29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

6 Aturan Kejam ISIS kepada Jutaan Penduduk Ketika Masih Berkuasa

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Ketika ISIS berkuasa, jutaan orang dipaksa untuk bertahan dalam aturan brutal.

ISIS awalnya mendapat dukungan dari beberapa warga yang merasa ditinggalkan oleh otoritas negara yang korup.

Namun kelompok itu justru menyiksa dan mengeksekusi siapa pun yang tidak taat dengan hukum mereka.

Lalu seperti apa kekejaman ISIS sehingga membuat banyak orang menderita?


© Kompas.com

Pasar budak
ISIS dulu menguasai wilayah seluas negara Inggris dengan 7 juta populasi, termasuk penduduk Yazidi yang menganut agama kuno.

Ribuan pria dan anak laki-laki Yazidi dibantai yang menurut PBB dianggap sebagai genosida. ISIS juga menculik wanita dan anak perempuan kemudian menjual mereka di pasar budak. Banyak yang menderita pelecehan seksual selama bertahun-tahun.

“Kami melakukan semua yang mereka minta,” kata Bessa Hamad, seorang warga Yazidi Irak, seperti dikutip dari AFP, Minggu (24/3/2019).

Dia mengaku sudah dijual enam kali oleh para anggota ISIS sebelum akhirnya melarikan diri dalam upaya terakhir mereka di Suriah.

“Kami tidak bisa mengatakan tidak,” imbuhnya.

Menghitung bom
Sementara itu, anak-anak Yazidi yang tidak terbunuh dipaks untuk bertempur dan didoktrin membenci komunitas mereka.

Mereka pergi ke sekolah ISIS untuk belajar berhitung dengan buku matematika yang menampilkan senjata dan granat, sementara gambar manusia dilarang.

Cambukan
Selain pejuang garis depan, ISIS juga menjalankan pasukan kepolisiannya sendiri.

Petugas polisi kelompok itu yang nafasnya berbau rokok atau alkohol akan dikenai hukuman denda dan cambukan.

Larangan musik dan tari
Buka dibakar, tarian dilarang, begitu pula dengan musik. Tak ada alunan musik yang menghiasi suasana kehidupan di bawah kekuasaan ISIS.

Kelompok ekstremis itu bahkan menggunakan palu godam untuk menghancurkan artefak kuno yang dianggap sebagai berhala.

Hukuman mati
Mereka juga menjalankan pengadilan sendiri, dengan menerapakan hukuman mati dengan dipancung dan digantung.

Pria dan perempuan yang dituduh berzina dirajam sampai mati. Pria yang dianggap menyukai sesama jenis ditembak atau dilempar dari atap rumah.

Mata uang dan pajak
ISIS juga memperkenalkan mata uang mereka sendiri. Sementara itu, mereka yang tidak mampu membayar pajak dijebloskan ke dalam penjara.

Kini, benteng terakhir ISIS di Baghouz, Suriah, telah dihancurkan dan kelompok ekstremis itu dinyatakan kalah.

Meski demikian, ribuan anggotanya yang berasal dari negara asing dianggap sebagai bom waktu yang harus segera “dijinakkan” oleh dunia.

Editor: Veronika Yasinta

Sumber: AFP

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: