30 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Mengintip Kepedulian Costansa, Dalam Merangkul Pengungsi Maluku di Buton

Istilah Eksodus atau pengungsi, bukan julukan yang bijak, melainkan julukan yang terpaksa disandang oleh mereka (pengungsi). Karena itu, meskipun para eksodus telah bermukim 18 tahun di Pulau Buton, namun sesekali masih tengiang peristiwa “perang bersaudara” di Provinsi Maluku  tahun 1999 silam.

Media Timurmerdeka.com mencoba meyajikan sedikit yangtentang suka duka menjadi seorang eksodus.

Bagaimana kisahnya.

Laporan: Gino Samsudin.

Dilantiknya pengurus Kerukunan Keluarga Besar Maluku (KKBM) di wilayah Pulau Buton periode 2017-2021, maka diminta seluruh pengurus KKBM, untuk konsen menjalankan roda organisasi. Demikian dikatakan ketua KKBM Pulau Buton Ny Costansa Rahankubang La Hajid kepada timurmerdeka.com dirumah kediamannya di Baubau Kamis (23/11) lalu.

Costansa menyebutkan, sebagai ketua KKBM di Pulau Buton, selain menjadi fasilitator para eksodus didaerah ini, juga kehadiran ribuan eksodus ke Buton itu karena terpaksa, hancur harta bendanya karena perang saudara (kerusuhan Maluku 1999) lalu. Dewasa ini banyak eksodus kehidupannya memprihatinkan, tempat tinggalnya masih ada yang diatas lumpur hingga saat ini.

“Melihat kondisi masyarakat eksodus asal Maluku di Pulau Buton, selain masih memprihatinkan, juga masih ada keluarga kami yang tinggal dan bermukimnya diatas lumpur hingga saat ini”, katanya.

Menyinggung tentang bantuan pemerintah selama ini, cukup besar jumlahnya, bahkan mencapai ratusan miliayar. Tetapi fakta dilapangan yang hanya menikmati orang-orang yang tak bertanggungjawab (Hasil telusuri KKBM, di 5 Kabupaten/Kota; Wakatobi, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Kota Baubau Oktober 2017).

“Bantuan keuangan dari pemerintah, kami tidak pungkiri dananya cukup besar, jumlahnya mencapai ratusan Miliayar. Tetapi yang menikmati bukan masyarakat yang terkena bencana kerusuhan Maluku (Eksodus), melainkan ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab”, Kesalnya.

Ia mengingatkan, bilamana kedepan ada lagi bantuan Eksodus kerusuhan Maluku, hendaknya penyalurannya diberikan kepada organisasi KKBM secara resmi dan harus terbuka untuk umum. Artinya, Organisasi KKBM, ada pengurusnya hingga ketingkat DPP pusat Jakarta, pintanya.

Menyinggung tentang tahun politik menjelang tahun 2018, tentu merupakan momentum utama, namun organisasi KKBM adalah organisasi independen, dan tidak boleh dikaitkan dengan politik apapun.

Ruhnya Orgaanisasi KKBM adalah silatuhrahmi sesama umat, kehadiran orang asal Maluku di Pulau Buton diharapkan dapat memiliki andil dan peran dalam pembangun”, harapnya.

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, bakal hadirnya para artis dan Gubernur Provinsi Maluku; Bapak Asagaff di Pulau Buton, tepatnya di Baubau. Itu memang telah direncanakannya, tetapi selalunya batal, karena ada hal yang sangat penting, baik di Provinsi Maluku, maupun di Ibukota Jakarta. saat berita ini diangkat kepermukaan sedang di Lobi-lobi oleh ketua DPP KKBM Jakarta, Jamaluddin SH MH kapan pastinya kunker Gubernur Maluku itu. (*****).

%d blogger menyukai ini: