21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kivlan Ungkap soal Wiranto yang Minta Soeharto Mundur

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Oleh : Teuku Muhammad Valdy Arief

Kerusuhan Mei 1998 menjadi cerita tersendiri bagi salah satu tokoh ABRI saat itu, Kivlan Zein. Kivlan yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad membeberkan cerita terkait bagaimana manuver di tubuh ABRI dalam upaya melengserkan Presiden Soeharto.

Kivlan menyebut, saat kerusuhan tengah memuncak pada Mei 1998, para petinggi ABRI justru menghilang dan cenderung tak berada di Jakarta. Salah satunya adalah Panglima ABRI, Wiranto.

“Sebagai panglima ABRI waktu itu, pak Wiranto atas kejadian itu (kerusuhan) kenapa dia meninggalkan Jakarta dalam keadaan kacau,” kata Kivlan di diskusi ‘Para Tokoh Bicara 1998’ di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (25/2).


Kivlan Zen Foto: Twitter @kivlan_zen© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Kivlan Zen Foto: Twitter @kivlan_zen

Diketahui, Wiranto, pada 14 Mei 1998 tidak berada di Jakarta. Saat itu ia sedang berada di Malang, untuk meresmikan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat TNI.

Kivlan, mempertanyakan pilihan Wiranto yang berada di luar kota. Ia pun curiga, di balik turunnya Soeharto, ada peran yang dilakukan oleh Wiranto. Salah satu sebabnya adalah, Kivlan mengetahui bahwa Wiranto pernah meminta Soeharto turun akibat kondisi Jakarta yang semakin chaos.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network

“Kita-kita yang untuk amankan Jakarta tidak boleh kerahkan pasukan, itu. Jadi kita curiga ‘loh keadaan kacau masa enggak boleh mengerahkan pasukan amankan’, kenapa dia tinggalkan Jakarta, dan kemudian dia minta Pak Harto supaya mundur,” kata Kivlan.

“Kenapa dia minta pak Harto mundur dan kenapa dia mahasiswa kerahkan ke MPR. Jadi kita tanda tanya apakah Pak Wiranto di-design dari grup para jendral yang ingin pak Harto mundur atau gimana kalau melihat kenyataanya dia yang minta pak Harto mundur berarti dia ikut terlibat dari kejadian itu lah,” tambahnya.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Suasana diskusi “Para Tokoh Bicara 1998” di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Foto: Muhammad Lutfan Darmawan/kumparan

Sementara itu, Kivlan bercerita terkait upaya dirinya dengan Prabowo Subianto untuk membujuk Suharto tak meninggalkan kekuasaannya. Namun, Suharto menyebut kondisi saat itu sudah tak memungkinkan untuk mempertahankan kekuasaan.

“Pak Harto tangal 15 (Mei 1998) turun dari pesawat dari Mesir, Wiranto dengan paspampres bilang keadaan kacau. Tidak bisa diatasi. Lebih baik bapak mundur. Wiranto ini yang perintahkan mundur. Ini saya (yang) ngalamin,” kata Kivlan.

“Tanggal 18 (Mei 1998) saya dengan Prabowo ngadep Pak Harto. ‘Pak jangan mundur’. ‘Gimana ini semua anti saya tidak ada yang mendukung’,” pungkas Kivlan mencontohkan ucapan pak Harto.

Atas pernyataan-pernyataannya tersebut, Kivlan mengaku siap apabila dirinya dituntut di pengadilan militer bila hal itu tak benar.

“Kalau nanti saya mau dituntut. Tuntutlah saya ke pengadilan militer. Dan saya tuntut dia di pengadilan militer,” pungkasnya.

%d blogger menyukai ini: