29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kaum Milenial AS Terjerat Utang Rp 14.000 Triliun

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi kaum milenial. (Shutterstock)

Kaum muda Amerika Serikat kini harus menghadapi rekor tertinggi terkait jeratan utang yang tercatat lebih dari 1 triliun dollar AS.

Kaum milenial atau kerap dikenal sebagai Generasi Y atau Gen Y merupakan mereka yang lahir pada tahun 1980-an hingga 1997.

Diwartakan Bloomberg, Senin (25/2/2019), menurut lembaga New York Federal Reserve Consumer Credit Panel, utang warga AS yang berusia 19-39 tahun mencapai 1.005 miliar dollar AS atau Rp 14.054 triliun hingga akhir 2018.

Angka tersebut merupakan nilai utang tertinggi untuk kelompok muda dewasa sejak akhir 2007, yaitu saat dimulainya krisis finansial global.

Student loan atau kredit pendidikan menyentuh rekor tertinggi mencapai 166 miliar dollar AS atau Rp 2.320 triliun pada kuartal IV tahun lalu.

Utang hipotek menyusul dominasi keseluruhan utang konsumen kaum milenial, namun tidak tumbuh hampir secepat pinjaman kredit pendidikan.

Sejak 2009, utang hipotek tercatat meningkat 3,2 persen sementara utang pendidikan tumbuh 102 persen. Pengajuan hipotek baru di antara orang muda dewasa saat ini tetap sedikit dibandingkan awal 2000-an.

Hal ini kemungkinan terjadi karena mereka lebih memilih untuk menyewa properti dalam jangka waktu yang lebih lama ketimbang generasi sebelumnya.

Orang Amerika memang cenderung memiliki utang tertinggi dalam tahun-tahun paruh baya hidup mereka. Seiring bertambahnya usia, utang akan menurun.

Survei dari University of Michigan menyebutkan, tingkat utang berperan dalam cara hidup kaum milenial terhadap kondisi pengeluaran mereka.

Mereka yang berusia di bawah 35 tahun kini memilih mengurangi pengeluaran dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Beberapa faktor disebut menjadi pendorongnya, seperti prospek pekerjaan yang melemah, menund apernikahan, dan utang pendidikan.

Di sisi lain, pengeluaran yang lebih rendah membatasi pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, sejumlah kebijakan untuk mendorong pengeluaran diambil seperti menghapus utang pendidikan yang masih dipertimbangkan.

Editor: Veronika Yasinta

Sumber: Bloomberg

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: