22 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Mengamati Program Tambahan Route Tol Laut, Kapal Balik Kosong Dari KTI

Bagaimana kabarnya Program Tol Laut (TL)…?. Pemerintah telah mengklaim bahwa program TL, dapat menekan disparitas harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako), dan sejumlah kebutuhan penting rumahan lainnya, dan  telah berhasil ditekan antara 20  – 30 persen, terutama di daerah yang telah dilayari dan dilayani program tersebut.

Bagaimana mengamati program TL di Kawasan Timur Indonesia (KTI) tersebut, berikut amatan Tim Timurmerdeka.com.

Laporan: Gino Samsudin.

Program unggulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang TL, di tahun mendatang melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), akan menambah 2 trayek baru lagi. Artinya TL dari 13 Route, sebagian besar melayari Kawasan Timur Indonesia (KTI), kedepannya akan menambahnya menjadi 15 Route.

Dalam hal ini pemerintah melalui Kemehub, belum dapat memastikan penambahan tersebut, akan merambah kewilayah mana saja. Mengapa cuma menambah hanya 2 route saja …?. Bukankah program andalan Jokowi, telah membawah dampak positif yang sangat signifikan terhadap disparitas harga selama ini. Seharusnya lebih dikembangkan secara maksimal lagi…?. Hal ini, karena tidak terlepas dari beban anggrannya yang terbatas.

Pemerintah juga akan mengalokasikan anggaran khusus melalui subsidi tentang TL, dan nilainya sebesar Rp 447 Miliyar untuk tahun 2018 mendatang. Artinya program ini tidak hanya berhasil menurunkan harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako) saja, melainkan juga memastikan ketersedian barang di KTI, serta ditetapkan pula jadwal kedatangan kapal TL secara teratur.

Menteri Perdagangan (Menperdag), Enggartiarsto Lukito, di berbagai kesempatan, selalu membanggakan program TL, bahwa tanpa adanya TL yang diinisiasi oleh Presiden Jokowi, tentu saja akan sangat sulit mengatasi disparitas harga yang terjadi di KTI selama ini.

Artinya, selama puluhan tahun Indonesia merdeka, disparitas harga antara Timur dan Barat itu sangat menonjol, karena kalangan pengusaha logistik atau distributor membebankan biaya tinggi, ongkos angkutan lautnya. Berkat adanya program TL, Enggarstiasto, mengklaim terjadi efisiensi perdagangan antar pulau.

Selain itu, paparan Kementerian Perdagangan-RI, telah melakukan penyederhanaan aturan, diantaranya 35 peraturan perdagangan yang mencakup 169 perizinan dan 98 perizinan perdagangan melalui online, serta 47 perizinan bisa menggunakan tanda tangan secara digital.

Program TL yang diluncurkan sejak November 2015 lalu, memang terbilang cukup sukses dan signifikan, karena dapat menekan harga bahan pokok terutama di wilayah yang dilewati route kapal TL. Mekipun demikian, tetap saja ada masalah dibalik program itu, diantaranya bagaimana mengatasi muatan kosong di saat kapal balik dari Pelabuhan terpencil menuju pulau Jawa (Surabaya dan Jakarta).

Selama ini, tingkat keterisian kapal TL pada saat baiknya, dari KTI hanya mampu memuat kapal, antara 30 – 50 persen, itupun sudah termasuk luar biasa. Tingkat keterisian kapal tentu saja menjadi ganjalan tersendiri. Namun pemerintah bisa mengabaikannya dalam sementara waktu. Karena tujuan utama proyek TL menghapus disparitas harga dan mengatasi kelangkaan bahan pokok di KTI.

Pemerintah Jokokowi berharap Pemerintah Daerah (Pemda) setempat harus mengambil peran, guna memanfaatkan angkutan kapal TL yang kembali kosong ke Pulau Jawa. Selain itu pemerintah juga sedang merangsang terjadinya transaksi perdagangan dari Wilayah Timur Indonesia.

Intinya, program TL bertujuan menyediakan jaringan angkutan laut, dengan pola subsidi peningkatan fasilitas pelabuhan, tak lain adalah menekan disparitas harga antara Wilayah Timur dan Barat Indonesia. Dalam hal ini pemerintahan Jokowi akan terus mengembangkan program TL yang dalam penilaian berbagai pihak telah berjalan dengan baik di KTI.

Sebagaimana Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 tahun 2017 tentang penyelenggaraan kewajiban pelayan publik yakni; angkutan barang dari dan kedaerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan antar Negara.

Kebijakan baru tersebut, kapal yang telah melayani sesuai routenya, semula hanya mengangkut bahan pokok dan bahan penting. Namun saat ini, dapat ditambah dengan muatan barang kebutuhan lainnya, termasuk barang-barang elektronik.

Sumber yang layak dipercaya menyebutkan, salah satu kapal milik Kemenhub-RI, belum lama ini, di kabarkan oleh banyak media, telah tenggelam di perairan Papua. Semoga segera ada kapal penggantinya…!.

Selamat Ya… Pak Jokowi, Semoga Sukses selalu, dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia. Jasamu akan selalu dikenang oleh masyarakat. (Penulis Redaktur Pelaksana timurmerdeka.com).

%d blogger menyukai ini: