan tetapi tamba Nudi, masih ada saja Illegal Fishing diperairan, namu bukan lagi siang hari, melainkan dimalam hari. Peralatannya Canggih dengan menggunakan lampu ditenggelamkan kedalam air, melayang-layang dibawah permukaan laut, dan warnapun biru kehijau-hijauan.

Operasi penangkapan ikan tuna, alatnya berupa rawai atau rawe (bahasa lokal Cia-cia), mata kailnya diatas 1000-an jumlahnya. Dan siang hari kapal-kapal itu keluar lintas batas perairan Indonesia, menjelang malam melepas rawainya. Subuh Pukul 02.00-03.00 WIT, menarik rawainya selanjutnya kabur keluar lintas batas wilayah indonesia.

“Kapal Illegal Fishing itu masih ada, namun beroperasi dikala malam. Melepas rawai ikan tuna menjelang senja, gunakan lampu bawah laut.  Pukul 02 – 03.00 WIT, menarik rawai dan kabur ke laut negara tetangga, Papua New Guine, dan Australia”, tuturnya.

Sebagai nelayan tuna yang kenyang pengalaman dua puluh tahun lamanya, beberapa kali berjumpa dengan kapal illegal pada dimalam hari. Rawainya melilit di baling-baling kapal, terpaksa rawai dipotongnya. Namun membawa rejeki, ketika rawai ditariknya 3 ekor ikan tuna sirip biru, dengan berat rata-rata 200 kg perekornya.

“Kapal saya tiba-tiba mati, begitu di cek baling-baling ada rawai ikan tuna menggulung, ketika saya buka, ada 3 ekor tuna. Rawainya bagus miliki lampu. Namun karena kami takut pemiliknya, kami hanya mengambil 3 ekor saja ikan tuna”, katanya.

Kejadian yang sama dialami La Tara, perjalanan pulang ke Teluk Lande dari Pulau Misol, tepatnya. Diantara Pulau Banda dan Seram, ketika di buka rawai yang melilit di baling-baling, ada 5 ekor tuna, sirip biru dan kuning, beratnya 220 kg/ekornya, hanya saja tidak terlihat dimana pemiliknya.

“Kapal saya memiliki 2 mesin, tiba-tiba mati, tergulung rawai ikan tuna. saya dan teman membuka dan menarik rawenya, saya mendapat 5 ekor tuna. Hasilnya Rp 20-an juta, saya jual di Ambon”, ujarnya.

Mendengar kisah 2 orang nelayan tersebut, tokoh nelayan di Desa Bahari Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan, La Jamuiya, mengungkapkan, Illegal Fishing meskipun sudah ditertibkan, namun tetap ada hanya jumlahnya sudah tidak banyak lagi.

“Gencarnya operasi Illegal Fishing dilakukan angkatan laut, nelayan sangat bangga terutama adanya kapal perang, kami nyaman dilautan. KRI Sampit misalnya, beberapa bulan lalu, tepatnya Agustus, kami mendekat dan menawarkan ikan, namun mereka enggan ambil. Malah kami diberikan beras dan minyak solar dengan Cuma-cuma”, ujar La Tara sembari bangga dan mengakhiri komentar. (Gin/Tar).

%d blogger menyukai ini: