21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kisah Tiga Tahun Jokowi di Aceh dan Tiga Kambing

Berita ini diberdayakan untuk republika.co.id

Oleh : Ichsan Emrald Alamsyah

Sebuah pigura berukuran 140×70 sentimeter terpajang di ruang tamu rumah berdinding papan kayu. Ada tiga objek utama dalam gambar tersebut. Di bagian bawah gambar diberi keterangan “Presiden RI ke-7 Ir. H. Joko Widodo Pulang Kampung Tgl 3 Maret di Bener Meriah”.

Ya, salah satu dari tiga objek utama dalam gambar tersebut adalah seorang lelaki berbaju putih dengan lengan baju dilipat, Presiden Jokowi. Lelaki di tengah dengan mengenakan peci putih berkalung surban adalah Nurdin Aman Tursina (73 tahun). Sementara seorang perempuan berkerudung ungu di bagian paling kanan adalah istri Nurdin yang meninggal 15 Februari lalu.

“Saya sebenernya lihat kalian datang ini nangis tapi saya tahan. Dari depan kalian masuk, Pak Jokowi, Pak Moeldoko semua pernah masuk ke sini. Waktu istri saya meninggal semua kirim karangan bunga. Jenazah diantar pakai PM (Polisi Militer),” kata Nurdin di kediamannya di Bener Meriah, Aceh, Sabtu (9/3).


© Mas Alamil Huda/Republika Nurdin Aman Tursina, bersama dengan Foto kunjungan Presiden Joko Widodo di Bener Meriah, Aceh

Nurdin dan Jokowi bertemu pada tahun 1986 saat mantan gubernur DKI Jakarta itu bekerja di bumi Serambi Mekkah. Jokowi tinggal di rumah tak jauh dari kediaman Nurdin. Imam masjid kampung itu menganggap Jokowi adalah anak sendiri. Orang nomor satu di republik tersebut pun menganggap Nurdin sebagai ayah angkatnya.

Jokowi saat itu bekerja di perusahaan kertas yang membuka kompleks perumahan untuk karyawan. Nurdin menjadi salah satu pekerja pembangunan perumahan itu. “Jadi kebetulan saya imam di desa, jadi beliau berikan pekerjaan ‘Bapak buat pagar perumahan di depan situ’,” kata dia menirukan ucapan Jokowi.

Kenangan tiga tahun bersama Jokowi masih melekat di ingatan Nurdin. Dia menceritakan detail tahun per tahun bagaimana aktivitas mantan wali kota Solo itu di sana. Pada 1989, Jokowi dan Iriana meninggalkan Aceh dan kembali ke Jawa lantaran konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang saat itu terjadi.


© Disediakan oleh PT Republika Media Mandiri photo

“Setelah itu lama nggak ketemu, tahu-tahunya sudah jadi gubernur DKI, kita ngobrol (melalui) telepon, (Jokowi) masih ingat sama saya. Terakhir berpisah dengan saya, sudah ada Gibran (putra sulung Jokowi), tinggalkan kurban di (kampung) sini tiga kambing (sebelum kembali ke Jawa),” ujar dia.

Ingatan Nurdin bergerak mundur. Setahun sebelum Jokowi meninggalkan Bener Meriah atau tahun 1988, Nurdin bersaksi bahwa berdirinya mushala kampung tak lepas dari peran besar anak angkatnya tersebut. Saat itu, kata dia, mushala dibangun dengan papan kayu sumbangan dari Jokowi. Semua keperluan kayu untuk mushala ditanggungnya.

Tiga tahun bersama menjadikan Nurdin tahu banyak tentang kepribadian Jokowi. Dia menyebut Jokowi orang yang sangat penyabar. Satu kalipun dia tidak pernah tahu Jokowi marah kepada orang lain. Selain itu, kedermawanan calon presiden pejawat tersebut sangat dirasakan masyarakat.

Nurdin juga mengaku, tak jarang Jokowi menjadi imam shalat di masjid kampung. Namun, biasanya hanya saat shalat maghrib selepas seharian bekerja. “Di masjid itu Pak Jokowi kadang-kadang jadi imam (shalat) maghrib,” ujar dia.

Kesaksiannya terhadap masa muda Jokowi membuat Nurdin marah saat ada yang mengatakan anak angkatnya itu anti-Islam atau bahkan komunis. Nada bicaranya sempat meninggi saat hal ini ditanyakan kepadanya. Terlihat ia menarik nafas panjang dan berhenti beberapa detik sebelum ia menjawab.

“Kalau kamu nggak pilih Jokowi nggak apa-apa. Asal jangan fitnah anak saya,” kata lelaki yang setia dengan peci putih dan berkalung surban putih pada Sabtu (9/3) pagi itu.

Mas Alamil Huda/Wartawan Republika

%d blogger menyukai ini: