30 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menelusuri Kontruksi Kapal Bantuan KKP-RI di Busel, Nelayan Tuna Protes

Kebijakkan Pemerintahan Ir H Joko Widodo, melalui Kementerian Kelautan Perikanan Republik Indonesia (KKP-RI) tentang pemberian bantuan kapal-kapal tangkap ikan tuna pada nelayan, dinilai “Kontruksi dan modelnya tidak layak pakai”, banyak nelayan protes, terutama di Lande maupun diseluruh nusantara.

Kapal-kapal tersebut yang telah diserahkan pada nelayan, terpaksa direhap secara total. Pasalnya. Model seperti itu, tidak bisa bermanuver dengan baik diombak lautan lepas. Demikian pula dengan ukurannya tidak akan mampu mengarungi ganasnya ombak di area penangkapan (Cathing area) ikan tuna.

Bagaimana kisah para nelayan tentang kapal Bantuan itu…?.

Berikut: Laporan : Gino Samsudin. (Buton Selatan).

Kebijakkan KKP-RI, melalui berbagai Pemda di Indonesia, tentang pemberian bantuan kapal-kapal ikan tuna untuk nelayan, semestinya bukan kontraktor yang mengerjakannya. Kontrator hanya mengerjar keuntungan, sementara nelayan mengerjakan ketangguhan dan ketahanan agar mampu melawan ganasnya ombak di lautan lepas. Hal ini dikatakan tokoh masyarakat nelayan Kabupaten Busel, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), La Pena kepada media ini di Lande Selasa (26/12).

Menurutnya, kontruksi kapal-kapal fibre glass bantuan KKP-RI yang di Nakhodai Ibu Susi, melalui berbagai Pemda termasuk Pemda Busel selama ini, semuanya tidak layak pakai. Selain kontruk sinya asal jadi, ketebalan, gading dan bodynya sangat tipis. Sehingga untuk mengejar ikan tuna di laut lepas, dikuatirkan akan tenggelam.

“Saya minta KKP-RI, untuk pembuatan kontruksi kapal, jangan kontraktor yang kerjakan, kami nelayan yang mengerjakkan. KKP-RI atau Pemda cukup mengawasi, memberikan bahan baku, seperti Mat 450, Rovin 600, talak, Talak, catalis dan minyak fibre glass saja. Artinya diminta robah kebijakkan yang ada selama ini”, tuturnya.

Lapena juga menyampaikan, Kapal bantuan sebelumnya, selain bertentangan dengan keinginan nelayan, kontruksi ketebalan fibre glass sangat tipis, panjang dan lebarnya tidak sesuai. Bagi nelayan yang pengalaman, meihat kapal bantuan itu, hanya bisa untuk melaut di laut dangkal dan dekat dengan bibir pantai saja.

Pengerjaan kapal apalagi fibre glass bagi nelayan, di Desa Gerak Makmur (Lande) Kecamatan Sampolawa Busel, di ibaratkan sama dengan membuat seorang anak bayi perempuan. Bilamana dibuat, harus dengan cara-cara yang sesuai aturannya. Dan bila aturan disesuaikan, maka kapal itu, mengarungi samudera memiliki hasil yang mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh keluarganya.

“Kontruksi kapal Fibre glass yang dikerjakan nelayan Lande, ketebalan paling sedikit 12 lapis, Rovin sepsis 600 dan Mat 450, itu nyaris seimbang. Demikian pula Catalis (atau pengeringnya), itu tidak boleh berlebihan, sesuai takaran. Kalau berlebihan catalis, memang cepat kering, namun hasilnya membahayakan, karena garing tinggal menunggu waktu akan retak-retak”, katanya.

Senada dengan itu, spesialis pembuat kapal fibre glass Lande, La Ode Adji menjelaskan, kapal baik terbuat dari kayu atau fibre glass, kalau dilihat dengan kasat mata, itu mudah saja pengerjaannya, namun bagi orang Lande, pembuatan kapal kontruksi hingga lapisan fibre glasnya harus sama dengan kontruksi tubuh manusia. Artinya ada aturannya.

Metode dan prosesnya, adalah konsultasi antara suami-istri sebagai pemilik kapal. Tidak boleh cecok, apalagi bertengkar, sebelum dan menjelang pengerjakan kapal itu harus puasa… Pengalaman nelayan Lande tersebut dapat dibuktikan, pada tingkat kemapaman ekonomi masyarakat didaerah ini. Demikian pula, area penangkapan ikannya, di Kupang, Papua, Maluku dan sekitaran perbatasan Australi dan Timur Leste.

“Kapal bagi orang Lande, sama dengan kontruksi tubuh manusia. Dalam kita mengawali membuat  kapalnya, sama dengan membuat seorang anak bayi perempuan. Dia harus cantik, disukai bayak orang, mendapatkan pemuda yang bertanggung jawab, dan sebagainya. Kemudian ditekankan selama pengerjaan kapal suami-istri, tidak boleh cecok, “Puasa”, ujarnya.

La Ode Adji sapaan ahli pembuat kapal kayu dan fibre glass di Teluk Lande, menambahkan, kapal bantuan dari pemerintah selama ini, dapat dibilang merugikan nelayan. Karena begitu diserahkan harus di rehab berat kapalnya. Ketebalan bodynya di tambah 3-5 lapis lagi, supaya ketika berhadapan dengan ombak tidak diragukan.

La Adji bukannya menggurui, atau tanpa alasan, dia pernah mengalaminya, tenggelam diperairan Pulau Batu Atas, berjuang berenang ditengah ganasnya ombak dengan menggunakan cergen selama 2 hari 3 malam. Syukur Alhamdulillah  diselamatkan nelayan Wakatobi.

Mengingat kisah itu, Ia berkisah dan meneteskan air mata, mengungkapkan, nelayan ikan tuna, hasilnya memang cukup menjajikan. Tetapi ketika mendapat kecelakaan di Laut lepas, siapa yang akan tolong…?. Kedepan bilamana ada lagi kapal bantuan harus dilengkapi dengan Radio Coliing, supaya mudah berkomunikasi dan mudah memberikan informasi padanelayan lainnya.

“Mebuat kapal bagi masyarakat Cia-Cia, dan Orang Bajau, sama dengan membuat seorang anak gadis. Artinya, kalau 3 orang anak kita, menjadi 4 orang dengan kapal kita. Kepada KKP-RI dan Pemda Busel, kita harapkan bantuan kapal sebaiknya di serahkan saja bahan bakunya kepada nelayan, nanti nelayan yang mengerjakan”, ujarnya.

Senasib dengan La Ode Adji, mengaku bernama La Basri bin La Masi, Dia tenggelam dilaut sekitaran 12 Mil laut dari bibir pantai Pulau Kabaena, Ia terombang-ambil selama 7 hari 7 malam. Bersyukur nelayan asal Sinjai menolongnya.

Mendengar ungkapan tersebut, Nelayan mengusulkan perubahan kebijakkan KKP-RI, bukan kontraktor yang kerjakan, serahkan bahan bakunya kepada nelayan. Pemerintah KKP-RI, maupun Pemda setempat cukup mengawasinya.

Mengingat banyaknya nelayan yang telah mengalamai kecelakaan, bukan La Ode Adji dan La Basri, melainkan sudah 20 – orang Lande yang hilang dilaut. Bahkan bangkai kapalnya saja tidak ditemukan, meskipun telah berhari-hari dilakukan pencaharian.

“Saya hanyut dan terombang ambing selama 7 hari 7 malam dengan menggunakan dua buah cergen. Syukur Alhamdulillah saya diselamatkan nelayan Sinjai dalam keadaan lemas, waktu itu sudah dekat dengan daratan Sinjai. Padahal diawal kecelakaan itu, diseputaran antara pulau Batuatas dan Kabaena”, kisah Basri.

Menengok kisah para nelayan, diharapkan program bantuan KKP-RI dan berbagai Pemda di Indonesia tersebut sudah sepatutnya kebijakkan itu ditinjau ulang. Demikian pula dengan Asuransi pada nelayan tuna, sebaiknya ditinjau ulang. Artinya, apa guna asuransi, bilamana kapal bantuan KKP-RI itu, memberikan beban kepada nelayan, seperti tenggelam dilautan lepas. (*****).

%d blogger menyukai ini: