31 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Baterai Ponsel: yang Besar Makin Dicari

Berita ini diberdayakan untuk tirto.id


Ilustrasi Baterai Ponsel. Getty Images/iStockphoto

Oleh: Ahmad Zaenudin – 28 Februari 2019 Dibaca Normal 2 menit

Energizer Power Max P18K Pop merupakan smartphone berkapasitas baterai sebesar 18.000mAh.

tirto.id – Mobile World Congress (MWC), pameran teknologi dunia yang saban tahun diselenggarakan di Barcelona, Spanyol, selalu punya kejutan. Tahun lalu, kejutan tersebut bernama 5G. Pada MWC 2019, selain menggebrak masyarakat melalui perilisan beberapa foldable phone, kejutan datang dari Avenir Telecom, perusahaan teknologi asal Perancis. Dengan melisensi merek Energizer yang masyhur dengan produk baterainya, Avenir memperkenalkan Energizer Power Max P18K Pop, ponsel pintar dengan kapasitas baterai 18.000mAh!

Kapasitas baterai yang super besar tersebut diklaim mampu membuat ponsel tetap hidup selama seminggu penuh. Juga cukup untuk memutar video selama dua hari tanpa henti.

Saking besarnya kapasitas baterai, Energizer Power Max P18K Pop lebih cocok disebut powerbank. Bentuk dan ukurannya menegaskan hal itu. Sebagaimana dilansir The Verge, ponsel pintar ini punya tebal 18mm, atau sekitar tiga ponsel biasa yang ditumpuk.

Ponsel ini tak hanya berdaya baterai besar. Ia juga dibekali tambahan kemampuan smartphone, didukung layar LCD berukuran 6,2 inci yang dipasok oleh prosesor MediaTek, serta RAM yang besarnya 6GB. Sebagaimana ponsel pintar lain di pasaran, Energizer Power Max P18K Pop pun membenamkan kemampuan kamera. Tak tanggung-tanggung, ada tiga kamera yang tersemat dalam ponsel bin powerbank ini.

Tapi, pertanyaannya kemudian adalah apakah kita benar-benar butuh ponsel seperti Energizer Power Max P18K Pop yang menghadirkan kapasitas baterai sangat besar?

Baca juga: Energizer Power Max P18K Pop, Smartphone dengan Baterai 18.000mAh

Kapasitas yang Memang Harus Bertambah

Smartphone yang kita kenal hari ini, baik bersistem operasi Android maupun iOS, bermula sejak 2007. Kala itu, Apple melalui Steve Jobs memperkenalkan iPhone atau kini lazim disebut iPhone 1st Generation. Ponsel pintar yang tercipta berkat lebih dari 200 paten tersebut mengusung baterai Li-Ion berkapasitas 1.400mAh.

Sempat menurun menjadi 1.220mAh pada versi kedua iPhone alias iPhone 3G dan 3Gs, kapasitas baterai iPhone kemudian merangkak naik menjadi 1.420mAh pada iPhone 4, dan 1.570mAh pada iPhone 5. Kini, iPhone XS Max, versi paling baru dan termahal dari iPhone, memiliki kapasitas baterai sebesar 3.174mAh.

Peningkatan kapasitas baterai ini juga terjadi di ponsel Android. Galaxy S, ponsel pintar Android premium bikinan Samsung misalnya, versi awal hanya memiliki baterai berkapasitas 1.500mAh. Kini, pada Galaxy S10, kapasitasnya melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 3.400mAh.

Melonjaknya daya baterai itu memang sebuah keharusan, seiring fitur yang terus meningkat. iPhone generasi pertama memiliki sedikit sensor dan resolusi layar 320×480 piksel. Selain itu, pada awal kemunculan smartphone yang berbeda dibandingkan Blackberry hingga PalmOS tersebut, belum ada bermacam aplikasi seperti yang kita kenal saat ini.

iPhone generasi pertama hanya menghadirkan aplikasi-aplikasi bawaan dari Apple, tidak ada App Store yang menghadirkan berbagai macam aplikasi.

Karena kesederhanaan fitur mereka, tak heran kalau iPhone generasi pertama ini irit energi. Dalam makalah “How is Energy Consumed in Smartphone Display Applications?” yang ditulis Zhan Ma dari Nanjing University, disebutkan bahwa ponsel pintar yang memiliki resolusi layar sebesar 640×360, hanya mengonsumsi listrik sebesar 0,6 Watt kala digunakan memutar video streaming. Pada layar beresolusi lebih besar, misalnya 1280×720 piksel, konsumsi daya pun melonjak menjadi 0,9 watt.


Infografik Baterai Besar di Ponsel pintar

Namun, teknologi ponsel pintar terus berkembang. Pada iPhone XS Max, misalnya, resolusi layar membengkak menjadi 1242×2688 piksel. Dan tak ketinggalan, kini ada lebih dari 2 juta aplikasi yang bisa dipasang pada iPhone. Akibatnya, konsumsi listrik kian membengkak.

Baca juga:
Kabar Gembira: Teknologi Baterai Litium yang Tak Akan Meledak
Ada Apa dengan Baterai Litium?

Kini, sensor di ponsel pintar terus ditambah. Selain accelerometer dan proximity, produsen umum memasangkan gyroscope, magnetometer, ambient light sensor, sidik jari, pedometer, barometer, hingga heart rate sensor. Beberapa aplikasi bahkan secara terus-menerus menggunakan sensor yang dibenamkan di ponsel pintar, misalnya sensor GPS.

Padahal, sebagaimana dilaporkan The Verge, GPS merupakan salah satu sensor yang paling boros mengkonsumsi listrik. Masalahnya lagi, GPS merupakan teknologi jadul. Untuk menerima pelacakan posisi dari satelit, sensor GPS di ponsel butuh waktu 12 hingga 30 detik. Dan bila GPS membutuhkan pelacakan posisi dari semua tower seluler yang ada di sekitarnya, butuh waktu hingga 12 menit agar data sampai. Akibatnya, jika sensor GPS dihidupkan terus menerus, ia sangat boros energi karena kerja yang terus menerus tanpa henti.

Sialnya, sensor GPS merupakan salah satu sensor yang paling penting saat ini. Memesan ojek melalui aplikasi ride-sharing atau mencari tahu lokasi nongkrong via peta digital, bergantung pada GPS.

Maka dengan seiring perkembangan teknologi dan aplikasi yang makin membutuhkan ponsel pintar dengan energi besar, bisa jadi ke depan akan ada tren ponsel berukuran besar macam power bank.

Baca juga artikel terkait BATERAI LITIUM atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin.(tirto.id – Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nuran Wibisono

Seiring banyaknya aplikasi yang mengonsumsi banyak energi, orang makin butuh ponsel dengan daya baterai besar.

%d blogger menyukai ini: