29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cerita Pak Ndul, Petani Asal Madiun yang Viral di YouTube Berkat “Ahlinya Ahli”

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Inilah Ahmad Sukoco yang sekarang tenar dipanggil Pak Ndul saat ditemui di kediamannya, Jumat ( 15/3/2019) lalu. KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI

Keinginan Ahmad Sukoco, seorang petani asal Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun mendapatkan tambahan penghasilan di luar profesinya akhirnya terwujud.

Bukan bermodal cangkul, pupuk dan keahlian ilmu taninya. Berkat keahliannya mengolah kata-kata yang sederhana menjadi lelucon dan humor, Ahmad Sukoco yang sekarang tenar dipanggil Pak Ndul kini menikmati hasilnya.

Bersama lima anggota tim kreatifnya, dua bulan berkarya konten video lucu, Pak Ndul yang menggunakan akun Wagu (Waton Guyon) berhasil meraih 665.552 subscriber dan 34.101.359 penayangan di YouTube.

Tak hanya meraih subscriber yang tinggi dalam waktu singkat, Pak Ndul sudah diundang di berbagai acara di televisi swasta hingga ke Mabes Polri.

Terakhir, Pak Ndul diundang Dedy Cobuzier dalam talkshow Hitam Putih.

Ditemui Kompas.com di kediamannya pekan lalu, Jumat ( 15/3/2019) Pak Ndul menceritakan jatuh bangunnya berkarya membuat konten-konten lucu sebagai seorang youtuber.

Bahkan, Pak Ndul sempat gonta-ganti akun YouTube.

“Awalnya gagal dan gagal karena tidak konsisten dan ketidaktahuan saya tentang YouTube. Kondisi ini menjadikan viewer-nya tidak ada karena nilai jualnya kurang dan belum ada ide-ide yang cemerlang. Dari situ saya belajar hingga menghabiskan waktu ratusan jam apa sih YouTube itu dari tutorial di YouTube,” kata Pak Ndul.

Rupanya sebelum fokus konten-konten video lucu berbahasa Indonesia, dua tahun lalu Pak Ndul bersama tim kreatifnya pernah membuat konten serupa dengan bahasa Jawa. Hanya saja video itu kurang mendapatkan tempat banyak dari para netizen.

Saat berkecimpung dengan video berbahasa Jawa, ia menggunakan empat talent. Sementara dirinya bersama adiknya berada di belakang layar.

“Awalnya Wagu (waton guyon) itu ada enam orang. Dari enam orang ini, empatnya menjadi talent dan saya bersama adiknya lebih banyak dibelakang kamera,” ungkap Pak Ndul.

Menurut Pak Ndul, video-video produksi tim kreatif Wagu berjalan namun tidak signifikan pemirsanya. Untuk itu ia bersama timnya membuat video-video lucu dengan konten bahasa Indonesia.

Namun, awalnya konten-konten video berbahasa Indonesa itu seperti tidak ada soul-nya dan lucunya terlihat kering.

Tak menyerah, Pak Ndul bersama timnya mengubah konsep dengan karakter Pak Ndul sejak Desember 2018.

Konsep karakter video berbahasa Indonesia yang diperankan Pak Ndul ternyata lebih bisa diterima.

Setelah karakter Pak Ndul diterima, banyak netizen yang komplain agar video berbahasa Jawa diterjemahkan.

Untuk menerjemahkan video berbahasa Jawa ke Bahasa Indonesia membutuhkan waktu berjam-jam.

“Untuk menerjemahkan video berbahasa 10 menit butuh waktu hingga sepuluh jam,” ujar Pak Ndul.

Menurut Pak Ndul, video-video berbahasa Jawa akhirnya dibuatkan satu chanel lagi dengan Wagu Ndeso. Sementara itu Wagu Pak Ndul kebanyakan melibatkan dirinya bersama adiknya.

Bagi pak Ndul, penggunaan karakter pak Ndul agar menjadi sesuatu yang unik, beda, baru dan lucu. Kata-kata pak Ndul itu muncul setelah ia mengenalkan satu-satu nama-nama panggilan personil tim kreatifnya.

“Kalau saya Pak Gundul karena kami menutupi nama aslinya,” kata Pak Ndul.

Untuk personel tim Wagu berasal dari daerah sekitar di Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun.

Tim itu terbentuk lantaran sesama pecinta YouTube yang bisa nongkrong di warungnya yang menyediakan wifi gratis.

Sebelum membuat video, ia bersama adiknya berdiskusi tentang konsep dan idenya. Setelah sepakat, dilakukan pengambilan video lalu diedit hingga diunggah di YouTube dengan handycam.

Ia memilih topik orang desa karena mudah diterima. Apalagi ia hidup di pedesaan.

Untuk membuat video dan editing, tidak ada keahlian khusus yang dimilikinya. Pasalnya ia bersama adiknya tidak memiliki keahlian videografi, seniman dan panggung.

“Kami dari teknik. Maka kami belajar secara otodidak,” ujar Pak Ndul.

Suka duka berkecimpung sebagai YouTuber, Pak Ndul menceritakan membuat YouTube itu tidak semudah dibayangkan. Pasalnya, pembuatannya membutuhkan proses yang tidak sebentar. Selain itu, ia pun harus sabar ketika ada orang yang menyebut tidak lucu hingga menyebutnya orang gila.

“Kalau diomongin orang edan (gila) malah senang saya. Saya yang tidak suka itu dikaitkan dengan politik,” jelas Pak Ndul.

Ia mencontohkan salah satu videonya tentang penghemat BBM dipotong lalu disandingkan dengan salah satu capres.

Ditanya munculnya kata-kata ahlinya ahli, Pak Ndul mengungkapkan kata-kata muncul ketika ia membuat video teknik matun suket. Kata-kata itu munculnya spontan. Kemudian dikembangkan kata-kata intinya inti kemudian ditambahkan dalam bahasa Inggris core of the core.

“Untuk kata-kata saya buat keyword-nya saja. Lalu mengalir,” kata Pak Ndul.

Agar dikenal banyak orang, awalnya konten-konten di-share di Facebook. Hanya saja, kontenya kala itu kurang banyak dikenal. Namun setelah video cangkok pisang itu dibagikan seorang netizen dari Ngawi, ia mulai terkenal hingga pemirsanya di YouTube menjadi tiga jutaan orang.

Meski sudah dikenal banyak orang, Pak Ndul mengakui masih ada yang mencibirnya. Namun ia memaklumi dan menghadapinya secara dewasa.

Untuk YouTuber pemula, Pak Ndul mengimbau agar banyak belajar tutorial di YouTube dan Google. Ide itu muncul biasanya saat berdiskusi dengan timnya. Begitu muncul, ide langsung ditulis agar tidak lupa dan dijalani.

“Intinya gali potensi diri. Kalau sendiri susah maka bentuk tim dengan beberapa orang. Kalau boleh saya kasih saran bagi YouTuber pemula. Buat konten sendiri. Jangan re-upload. Kalau kita re-upload kita bisa suspended bahkan hilang,” kata Pak Ndul

Pak Ndul yang sering mendengar konten-konten tentang sains seperti fisika, kuantum mekanik pun mengingatkan agar tidak lupa berbakti orang tua.

Bahkan, saat mulai serius sebagai YouTuber, ia meminta ibu kandungnya untuk menekan tombol publish video pertamanya di YouTube.

“Yang klik publish lima video pertama ibu saya langsung karena doa ibu.

Ia menambahkan awal mula berkecimpung youtuber dengan karakter Pak Ndul sudah bisa meraih uang Rp 1,5 juta. Dan saat ini, jumlah pendapatnya sudah bertambah terus.

Penulis: Kontributor Solo, Muhlis Al Alawi

Editor: Khairina

Copyright Kompas.com


%d blogger menyukai ini: