25 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Bela Minoritas Arab-Israel, Wonder Woman Berseteru dengan PM Netanyahu

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Pemeran karakter Wonder Woman, Gal Gadot kini terlibat perseteruan dengan PM Israel Benyamin Netanyahu terkait status warga minoritas keturunan Arab.

“Cintai tetanggamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri,” ujar sang aktris di tengah peran partai politik Arab dalam pemilu mendatang.

Perdebatan ini dimulai setelah Netanyahu mengatakan, Israel bukan negara untuk semua warganya, merujuk kepada 20 persen warga keturunan Arab.

Dia kemudian mengutip undang-undang “negara bangsa” yang memicu kontroversi setelah diberlakukan tahun lalu.

Pada Juli tahun lalu, para anggota legislatif keturunan Arab menentang pengesahan undang-undang itu.

Sebab, dalam undang-undang itu tertulis bangsa Yahudi memiliki hak unik sebagai cara untuk menentukan nasib sendiri dan menempatkan bahasa Ibrani di atas bahasa Arab sebagai bahasa resmi.


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Pemeran karakter Wonder Woman, Gal Gadot. KEVIN WINTER / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP

Perseteruan antara “Wonder Woman” dan Netanyahu ini dimulai akhir pekan lalu saat Gadot dan presenter TV Rotem Sala mempertanyakan komentar Menteri Kebudayaan Miri Regev.

Dalam wawancara televisi itu, Regev membicarakan peran partai-partai politik Arab dalam pemilu yang akan digelar 9 April mendatang.

Regev mengulangi peringatan yang disampaikan pemimpin partai sayap kanan Likud untuk tidak memilih partai pesaing Likud.

Alasannya, jika mereka dipilih maka kemungkinan besar akan meraih cukup suara untuk berkoalisi untuk membentuk pemerintahan dan mendudukkan para politisi keturunan Arab di parlemen.

“Apa masalahnya dengan orang Arab,” kata Sela mempertanyakan hal tersebut lewat akun Instagram-mya.

“Kapan seseorang di negara ini akan mengatakan Israel adalah negara untuk seluruh rakyatnya dan semua orang diciptakan setara apakah itu Arab, Druze, LGBT atau kelompok kiri,” tambah Sela.

Pada Minggu (10/3/2019), Netanyahu membalas Rotem Sala juga lewat akun Instagramnya.

“Rotem yang terhormat, Israel bukan negara untuk semua warganya. Menurut undang-undang yang kami sahkan, Israel adalah negara untuk bangsa Yahudi dan hanya itu,” ujar Netanyahu.

“Saat Anda menulis, tak ada masalah dengan warga Arab di Israel. Mereka memiliki hak yang sama dengan warga lainnya dan pemerintahan Likud sudah berinvestasi lebih banyak di sektor Arab dibanding pemerintahan lainnya,” tambah Netanyahu.

Lalu apa yang disampaikan Gal Gadot? Sang bintang mendukung pernyataan Sela, yang dikabarkan merupakan kawan dekatnya.

“Ini bukan masalah kanan atau kiri, Yahudi atau Arab, sekuler atau relijius,” kata Gadot kepada 28,3 juta followers-nya di Instagram.

“Ini adalah masalah dialog, dialog demi kedamaian dan kesetaraan serta toleransi kepada sesama,” tambah Gadot.

Perdebatan ini juga melibatkan Presiden Israel Reuven Rivlin pada Senin (11/3/2019).

Tanpa menyebut nama, Rivlin mengecam apa yang disebutnya sebagai sebuah pernyataan tak pantas terhadap warga Arab-Israel.

Sejumlah politisi keturunan Arab juga mendukung pernyataan Rotem Sala.

“Rotem Sala, kita tak saling kenal tetapi saya mendukung pernyataan Anda,” kata Ayman Odeh seorang anggota parlemen keturunan Arab seperti dikutip harian The Times of Israel.

Sementara itu, Partai Likud yang berkuasa menghadapi tantangan serius dalam pemilu kali ini.

Rival terkuat adalah partai berhaluan tengah Aliansi Biru-Putih yang dipimpin mantan panglima militer Benny Gantz dan mantan menteri keuangan Yair Lapidz.

Dalam berbagai jajak pendapat, partai ini memimpin perolehan suara.

Editor: Ervan Hardoko

Sumber: BBC

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: