27 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

PILCALEG BOMBANA 2019 ; “ADA UANG, ADA SUARA”

@ Disediakan www.timurmerdeka.com

Artikel ini oleh: Anton Ferdinan

Setelah pesta demokrasi lima tahunan itu selesai dilaksanakan, kini meninggalkan berbagai cerita kisah pilu dalam pemilu.

Pesta demokrasi yang sejatinya dilaksanakan menjadi wahana untuk memilih wakil rakyat yang mempunyai integritas dan kompetensi yang mumpuni menjadi “ternodai” dengan praktik-praktik politik uang.

Yang memiriskan kita semua karena dilakukan oleh oknum-oknum yang kurang bertanggungjawab demi memenuhi hasratnya untuk duduk dikursi parlemen.

Berdasarkan fakta dan data dilapangan pasca Pilcaleg 17 April 2019 untuk DPRD Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara – dengan sampel wilayah Desa Rakadua, Kecamatan Poleang Barat.

Dari 8 TPS dengan jumlah pemilih 2.035 jiwa berpeluang mengutus wakilnya ke DPRD Bombana jika ditemukan formula yang tepat. Namun, dari data diatas dapat dideskripsikan bahwa kualitas dan isi tas berkorelasi langsung dalam perolehan tebal tipisnya suara di TPS. Dan Besarnya ukuran gambar caleg bukan Jaminan besarnya perolehan suara di TPS.

Hal ini sangat dipengaruhi besarnya isi amplop yang diedarkan dalam satu wilayah dengan sasaran kepala rumah tangga dan jumlah wajib pilih terdaftar dalam DPT yang akan menyalurkan hak pilihnya.

Dengan data dan fakta tersebut diatas dapat disimpulkan dan direkomendasikan untuk pemilu legislatif selanjutnya :

(1) Ada Uang, Ada Suara.

(2) Tidak dibutuhkan lagi investasi sosial dan bantuan jauh-jauh hari sebelum ada hajatan pemilu.

(3) Untuk menjadi caleg, kumpulkan dulu uang sebanyak-banyaknya disarankan mulai saat ini menabung dan menyiapkan amplop minimal 4 amplop yang sudah terisi uang merah dan jangan diganggu gugat nanti dibuka pada masa tenang pemilu berikutnya.

(4) Siapkan tim penyerang (pembagi) untuk bagi-bagi amplop dari rumah ke rumah.

(5) Para caleg kedepan perlu belajar Ilmu Psikologi agar bisa membaca gestur atau bahasa tubuh konstituen yang hanya menerima amplop tapi tidak memilihnya pada pemilu.

Ironis memang, kesempatan mengutus wakil rakyat yang memiliki integritas baik dan bisa amanah menjadi kandas karena kalah duit dalam bertarung merebut suara rakyat untuk mengantarkan dirinya menuju kursi parlemen.

Tidak berhenti sampai disitu, karena pilihan tidak rasional lagi dengan melihat kapasitas dan latar belakang calon wakil rakyat maka konstituen dibutakan hati dan matanya dengan serangan fajar untuk berpikir sesaat dan hanya melihat apa yang ada hari ini.

Dampak perbedaan pilihan tadi yang lebih didominasi karena pengaruh dimabuk serangan fajar, perlu disikapi secara arif dan bijaksana – cerita dan permasalahan dalam setiap hajatan pemilu itu usai dilakukan.

Sebutlah misalnya mulai dari pemilu kepala desa, pemilu kepala daerah, Pemilu Gubernur dan Pemilu Calon Anggota Legislatif. Melahirkan sejumlah disharmoni sosial kemasyarakatan. Idealnya Pemilu “dinikmati” dan dilakoni sebagai sarana untuk memilih pimpinan atau perwakilan dengan segala perbedaan yang ada didalamnya.

Namun masyarakat kita ditingkat lapisan bawah yang jumlahnya jauh lebih besar masih sulit menerima kenyataan itu dan malah melahirkan banyak persoalan baru dari cara pandang terhadap perbedaan yang, yang justru hubungan dan interaksi sosial menjadi terganggu.

Karena itu sebagai masyarakat dalam berdemokratis, sejatinya kita harus siap dan dewasa dalam menerima perbedaan tapi tampaknya ada kegagalan dalam mencerdaskan warga untuk memilih karena pola yang tepat sesuai kultur adat ketimuran kita belum didapatkan rohnya.

Jika ditelisik satu persatu perbedaan yang akan muncul sejatinya hanya sebagai dinamika sosial dalam berpesta demokrasi, namun lagi-lagi disayangkan karena justru perbedaan itu selanjutnya akan terkait langsung dengan hubungan interaksi sosial kemasyarakatan sebagai warga masyarakat dan warga negara.

Sejumlah perbedaan yang mengakibatkan disharmoni dalam masyarakat kita sebagai dampak perbedaan pilihan adalah sebagai berikut :

1. Hubungan yang tadinya manis akan berubah menjadi hambar karena perbedaan pilihan.

2. Hubungan pimpinan dengan staf akan berubah karena perbedaan pilihan.

3. Hubungan antara kerabat keluarga yang tadinya hangat akan menjadi dingin karena perbedaan pilihan.

4. Hubungan dengan sahabat akan sedikit terganggu karena perbedaan pilihan.

5. Hubungan pertemanan di media sosial mendadak diblokir karena perbedaan pilihan.

6. Hubungan bisnis akan terhenti dan terganggu karena perbedaan pilihan.

7. Hubungan dengan tetangga sebelah rumah menjadi kurang harmonis karena perbedaan pilihan.

8. Hubungan suami istri akan “renggang” sejenak karena tidak sejalan dengan pilihan waktu pemilu.

9. Hubungan hutang piutang akan ditagih mendadak karena perbedaan pilihan.

10. Sambungan listrik ketetangga mendadak diputus karena perbedaan pilihan.

11. Jalan akses menuju kebun bisa ditutup karena perbedaan pilihan.

12. Tanah yang dihibahkan akan ditarik penghibaannya karena perbedaan pilihan.

13. Hubungan persaudaraan yang awalnya harmonis akan berubah disharmoni karena perbedaan pilihan.

14. Hubungan karyawan dengan pihak perusahaan akan di PHK karena perbedaan pilihan.

15. Aset yang dipinjam pakaikan akan ditarik karena perbedaan pilihan.

16. Pejabat yang baru bertugas mendadak dimutasi karena perbedaan pilihan.

17. Guru yang menjabat kepala sekolah dibebas-tugaskan dari jabatannya karena perbedaan pilihan.

20. Pejabat dinonjob karena perbedaan pilihan.

21. Kepala desa mendadak diperiksa secara khusus karena perbedaan pilihan.

22. Sumbangan yang sudah diberikan akan ditarik kembali karena perbedaan pilihan.

23. Kerabat melapor kepada penguasa (kepala daerah) untuk dipindah-tugaskan karena perbedaan pilihan.

24. Hubungan sesama tetangga tidak bertegur sapa lagi karena perbedaan pilihan.

25. Karyawan mendadak di pecat karena perbedaan pilihan.

26. Pekerja kebun akan diberhentikan karena perbedaan pilihan.

27. Teman duduk melingkar, bubar hanya karena perbedaan pilihan.

28. Bantuan modal usaha ditarik kembali hanya karena perbedaan pilihan.

29. Hubungan dan komunikasi dengan anak mantu jadi renggang hanya karena perbedaan pilihan.

30. Bagi-bagi sembako misalnya gula, beras dan lainnya akan diungkit kembali hanya karena perbedaan pilihan.

Demokrasi yang dibangun selama ini tentu tidak dimaksudkan untuk melemahkan tatanan dan struktur lapisan sosial masyarakat, yang akhirnya berujung pada sikap apatisme tapi faktanya seperti itu adanya.

Jika melihat fenomena ini tentu sudah saatnya para pakar, praktisi dan akademisi untuk meluangkan waktu sejenak guna melakukan kajian, riset yang mendasar agar “keretakan” yang terjadi selama ini bisa disembuhkan dan dikuatkan kembali.

Agar roh negara kesatuan republik ini akan kembali pada posisi yang sesungguhnya sehingga semangat membangun demokrasi yang sesuai dengan harapan para pendiri bangsa ini dapat kembali tercipta.

Melihat semakin banyaknya persoalan yang awalnya tidak ditemukan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia, dengan pola Pemilu yang dilaksanakan selama ini maka sudah saatnya bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara yang terpilih di Pilcaleg 17 April 2019 untuk menegaskan kembali agar :

  1. Pemilihan Kepala Daerah/Bupati kembali dipilih melalui perwakilan rakyat di DPRD Kabupaten dan Kota.
  2. Pemilihan Gubernur agar kembali dipilih melalui perwakilan rakyat di DPRD Provinsi.
  3. Mencabut hak pilih ASN (Aparat Sipil Negara).
  4. Meninjau kembali mekanisme pemilu yang telah menelan korban dengan tewasnya sejumlah petugas KPPS yang bertugas 24 jam dengan honor yang minim.

“Luka politik” dan “duka politik” yang dialami saudara-saudara kita hanya karena perbedaan pilihan tadi, menjadikan mereka trauma mendalam hingga puluhan tahun dan masih terus dirasakan.

Karena trauma politik tadi masyarakat saat ini cenderung berpikir untuk tidak berpartisipasi secara aktif dalam setiap momentum politik karena rasa trauma yang dialaminya.

%d blogger menyukai ini: