23 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

MAKAM GAJAH MADA SEBAGAI ICON WISATA

Busel Berharap Di Singgahi Peserta Rally Sail Indonseia 2018

Batauga-Timurmerdeka.com. Defenitifnya Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Buton Selatan (Busel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), dewasa ini, selain sebagai pemecah kejenuhan sumpeknya masyarakat perkotaan, juga akan menjadi solusi mengatasi sumpeknya berwisata di Pulau Buton. Karena itu, bagi parawisatawan yang akan berkunjung dengan mudah dijangkau, hanya 5 Km dari Bandara Betoambari Baubau. Demikian dikatakan Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Kabupaten Busel,  La Isur Spd kepada media ini via ponsel Senin (4/12).

Menurut Isur, sebagai seorang putra daerah tentu sangat mengenal wilayah kepariwisataan di Daerahnya. Sehingga bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, dengan mudah dijangkau hanya 17 menit dari jantung kota Pulau Buton, telah tiba di icon wisata Makam Gajah Mada, didesa Majapahit Kecamatan Batauga, tuturnya.

Isur memaparkan, Makam Gajah Mada sebagai potensi andalan pariwisata Busel, bukan saja daerah ini sebagai tempat yang bersejarah, melainkan juga cukup banyak wisata bahari seperti Pulau Ular, Siompu, Kadatua, Batuatas, dan Kawi-Kawia kaya dengan jutaan burung-burung lautnya.

“Keindahan pulau-pulau dan terumbuh karang di Busel, dapat disebutkan seimbang dengan destinasi Wakatobi. Wakatobi, lebih awal mekar menjadi Kabupaten definitive, sementara Busel baru saja mekar. Makanya saya berani jamin keindahan alam Wakatobi, seimbang dengan Busel”, papar La Isur.

Selain itu ujar Isur, wilayah wisata pantai, diving di Teluk Lande hingga Tanjung Pemali, keindahannya, “Luar Biasa”. Karena selain mudah dijumpai Lobstre spesis Lobster Bambu, juga hampir sepanjang pesisir tebing bawah laut, dipadati ikan-ikan hias maupun Lobster sejenisnya.

“Untuk Diving di Busel, banyak spot-spot yang indah dan bagus, kedepan kita berharap daerah ini bisa jadi ditetapkan daerah wisata Bahari. Selain alamnya sangat mendukung, juga daerah ini telah ada 3 Desa yang bernama Desa Bahari, lingkungannya langsung berhadapan dengan laut lepas”, katanya.

Keindahan Alam Busel, selain berhadapan langsung dengan laut lepas, juga hanya 3 Mil laut merupakan teritori Pelayaran Trans Nasional menghungkan Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Artinya potensi alam wilayah Busel sangat potensial sebagai jalur trans ekonomi “Tol Laut KTI dan KBI”.

“Keindahan Alam Busel, bukan saja kepariwisatan yang signifikan, melainkan sangat dekat dengan arus pelayaran Trans Nasional. Sehingga bilamana kawasan ini dikembangkan dan menjadi Sentra dan penghubung antara KTI, KBI, Kawasan Utara Indonesia (KUI) maupun Kawasan Selatan Indonesia (KSI), tentu saja sangat strategis, dan mempermudah arus perekonomian Indonesia”, ujar Isur.

Menyinggung kepariwisatan sebagaimana agenda nasional “Rally Sail to Indonesia”, daerah ini meskipun tidak dijadwalkan Rally Sail to Indonesia, namun setiap tahunnya 7-10 kapal pesiar itu yang singgah di Teluk Lande. Sehingga bilamana di 2018, didaftarkan sebagai daerah persinggahan maka para Crew kapal Yacth, bukan merupakan persinggahan baru.

“Saya berharap di 2018 mendatang, daerah Busel masuk dalam agenda Rally Sail To Indonesia. Karena daerah ini, memiliki potensi unggulan pariwisata, terutama spot-spot, Diving di Tanjung Pemali atau Teluk Lande”, ungkap Isur mengakhiri komentarnya. (Gin).

%d blogger menyukai ini: