21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Proses Anak Memahami Identitas Gender

Jakarta-Timurmerdeka.com. Proses anak memahami identitas gender berlangsung sejak dini melalui beberapa tahap, kata psikolog Retno Dewanti Purba. “Anak akan mengobservasi dan meniru lingkungannya”, kata Retno.

Berdasarkan observasi itu, identifikasi anak terhadap gender semakin dikuatkan oleh respon orang tua yang memberikan apreseasi atau hukuman terhadap perilaku tertentu.

Misalnya, orang tua memuji putrinya cantik ketika mengenakan gaun ala putrid raja berwarna pink dihiasi pita. Maka, anak akan belajar bahwa perempuan identik dengan dengan hal-hal feminim.

Retno mengatakan bayi berusia tujuh bulan sudah bisa membedakan suara pria dan wanita. Lalu, ketika menginjak 12 bulan, balita bisa membedakkan mana wajah perempuan dan laki-laki.  Pada usia 2 tahun, anak mulai bermain sesuai streotipe gender. Disini, orang tua berperan memilihkan main yang dianggap sesuai. “pada usia itu sebenarnya, anak belum mengerti”, katanya.

Beranjak keusia 3 tahun, anak mulai bisa melabeli dirinya secara verbal, apakah dia seorang perempuan atau laki-laki. Ketika berumur 3-4 tahun, anak mulai membuat kategorisasi gender anak perempuan akan menganggap mainan masak-masakkan dan boneka adalah miliknya, sementara mobil-mobilan adalah mainan untuk anak laki-laki.

“Usia 4-6 tahun itu, gender Strip, mereka melihat sekitarnya.  Karena melihat ibu, nenek memasak, mereka berpikir perempuan itu tugasnya memasak”, lanjutnya.

Dia memaparkan anak berusia 6-7 tahun, sedang pemaknaan gender yang telah diserapnya sejak kecil. “maka banyak anak SD yang main berkelompok sesama perempuan atau sesama laki-laki”, katanya.

Retno mengingatkan orang tua agar tidak cepat menghakimi saat anak menunjukkan peri laku yang tidak sesuai norma sosial. “Misalnya, anak cowok yang suka pakai pita. Lihat dulu, berapa umurnya, cari tau kenapa dia suka pakai pita”, ujarnya.

Berikan pemahaman pada anak secara baik-baik lewat bahasa sederhana sesuai usia mereka. “kalau ada masalah, cari inti dan sumbernya. Cari jalan tengah, ingatlah hak anak, jangan diomeli terus. Kalau memang perlu, diskusi dengan ahlinya”, tutur dia. (Gin/Ant).

%d blogger menyukai ini: