29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Perhatikan Sujud Anda, Jika Tidak seperti Ini Dapat Membatalkan Shalat

Berita ini diberdayakan untuk islampos.com

Oleh : Saad Saefullah


Foto: Aldi/Islampos

BERSUJUD adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari setiap muslim. Sebab, salah satu cara yang lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah melalui sujud. Ya, sujud membuktikan bahwa diri kita adalah seorang hamba yang kecil, dan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Besar.

Meski sujud sering dilakukan, tetapi terkadang, banyak orang yang tidak memperdulikan posisi yang benar dalam bersujud, artinya asal-asalan saja. Padahal, ketika sujud yang dilakukan itu salah, maka jika dalam shalat menjadi tidak sah dan dapat membatalkan shalat. Memang, seperti apa sujud cara sujud yang benar?

BACA JUGA: Belajar dari Kisah Sujudnya Malaikat kepada Nabi Adam

Pertama, menempelkan dahi dan hidung di lantai. Sebagaimana diriwayatkan bahwa, “Nabi ﷺ menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai,” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141).

Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah,” (HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani dan dishahihkan Al-Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 142). Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib.

Kedua, meletakkan kedua tangan di lantai dan sejajar dengan pundak atau telinga. Sebagaimana diriwayatkan bahwa, “Nabi ﷺ meletakkan kedua tangannya (ketika sujud) sejajar dengan pundaknya,” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141). Dan terkadang, “Beliau meletakkan tangannya sejajar dengan telinga.”

Ketiga, merapatkan jari-jari tangan dan menghadapkannya ke arah kiblat. Sebagaimana diriwayatkan bahwa “Nabi ﷺ merapatkan jari-jari tangan ketika sujud,” (HR. Ibn Khuzaimah dan Al-Baihaqi dan dishahihkan Al-Albani).

“Beliau menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat,” (HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih, sebagaimana keterangan Syaikh Al-Albani dalam Sifat Shalat).

Keempat, mengangkat kedua lengan dan membentangkan keduanya sehingga jauh dari lambung. Sebagaimana diriwayatkan bahwa, “Beliau tidak meletakkan lengannya di lantai,” (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud). Dan, “Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga jauh dari lambungnya, sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA: Adakah Anjuran Berpindah Tempat Ketika Hendak Shalat Sunah?

Perlu kita ketahui, membentangkan kedua lengan ketika sujud dianjurkan jika tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya. Jika mengganggu orang lain, misalnya ketika shalat berjamaah, maka tidak boleh membentangkan tangan, namun tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dengan lantai. Karena menempelkan siku ketika sujud termasuk tata cara sujud yang dilarang.

Kelima, menempelkan kedua lutut di lantai. Nabi ﷺ bersabda, “Kami diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan, …. salah satunya bertumpu pada kedua lutut,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Perlu diketahui, posisi lutut ketika sujud sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi yang paling nyaman menurut orang yang shalat. Jika dia merasa nyaman dengan merenggangkan lutut, maka sebaiknya direnggangkan dan sebaliknya, jika dia merasa nyaman dengan kondisi dirapatkan kedua lututnya, maka sebaiknya dirapatkan.

Keenam, bersikap i’tidal ketika sujud. Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud “i’tidal ketika sujud” adalah merenggangkan antara betis dengan paha, dan meregangkan antara perut dengan paha, masing-masing kurang lebih 90 derajat. Namun tidak boleh berlebihan ketika meregangkan betis dengan paha, sehingga lebih dari 90 derajat. (Asy Syarhul Mumthi’, 1:579)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Bersikaplah i’tidal ketika sujud,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, meletakkan ujung-ujung kaki dan ditekuk sehingga ujung-ujungnya menghadap kiblat. Sebagaimana diriwayatkan bahwa, “Nabi ﷺ meletakkan dua lututnya dan ujung kedua kakinya di tanah,” (HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih, dinyatakan shahih oleh Al-Hakim dan dishahihkan Al-Albani).

BACA JUGA: Sujud Lama Usai Shalat, Bolehkah?

Kedelapan, merapatkan tumit. Sebagaimana diketahui bahwa, “Beliau merapatkan kedua tumitnya (ketika sujud),” (HR. At-Thahawi dan Ibn Khuzaimah dan dishahihkan Al-Albani).

Demikianlah delapan hal yang harus diperhatikan ketika sujud. Menyempurnakan sujud adalah salah satu cara yang bisa lebih mengkhusyukan diri kita ketika shalat. Sehingga, kedekatan kita dengan Allah dalam shalat, insyaAllah akan lebih terasa, terutama dalam sujud. []

Sumber: Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina Konsultasi Syariah

%d blogger menyukai ini: