26 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Wiweko Soepono, Penerbang Visioner Pencipta Garuda’s Cockpit

Berita ini diberdayakan untuk validnews.id


Wiweko Soepono. Ist

JAKARTA – Kenyamanan penumpang menjadi salah satu nilai unggul yang dimiliki maskapai Garuda Indonesia. Tak kurang lembaga pemerintah penerbangan independen yang berkedudukan di London, Skytrax menobatkan maskapai merah putih ini sebagai perusahaan berbintang lima pada 2014 silam.

“Pengakuan ini merupakan hasil dari transformasi yang dilaksanakan Garuda Indonesia dalam hal standar dan kualitas pelayanannya,” kata CEO Skytrax Edward Plaisted, di penghujung 2014, seperti dikutip dari Antara.

Tak dinyana, angkutan masa perang menjadi cikal bakal maskapai penerbangan nasional ini. Jauh dari nyaman, pesawat pertama yang melayani penerbangan sipil ini kerap harus berhadapan dengan mortir. Bahkan, sempat kehilangan setengah dari bahan bakar pada salah satu penerbangannya sehingga harus kembali ke bandara awal.

Tempat kelahiran maskapai ini pun jauh dari bumi pertiwi. Tepatnya di Ranggon, Myanmar.

“Sejarah penerbangan komersial Indonesia dimulai saat bangsa Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya. Penerbangan komersial pertama menggunakan pesawat DC-3 Dakota dengan registrasi RI 001 dari Calcutta ke Rangoon dan diberi nama Indonesian Airways,” demikian sejarah lahirnya Garuda yang dikutip dari laman resminya.

Seulawah
Lahirnya Indonesian Airways bermula saat keinginan pemerintah Indonesia di awal kemerdekaan untuk memiliki pesawat sendiri, mengingat jarak antara ibukota Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya di luar Jawa.

Dari keinginan tersebut, munculah kampanye pengumpulan Dana Dakota, di mana Presiden Soekarno berkeliling Sumatra membawa tujuh miniatur pesawat Dakota untuk diberikan sebagai contoh dan cendera mata kepada panitia.

Keinginan untuk memiliki pesawat pun tinggal selangkah lagi setelah kampanye tersebut menuai hasil maksimal di Aceh. Total dua hari kampanye di Aceh, terkumpul dana hingga US$130 ribu yang cukup untuk membeli pesawat beserta peralatannya.

Pimpinan AURI kala itu pun memerintahkan Kepala Biro Rencana dan Konstruksi Wiweko Soepono untuk membeli pesawat yang diidamkan.

Pencarian yang dilakukan Wiweko tak sia-sia karena akhirnya ia memperoleh pesawat yang masih memiliki kondisi baik dan memenuhi kriteria. Pesawat asal Manila sisa Perang Dunia II itu pun kemudian diperbaiki di Hongkong.

Setelah memakan waktu tiga bulan, Oktober 1948, pesawat Dakota yang kemudian diberi nomor registrasi RI-001 tiba di tanah air. Nama Seulawah yang berarti gunung emas disematkan demi menghormati pengorbanan masyarakat Aceh.

Pesawat kemudian difungsikan untuk mengangkut pejabat penting maupun logistik. Pada saat itu, blokade yang diterapkan Belanda sangat ketat. Namun, bersama awal pesawat RI-001 Seulawah Indonesian Airways, Wiweko berhasil dua kali menembus blokade udara Belanda. Aneka senjata, peralatan komunikasi, hingga obat-obatan berhasil diselundupkan Wiweko dari Burma, atau Myanmar saat ini, ke Pangkalan Udara Blangbintang dan Loknga, Aceh.

Terbang berulangkali, Seulawah pun mengumpulkan 50 jam terbang sehingga harus menjalani perawatan demi keamanan. Seulawah pun dikirim ke Calcutta, India. Nyatanya, keputusan ini tepat lantaran pada saat yang sama Belanda melancarkan Agresi Militer ke II dan menghancurkan semua pesawat yang dimiliki AURI.

Kegentingan yang melanda tanah air tak ayal membuat kru yang mengawal perbaikan Seulawah pun kelabakan. Bagaimana tidak, biaya hidup yang dipersiapkan hanya cukup untuk 2-3 pekan saja. Sementara, komunikasi dengan pangkalan di Tanah Air terputus.

Salah satu kru, Opsir Udara III Sutarjo Sigit pun menghubungi Opsir Udara III Wiweko yang saat itu juga tengah berada di India, tepatnya di New Delhi. Kala itu Wiweko tengah mengemban tugas dari KSAU Suryadarma.

Kepada Wiweko, Sutarjo menerangkan RI-001 tidak mungkin dioperasikan di India. Wiweko yang kemudian datang ke Calcutta bersama Opsir Udara III Sudaryono lantas berembuk mencari jalan keluar. Keputusan diambil, RI-001 Seulawah disewakan sebagai pesawat penerbangan sipil. Dana yang diperoleh akan digunakan sebagai modal perjuangan bangsa.

Sayang, ide ini tak bisa dijalankan di India yang menganut Swadesi, yakni menggunakan hasil sendiri.

Upaya lain ditempuh. Para opsir menghubungi Kepala Perwakilan Indonesia di Burma, Maryunani. Gayung bersambut. Saat itu pemerintah Burma tengah memerlukan angkutan udara untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan golongan ekstrem kiri The White Flag People Volunteers Organization. Juga, pemberontak golongan ekstrem kanan suku Karen yang ada di perbukitan. Keberadaan pesawat pun sangat diperlukan.

Karena itu, usai menjalankan perbaikan, pada 26 Januari 1948, Seulawah terbang ke Rangoon, ibu kota Burma. Wiweko pun ikut serta.

Setibanya di Ranggon, dengan dibantu Maryunani, Wiweko mendirikan perusahaan penerbangan yang diberi nama Indonesian Airways.

Bekerja sebagai pesawat carteran untuk kepentingan militer, Seulawah dan para awaknya kerap berhadapan dengan bahaya. Maklum, tugas yang dilakukan pun memperkuat Angkatan Udara Burma yang kala itu belum memiliki skuadron angkut. Seulawah pun bertugas mengangkut pejabat dan pasukan, juga mengirimkan amunisi dan logistik bagi pasukan pemerintah yang tengah dikepung pemberontak.

Dengan bayaran 10 rupe per mil, Seulawah kemudian mampu mengumpulkan dana untuk membeli pesawat tambahan yakni C-47 (Dakota) yang kemudian diberi registrasi RI-007. Dengan dua armada, dana yang dikumpulkan pun semakin besar hingga mampu membeli dua pesawat lainnya. Juga memenuhi biaya yang diperlukan kadet-kadet udara yang tengah belajar di India dan Filipina. Di samping itu, masih bisa disisihkan uang sebanyak US$15 ribu per bulan.

Dengan adanya perjanjian Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, sebuah Negara Republik Indonesia Serikat pun berdiri. Tugas Indonesian Airways di luar negeri pun usai. Seulawah pulang ke tanah air, sedangkan Dakota RI-007 diserahkan kepada pemerintah Burma sebagai bentuk terima kasih atas dukungan moral dan material terhadap perjuangan Indonesia.

Indonesian Airways lalu menjelma menjadi Garuda Indonesia Airways pada 1950.

Tak hanya berperan mendirikan cikal bakal Garuda Indonesia, Wiweko juga berperan menyelamatkan perusahaan pelat merah tersebut di kala kritis.

Wiweko sendiri ditunjuk sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia Airways pada 1968. Pengangkatan ini untuk mencapai hasil produksi dan daya kembang yang maksimal Garuda Indonesia.

Di bawah Wiweko, Garuda Indonesia pun mulai mengembangkan diri sebagai perusahaan penerbangan niaga. Pengembangan armada pun dimulai, sekaligus upaya untuk menjaring penumpang sebanyak-banyaknya.

Untuk diketahui, di awal berdirinya, Garuda hanya memiliki armada 22 pesawat bermesin kembar piston D3 Dakota dan delapan pesawat amphibi Catalina.

Pencipta Pesawat

Jejak Wiweko pada dunia penerbangan nusantara tak hanya berupa pendirian Garuda hingga mengawalnya menjadi perusahaan yang mampu berkembang. Lebih jauh dari itu, Wiweko berperan menghasilkan penerbang-penerbang tangguh yang siap mengarungi langit pertiwi.

Dalam buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia karya Irna HN Hadi Soewito, disebutkan pada Desember 1947, AURI membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia lulusan SMA-B untuk menjadi penerbang,

Dari seleksi yang dilakukan di Pangkalan Udara Maguwo, dipilihlah 20 kadet. Peralatan yang dimiliki AURI untuk melatih para kadet ini masih sangat sederhana. Salah satunya adalah pesawat peluncur yang disebut Zogling, ciptaan Wiweko Soepono dan Nurtanio Pringgoadisuryo.

Cara melatih kadet pun sangat sederhana. Mula-mula Zogling dikaitkan dengan seutas tali pada sebuah motor Harley Davidson, kemudian pesawat ditarik. Setelah pesawat cukup tinggi, tali penghela dilepas dan pesawat pun terbang melayang di udara.

Tampak sederhana, namun sesungguhnya latihan ini menyimpan bahaya. Kelengahan sedikit, misalnya pada saat melepaskan tali terlambat beberapa detik, Harley pun akan terangkat. Dengan risiko demikian berat, pelatih maupun kadet memang bak bertaruh nyawa.

Namun, harus diakui sumbangsih Wiweko dan Nurtanio ini mampu mencetak penerbang tangguh.

Peran Wiweko dan Nurtanio ini dilakukan lewat Biro Rencana dan Konstruksi Angkatan Udara. Duo Wiweko dan Nurtanio menjadi pucuk pimpinan biro yang berpusat di Pangkapan Maospati, Madiun.

Tugas biro ini adalah melakukan perawatan dan perbaikan pesawat terbang yang sudah dimiliki. Serta mengembangkan usaha membuat pesawat sendiri dengan bahan seadanya.

Sebagai contoh, Zogling yang diberi identifikasi NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider) dibangun dari bahan dalam negeri. Mulai dari kain belacu, kayu pinus dari Tretes, Malang, hingga sisa suku cadang peninggalan Jepang. Pesawat ini disusun hanya dalam waktu kurang dari satu tahun.

Dibantu dengan perintis dunia kedirgantaraan nusantara lainnya, Achmad bin Talim, Wiweko menciptakan pesawat RI-X pada 1947. Pesawat olahraga ini menggunakan mesin Harley Davidson dua silinder dengan kekuatan 15 pk. Kekuatan mesin pun mampu menggerakkan baling-baling kayu yang dibuat sendiri.

Pesawat yang kemudian kerap disebut Nurweko (Nurtani-Wiweko) ini dislesaikan hanya dalam waktu lima bulan. Sebutan lain bagi pesawat berkursi tunggal ini adalah WEL-1 (Wiweko Experimental Lightcraft).

Menurut Wiweko, pesawat ini diberi nama WEL supaya tak tertukar dengan pesawat ciptaan LW Walvaren seorang teknisi Belanda yang pernah membuat pesawat. Ciptaan Walvaren ini lantas diberi nama W1 hingga W4.

Selain itu, ia juga berperan dalam pembuatan pesawat yang diberi nama Si Kumbang, Belalang, Kepik dan Kunang.

Kokpit Airbus A300

Sumbangsih Wiweko tak hanya meninggalkan jejak dalam dunia kedirgantaraan dalam negeri. Jejaknya pun masih dirasakan oleh dunia penerbangan internasional.

Dalam “Ensiklopedia Umum Penerbangan Volume I ”dikisahkan, pada saat Wiweko menjabat pucuk pimpinan Garuda, maskapai penerbangan ini membeli armada baru dari Airbus. Atas permintaan Wiweko, Airbus pun memangkas kursi di dalam kokpit.

Pada masa itu, kokpit pesawat berbadan lebar (wide body) dikendalikan tiga hingga lima awak. Terdiri dari pilot, copilot, flight engineer (juru mesin udara), flight radio operator dan navigator. Bahkan, pesawat dilengkapi dengan side-panel untuk flight engineer.

Wiweko pun meminta pesawat dirancang agar bisa dikendalikan oleh dua awak saja yakni pilot dan copilot. Fungsi flight engineer, flight radio operator dan navigator ditangani penerbang dengan bantuan komputer.

FFCC menggabungkan teknologi modern yang menggunakan push button illuminated switches dan sistem digital.

Permintaan Wiweko yang dinilai visioner pun diterima Airbus. Forward Facing Crew Cockpit (FFCC) diterapkan pada pesawat A300B4 yang dibeli Garuda dari Airbus Industrie. Penyerahan perdana enam pesawat A300B4 dilakukan pada 18 Januari 1983.

Dunia penerbangan geger kala itu. Beberapa bandara internasional bahkan sempat melarang pendaratan malam hari pesawat A300B4 FFCC milik Garuda, sehingga menyulitkan operasional pesawat. Bahkan, sesungguhnya Airbus juga sempat meragukan keberhasilan FFCC.

Namun, seiring berlalunya waktu, FFCC justru menjadi cikal bakal semua kokpit berawak dua pesawat berbadan lebar dan jumbo dunia, baik yang diproduksi Airbus maupun Boeing, termasuk jetliner superjumbo Airbus A380.

Sebagai penghargaan, kokpit dua awak ini diberi nama Garuda’s Cockpit atau Garuda’s Design.

Langkah Wiweko ini didasarkan dua pertimbangan. Pertama, pengalaman DC-8 yang memangkas jumlah awak kokpit pesawat bermesin empat Douglas DC-8 dari lima menjadi tiga. Ketiganya adalah pilot, kopilot dan flight engineer. Dua awak yang terpangkas adalah flight radio operator dan navigator yang tak diperlukan lagi lantaran fungsinya sudah mampu dilakukan oleh penerbang.

Kedua, pengalaman Wiweko terbang solo yang dilakoninya pada Desember 1966. Dari Wichita, Kansas, Amerika Serikat, Wiweko melintasi Samudra Pasifik menuju Jakarta menggunakan pesawat angkut ringan Beechcraft Super H-18.

Total waktu yang diperlukan Wiweko untuk menyeberangi samudra mencapai 60 jam. Ini sudah termasuk waktu yang diperlukan untuk mengisi bahan bakar di Honolulu, Pulau Wake, Guam dan Manila.

Wiweko menjadi orang Asia pertama yang berhasil terbang solo menyeberangi Pasifik dengan pesawat angkut ringan.

Karena itulah, Wiweko begitu percaya diri ketika meminta Airbus untuk memangkas jumlah awak di kokpit.

“Keluarkan kursi flight engineer dan mari kita berunding mengenai pembelian pesawat,” begitu ucap Wiweko paa Roger Beteille, Executive Vice President dan General Manager Airbus Industrie ketika itu.

Tak hanya berucap, dalam proses pembuatannya Wiweko juga turut aktif merancang two-man crew cockpit A300B4 Airbus.

Wiweko Soepono, seseorang yang berasal dari negara berkembang, tapi begitu maju dalam pemikiran dan pandangan dalam menerapkan teknologi mutakhir penerbangan, tutup usia pada 8 September 2000 silam. Namun, jejak pemikirannya di dunia penerbangan tak lekang oleh waktu. (Fin Harini)

%d blogger menyukai ini: