25 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Hakim Sebut Menpora Tak Peduli Uang Negara Terbuang

Berita ini diberdayakan untuk medcom.id

Oleh : Fachri Audhia Hafiez


© Fachri Audhia Hafiez Imam dinilai tidak responsif mengevaluasi saat bawahannya tersangkut kasus korupsi.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dicecar mengenai fungsi dan jabatannya terhadap pengawasan keuangan di lingkungan kementerian. Imam dinilai tidak responsif mengevaluasi saat bawahannya tersangkut kasus korupsi.

Awalnya Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) menanyakan uang yang diterima asisten pribadinya, Miftahul Ulum, yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy. Uang tersebut diduga berkait dengan proposal dana hibah Kemenpora ke KONI.

Imam berkali-kali menjawab tidak mengetahui adanya uang yang diterima Ulum. Majelis hakim menilai Imam tidak melakukan pengawasan serius terhadap sejumlah pengajuan proposal dana hibah.

“Saudara sama sekali tidak peduli dengan uang negara ini, uang sudah dibuang. Penyimpangannya banyak,” kata Hakim Bambang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 29 April 2019.

Imam mengatakan telah melakukan sejumlah evaluasi di internal Kemenpora. Hal itu menyangkut pegawai maupun proposal yang berkaitan pengajuan dana ke Kemenpora.

“Tugas inspektorat dan biro hukum terhadap hal ini untuk bisa dievaluasi,” ujar Imam.

Dalam perkara ini, Ending Fuad Hamidy beserta Bendahara Umum KONI Johny E Awuy didakwa menyuap pejabat Kemenpora. Suap itu untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI Pusat kepada Kemenpora pada tahun kegiatan 2018.

Pengajuan dana itu termuat dalam Proposal Dukungan KONI Pusat Dalam Rangka Pengawasan dan Pendampingan Seleksi Calon Atlet dan Pelatih Atlet Berprestasi Tahun Kegiatan 2018. Kedua, Proposal Bantuan Dana Hibah kepada Kemenpora Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pengawasan dan Pendampingan Program Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional Pada Multi Event Asian Games dan Asian Para Games 2018.

Nilai proposal pertama disetujui oleh Kemenpora sebesar Rp30 miliar. Sementara proposal kedua berjumlah Rp17,971 miliar.

Johny dan Fuad diyakini memberikan hadiah berupa satu unit Mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik dengan nomor polisi B 1749 ZJB kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana turut menerima uang sejumlah Rp300 juta.

Kemudian, satu buah kartu ATM Debit BNI nomor 5371 7606 3014 6404 dengan saldo senilai Rp100 juta dan satu buah handphone merek Samsung Galaxy Note 9. Fuad turut berperan memberikan hadiah kepada Adhi Purnomo dan Staf Deputi IV Olahraga Prestasi Kemenpora Eko Triyanta berupa uang Rp215 juta.

Johny dan Fuad disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

%d blogger menyukai ini: