22 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Figur Wali Kota Baubau, Dalam Konteks Pilkada “Jargon Politik Sebagai Bahasa Penyedap”

Opini

Oleh : Gino Samsudin Mirsab

(Penulis Redaktur Pelaksana Timurmerdeka.com)

Masyarakat Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), sedang mengamati dan giat-giatnya mencari calon pemimpinnya di Pilkada Wali Kota Baubau periode 2018-2023. Karena itu, dalam mencari pemimpin, tentu saja memilih yang terbaik diantara yang sudah baik dalam konteks pemilihan kepala daerah. Seleksinya memang bukan perkara mudah dan enteng.

Mengapa…?. Takaran “ Nilai terbaik dari yang sudah baik”, memang relative itu sifatnya. Apa yang dinilai sudah baik, itu pasti ada yang terbaik untuk diusung jadi wali kota kelak. Ya, tergantung situasi, kondisi plus pendukung dan embel-embel jargon lainnya yang menjadi latarnya.

Dalam kompetisi Pilkada Kota Baubau, walaupun disadari, kompetisi politik dipentas pilkda, adalah sebuah keniscayaan yang bakal menghasilkannya. Dua pihak yang bergesekkan sebagai akibat dari konsekwensi  logis dalam sebuah kompetisi.

Pihak yang kalah disatu sisi tentu saja, Ia bisa jadi akan meradang, dan pihak yang menang pada sisi lain, itu sudah pasti tenang, dan gembira tak terkira. Nah, buntut dari kekalahan dalam gaung kompetisi pada proses pilkada kota nanti, itu bukannya, “Kiamat”. Sebab disitulah para kandidat diuji sportifitas dan mentalnya sesuai  komitmennya, siap kalah dan siap menang.

Sedangkan pada ujung bagi pemenan dalam kompetisi, itu bukan euvoria semata, tapi melainkan bagaimana menyelaraskan antara euvoria dalam suasana kemenangannya, dengan rasa tanggungjawab sebagai pihak pemenang guna mengemban misi buat memimpin kurang lebih 200-an ribu warga Kota Baubau ini.

Kembali ke soal figure yang paling baik untuk diusung menjadi wali kota Baubau, siapa dia…?. Kita insafi, bakal calon yang ikut bertarung dalam kompetisi politik nanti. Mesti juga harus diakui kalau para calon itu sudah baik semuanya, kalau memang ada yang pali baik, itu pasti tidak jauh bedanya, paling tidak beda-beda tipis saja. Sebab itu minus – plus, pasti akan mewarnai karakter, gaya hidup bagi semua bakal calon.

Didalam konteks itu, tentu saja warga Kota Baubau, sebagai wajib pilih, diminta harus cerdas dan lebih menyelektif memilah dan memilih, calon yang dianggap lebih baik. Dan jangan salah pilih, sebab, ini menyangkut nasib Kota Baubau pada rentan waktu selama lima tahun kedepan.

Dalam menilai terbaik bagi seseorang figur pada takaran politik konteks pilkada kota, hasilnya bukan perkara benar atau salahnya, melainkan harus dianggap, terbaik menurut kita, boleh jadi kurang baik bagi orang lain.

Itu tergantung sisi pandang kita dalam memberi bobot dan bibit penilaian, karena itulah kecerdasan memilah dan memilih tidak boleh dinomor duakan, plus satukan. Tapi, harus nomor satu harus, kendati itu disadari istilah pemilih cerdas hanyalah merupakan sebuah “Jargon politik, sebagai bahasa penyedap saja”. Tujuannya adalah menggalang dukungan para figur yang ikut berkompetisi.

Masyarakat awam mengenal tentang soal figur yang paling baik, diantara yang sudah baik, itu biasanya dipandang dari sisi style, kewibaan seseorang figur yang diusungnya. Namun, terkadang ada saja hal yang tak bole dilupakan, sebagaimana substansi penilaian. Itupun tak boleh hanya dilihat dari style kepimpinannya. Substansi nilai seorang figur, sangat dipengaruhi dengan rekam jejaknya, bagaimana kecerdasan dan bagaimana pula perilaku hidup kesehariannya di tengah masyarakat.

Indikator tersebut, banyak orang cerdas yang mampu untuk memimpin, tetapi kerap tersandung dalam perkara korupsi demikian pula sebaliknya. Banyak orang jujur, tapi tidak bisa mejadi wali kota. Intinya, kecerdasan, kemampuan dan kejujuran lebih layak untuk dipilih di konteks pilkada Kota Baubau.

Kencenderungan politik yang terasa belakangan ini, suhu perpolitikkan Kota Baubau, jelang pilkada, memang terasa hangat, masing-masing figur telah mengklaim, dirinya paling layak menjadi Wali Kota Baubau. Itu memang lumrah dalam sebuah kompetisi. Namun perlu disadari semua ini kembali pada masyarakat, menjadi obyek penentu kemenangan para figur Wali Kota Baubau Periode 2018-2023 mendatang.

Dampak sistemik dari aspek phisikologisnya berbentuk syndrome, rupanya telah merasuki jiwa wajib pilih dimasyarakat Kota Baubau pada umumnya. Warga wajib pilih khususnya, terkadang melihat pengaruh gaya dan intrik lainnya.

Bagi figur dalam mempengaruhi calon pemilih memberikan dukungan pada proses pilkada. Memang semua tahu, masing-masing figur sedang mencari celah dan peluang politik untuk menggalang dukungan, kencenderungan kearah itu sedang bergesek-gesek kemudian berkembang jadi sebuah gesekkan, sehingga masyarakat menjadi bingung membedahkan mana yang paling baik.

Inilah yang tampak dipublik didalam gaung kompetisi politik dan proses pilkada di Kota Baubau. Memang, para politikus di Kota ini, kian terasa panas saja, kalau sudah panas tentu saja akan berpotensi untuk terbakar. Dan kalau sudah terbakar tentu akan menjadi abu. Itulah merupakan takaran kualitas penilaian sebuah demokrasi.

Hal ini sangat bersinggungan dengan perilaku para calon pemilih, dan yang tidak terpengaruh dengan “Serangan Fajar yang nilainya berfariasi, ya ada bilang dikisaran Rp 200-an ribu rupiah ada pula yang menyebutkan lebih dari itu. Makanya itu, kita semua berharap, jadilah pemilih yang cerdas, bermoral, dan bermatabat. (*****).

%d blogger menyukai ini: