27 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Ini Penyebab Harga Obat di Indonesia Lebih Mahal dari Negara Lain

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co

Oleh : Tempo.co

Harga obat di Indonesia cenderung lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan disebut yang termahal di Asia Tenggara. Komisi Persaingan Usaha (KPPU) pernah mengungkapkan, dibandingkan dengan Malaysia, harga obat di Tanah Air jauh lebih tinggi.

Hal itu diamini oleh pakar farmakoekonomi Ahmad Fuad Afdhal. President International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Indonesia Chapter ini mengungkapkan, salah satu penyebab mahalnya harga obat-obatan di Indonesia adalah pengadaan bahan baku.

“Kalau obat-obatan yang copycat (meniru) yang bikin mahal adalah bahan bakunya. Di Indonesia, 90 persen lebih bahan baku obat masih diimpor,” kata Fuad dalam Workshop Health Technology Assessment di Jakarta, Rabu, 20 Maret 2019.

Menurut Fuad, industri farmasi Indonesia terpaksa mengimpor bahan baku karena tidak memiliki industri bahan baku yang cukup. “Kalau mau mendukung industri bahan baku obat, industri kimia dasarnya harus kuat. Itu yang dilakukan Thailand sehingga mereka punya industri bahan baku sendiri,” ujar dia.

@ Berbagai macam obat, harganya mahal

Lain lagi dengan obat inovatif yang dibuat oleh perusahaan farmasi berbasis riset. Menurut Fuad, biaya terbesar obat-obatan inovatif ini adalah sumber daya manusia. Belum lagi waktu riset yang cukup panjang dan membutuhkan biaya besar.

Obat-obatan inovatif ini biasanya dipasarkan dengan merek obat paten selama jangka waktu tertentu. Umumnya, hak paten berlaku selama 20 tahun, tapi berbeda-beda di setiap negara. Itu sebabnya obat ini dipasarkan dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan obat generik.

Ihwal obat inovatif ini, Fuad mengatakan bahwa Indonesia tertinggal jauh dari Thailand. “Di tahun 1960-an kita belum men-setting (industry ini), sementara Thailand sudah bekerja sama dengan Amerika Serikat, mereka mengirim ratusan orang belajar di sana. Makanya kita ketinggalan jauh,” kata dia.

%d blogger menyukai ini: