30 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Mengamati Meningkatnya Penderita HIV/AIDS Di Provinsi Sultra, “Status Darurat” di Kota Baubau

360 orang korban penyakit Human Immunodeficiecy Virus (HIV) dan Acquiered  Immune Deficiency Syndrome (AIDs) yang terdata di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Penyakit berbahaya ini, sesuai aturan kesehatan, telah masuk kategori, “status darurat”. Karena itu, diminta semua pihak, bukan saja Dinas Kesehatan dan RSUD yang harus bertanggungjawab, melainkan semua elemen terkait.

Bagaimana kisahnya hingga HIV/AIDS terus meningkat tajam di Kota Baubau?. Dan apa penyebabnya…?.

Laporan Ketua Tim, Timurmerdeka.com: Gino Samsudin Mirsab.

Maraknya Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Baubau, menjadi salah satu tudingan utama banyak pihak di Kota ini. Selain itu disinyalir pula adanya lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) yang terselubung, seperti rumah-rumah kos, juga pemicunya adalah maraknya pengguna media sosial. Hal ini diungkapkan sejumlah elemen ketika memberikan kesaksian kepada media ini dalam invetigasi selama 3 bulan lamanya.

Menyimak pemberitaan berbagai media, pihak Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra “Terbiang resah” dalam menangani pasien penderita HIV/AIDS. Sesuai hasil pendataan yang dimiliki RSUD Baubau, pengidap HIV/AIDS terus meningkat jumlahnya, hingga tercatat korbannya berjumlah 360 orang di penghujung tahun 2017 ini.

Hipotesa banyak pihak tersebut, tidak semuanya benar bahwa THM Kota Baubau, satu-satu sumber. Namun beberapa penderita HIV/AIDS yang enggan menyebutkan identitasnya, melaporkan penyakit yang dideritanya tersebut juga terjadi bukan dialaminya di kota baubau. Hal itu diungkapkan Direktur Utama RSUD Kota Baubau, H Maria Adella Aty Sanga MKes, kepada media belum lama ini.

Menurutnya, meningkatnya pasien penderita HIV/AIDS di Baubau, selain pasiennya banyak yang enggan kontrol kepada paramedis, juga penderita HIV/AIDS mayoritas terdiri dari golongan orang tidak mampu. Sehingga sulit di control, padahal sesungguhnya antara HIV dan AIDS, jelas itu berbeda cara perawatannya.

Untuk penderita AIDS sindromnya lebih lengkap, biasanya penderita hepatitis, TBC dan terlalu banyak penyakit yang ada didalam tubuh pasien. Sementara penderita HIV, dapat dibuktikan dengan hasil laboratorium, ini disebut kategori tergolong positif HIV.

“Penyakit HIV/AIDS, pasien harus dibuktikan dengan hasil laboratorium secara lengkap, itulah yang disebut positif HIV/AIDS. Itu yah, kita berikan petunjuk pada pasien, agar terus berobat sama dokter ahli. Kemudian keluarganya harus diperiksa, jangan-jangan sudah terjadi penularan”, katanya.

Ia menjelaskan, perawatan HIV/AIDS membutuhkan waktu yang tidak singkat, pasien yang telah mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, itu juga harus terus-terus dikontrol.

Kata dia, penyakit tersebut harus cepat diteksi, sebelum kekebalan pasiennya menjadi menurun. Karena bagi penderita gejala-gejala yang akan ditimbulkan diantaranya mengalami penurunan berat badan, secara drastis dan terus menderita diare secara berkepanjangan.

“Banyak luka dimulut, dan tidak kunjung sembuh, itu berarti HIV/AIDS. Bilamana kita pegang atau bersentuhan, itu tidak langsung menular. Cuma cairannya, bilamana kita ada luka, baru bisa tertular. Demikian pula penyakit menular lainnya, itu kita pisahkan ruangannya dengan penyakit HIV”, jelasnya.

Sementara itu, Henny Arisanty SKEP NS, selaku konseling HIV/AIDS-Bloud RSUD Kata Baubau, menambahkan, jumlah penderita HIV yang telah ditangani RSUD Palagimata, sejak Januari hingga Desember sebanyak 66 orang. Keseleruhan berjumlah 360 orang, sekepulauan Buton (Kepton).

“Dari jumlah yang tercatat tersebut, sudah ada yang dinyatakan meninggal dunia. Sebenarnya kita punya data pasien HIV/AIDS dari 2007, namun kami baru dilatih pada tahun 2011 lalu. Sehingga data itu ada pada kami. Selain itu sudah ada yang datang konsidensial, tetapi tenaga perawat pasien tersebut di RSUD Baubau, hanya 5 orang saja, hingga saat ini”, tutupnya.

Pemerhati dan pemantau pasien HIV/AIDS di Kota Baubau Toto, menjelaskan, dari 360 pasien di wilayah Kepton, itulah yang positif mengidap penyakit HIV/AIDS, karena telah dirawat di RSUD Kota Baubau. Namun sesungguhnya ada puluhan jumlahnya yang enggan berobat di RSUD Baubau.

Selain itu tambah Toto, yang paling miris sesungguhnya keterbatasan petugas dan pengawasnya.  Sehingga banyak penderita HIV/AIDS, tidak tertangani secara bijak.

Ketika ditanya dimana saja penderita HIV/AIDS itu, Toto menyebutkan, banyak diantaranya sedang bekerja ditempat hiburan malam di kota ini, tetapi tidak dapat disebutkan ditempat hiburan malam mana, karena itu merupakan hak asai.

“Saya enggan sebutkan satu-persatu, dimana mereka (HIV/AIDS) beraktivitas. Karena selain mereka tertutup juga berpindah-pindah aktivitasnya. Terus terang ada beberapa diantaranya telah meninggal dunia. Sementara lainnya tinggal menunggu waktu… Saya sarankan semua pihak, hindari pergaulan Seks Bebas”, ungkap Toto mengakhirinya. (****).

%d blogger menyukai ini: