31 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Melimpah Potensi Bawah Laut Teluk Nalandi Busel, Raip Di Garap Pengusaha Bali

Batauga-Timurmerdeka.com. Potensi kepariwisataan Kabupaten Buton Selatan (Busel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memiliki potensi alam yang sangat melimpah, terutama alam bawah lautnya. Dan Ironinya sebagaimana sumbernya yang menggarap dan menikmatinya adalah pengusaha asal Bali. Demikian dikatakan pemerhati potensi alam bawah laut Indonesia, La Ode Syarifuddin SH MH, kepada media ini, di Bahari Sabtu (23/12).

Menurut Syarif, sapan akrab pemerhati potensi alam bawah laut Indonesia bermukim di Bali tersebut, menjelaskan, salah satu Tour and Travel di Bali, Teluk Nalandi (Tanjung Pemali) Busel, telah lama dimasukkan dalam paket wisata yang dijual USD 5000 perpaket kepada para penikmat alam bawah laut. Kehadirannya kedaerah ini, dengan menggunakan kapal pinisi, dari Pulau Bali menjangkau Teluk Nalandi dengan jarak tempuh hanya 48 jam lamanya.

“Teluk Nalandi (Matano Sangia), dijadikan sebagai pusat diving terfavorit pada paket wisatanya. Meskipun jaraknya menempuh 48 jam, antara Bali-pulau Buton, namun paket wisatanya laku terjual dengan harga USD 5000 perpaketnya”, katanya.

Menyebut Tanjung Pemali atau Matano Sangia di perairan di Kecamatan Sampolawa, kalangan para diving internasional, tidak asing lagi. Pasalnya. terumbuh karangnya indah, demikian pula ikan-ikan dan lobsternya bersahabat dengan para diving, demikian pula jumlahnya cukup banyak.

Masyarakat lokal Busel mengenal Teluk Nalandi (Tanjung Pemali) sebagai laut yang angker, karena ganas arus dan ombaknya. Tercatat di benak orang Buton, tidak sedikit kapal-kapal yang tenggelam hingga menelan banyak korban nyawa dan harta benda.

“Teluk Nalandi, dalam bahasa lokal “Matano Sangia” (Matanya Dewa). Saya tertarik membicarakan hal ini, karena pembeli paketnya adalah orang-orang berduit, dan cukup banyak yang membeli paketnya. Padahal, menuju Busel, dan Wakatobi, jarak tempuhnya cukup jauh, 48 jam jarak tempunya”, ujarnya.

Syarif mengungkapkan, salah satu crew Tour and Travel Bali yang mengaku bernama I Nyoman Roman, menyebutkan Teluk Nalandi Buton, alam bawah lautnya, terumbuh karang sangat indah, ada spesis ikan dan lobster yang tidak terlihat di wilayah manapun di dunia, namun di Matano Sangia itu ada, jumlahnya juga cukup banyak.

“Ada spesis ikan dan lobster yang tidak ada didunia manapun. Di Teluk Nalandi itu ada, mudah dilihat ketika memulai diving. Jumlahnya lumayan banyak. Karena itu, para pembeli paket wisata di perusahaan Tour and travel itu, di musim tertentu orang Eropa Amerika membeli paket tersebut, meskipun harganya lumayan mahal, untuk ukuran orang Indonesia”, ungkapnya.

Sumber yang berhasil dihimpun diseputaran Tanjung Pemali, Desa Gerakmakmur (Lande) La Suwardi, menyebutkan, setiap 3 bulan paling sedikit 2 kapal pinisi yang berlabuh disekitaran Tanjung Pemali (Teluk Nalandi), menyelam dengan menggunakan tabung oksigen, dan kebanyakkan orang-orang bule saja penumpangnya, paling sedikit jumlahnya 20-an orang.

“Saya pernah mendekat dikapal pinisi ketika mereka sedang menyelam. Namun dilarang mendekat kapalnya. Adapun kapal pinisi yang berlabuh disekitaran Tanjung Pemali itu, bukan hal baru bagi masyarakat lokal, dan berlabuh 2 atau 3 hari lamanya”, ujar Suwardi.

Tokoh masyarakat Buton (Lakina Lapandewa) La Ode Alirman SH, pernah berkisah, disekitaran Tanjung Pemali memang luar biasa potensi bawah lautnya. Namun sejauh ini belum terdata. Harapannya di Era kepimpinan Agus, Pemda Busel bisa melakukannya survey pendataan secara komprehensif, guna menambah pundi-pundi PAD Busel.

“Saya berharap, di era kepimpinan Bupati Busel Agus, perairan Busel dapat di survey dengan system pendataan yang komprehensif, melalui pakar-pakar diving, dengan menggunakan kamera bawah laut, tentu dengan mudah diketahui apa saja yang terkandung di bawah laut terutama di seputaran tanjung pemali”,  harapnya. (Gin/AMR).

%d blogger menyukai ini: