21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Mengamati peningkatan Pengidap HIV/AIDS, “Status Bahaya di Sultra”

Maraknya tempat hiburan malam berdampak sistemik dengan meningkatnya penderita pengidap penyakit berbahaya Human Immunodeficiecy Virus (HIV) dan Acquiered  Immune Deficiency Syndrome (AIDs). Jumlahnya tercatat 987 orang di wilayalah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Karena itu, semua pihak patut kuatir. Pasalnya. Selain penderitanya ada disekitar kita juga penderitanya, bukan saja orang dewasa, melainkan kalangan remaja.

Bagaimana kisah peningkatan penderita HIV/AIDS di Provinsi Sultra.

Berikut hasil investigasi Tim Timurmerdeka.com,

Laporan : Gino Samsudin Mirsab.

Meningkatnya penderita HIV/AIDS di wilayah sultra belakangan ini, hasil investigasi Tim Timur merdeka, diakibatkan karena maraknya tempat hiburan malam dan lokalisasi terselubung. Selain karena kurang perhatian dan pembinaan dari pemerintah, juga lokasi protitusi terselubung, tersebar dikawasan perkotaan di wilayah Sultra.

Menyimak paparan Direktur Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi (RSUBP) Yusuf Hamra, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS ini dalam setiap tahunnya tersebut, bukan saja kita menyalah pihak pemerintah, melainkan kurangnya sosliasasi dan akibat maraknya kehiduopan yang glamor. Demikian dikatakan Direktur RSUBP Muhamad Yusuf Hamra kepada media ini Senin (18/12/2017).

Menurut Yusuf sapaan direktur RSUP Sultra, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS ini, sudah selayaknya semua pihak kuatir. Karena penyakit HIV/AIDS ini, selain fasilitasnya sangat terbatas juga kurangnya kesadaran masyarakat. Jumlah penderitanya hingga mencapai 987 kasus perbulan Desember ini, angka tersebut berdasarkan akumulasi data dari 2004 hingga 2017.

“Kasus HIV/AIDS di Provinsi Sultra, sudah masuk kategori “Bahaya”. Karena jumlah penderitanya terus bertambah dalam setiap tahunnya. Selayaknya kasus ini di angkat kepermukaan, agar semua pihak termasuk Kementerian Kesehatan, Sosial dan kementerian terkait, dapat menseriusi kondisi wilayah Sultrai” tuturnya.

Bilamana dirinci tambah Yusuf, jumlah penduduk di Sultra 2017 ini, tercatat 2,7 juta jiwa jumlahnya. Bilamana dibandingkan dengan penderita HIV/AIDS sebesar 987 orang, maka tentu itu merupakan status “Bahaya mengacam di Sultra. Data terbaru di RSU Bahteramas sebanyak 420 orang pengidap HIV, dan 567 orang telah menjadi AIDS.  Data tersebaru 125 orang positif, 80 orang berstatus HIV, dan 45 orang telah menjadi AIDS. Artinya, penderita HIV/AIDS sejak 2005 hingga 2017, mencapai angka signifikan menjadi 328 orang.

“Data di RSUP Bahteramas Kendari, terkategori ada yang aktif dan pasif. Yang aktif melakukan pemeriksaan hanya sebanyak 95 orang saja, dan 150 orang telah dinyatakan meninggal dunia”, katanya.

Menurut Yusuf, masalah HIV/AIDS ini, seharusnya bukan saja menjadi perhatian pihak kesehatan, melainkan juga seluruh elemen masyarakat, stake holder seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) penggiat HIV/AIDS, lembaga vertikal, pemerhati kesehatan dan seluruh lapisan masyarakat di provinsi sultra.

“Yang terdata penderita HIV/AIDS meningkat jumlah korbannya. Ini terkait dengan kemajuan ekonomi. Semakin maju ekonomi, tuntutan kehidupan masyarakat juga semakin kompleks,” tuturnya.

Perkembangan ekonomi di Sultra dewasa ini, merupakan salah satu sumber berkembangnya HIV/AIDS, dan juga bertambahnya jumlah Pekerja Seks Komersial (PSK), narkoba, melalui jarum suntik, dan lainnya.

“Saya menghimbau, semua pihak harus bekerja sama melakukan pencegahan, terutama sosialisasi pada masyarakat. Dan terkhusus di lokalisasi PSK. Demikian pula pengguna narkoba, bukan saja adanya seks bebas, melainkan penderita itu, banyak terjangkit karena jarum suntik”, imbuhnya.

Deteksi penyebaran HIV/ AIDS, sesungguhnya bukan saja di Kota Kendari, melainkan juga terjadi di 12 Kabupaten Kota di wilayah Sultra. Sehingga dapat disebutkan hampir seluruh Kabupaten/Kota di Sultra ada korban dan penderitanya.

“Untuk korban HIV/AIDS, masih didominasi kalangan masyarakat produktif, disusul remaja, dan ibu-ibu rumah tangga”, ujarnya.

Yusuf mengharapkan, penderita penyakit HIV/AIDS, agar terus-menerus ditangani pihak medis. Karena penyakit ini, mengambil beban ekonomi yang besar. Sebab korban atau penderitanya yang semula menjadi tulang punggung keluarga, menjadi tidak mampu bekerja menghidupkan keluarganya lagi.

Sumber media ini di Baubau, Karmin, menyebutkan penyakit HIV/AIDS di Baubau, juga lumayan jumlahnya. Hampir semua tempat hiburan malam itu ada. Karena itu, diminta kepada para lelaki hidung belang, agar waspada…, karena dampaknya bukan saja dirinya, melainkan keluarganya di rumah yang tidak berdosa turut menanggung akibatnya.  (*****).

%d blogger menyukai ini: