25 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Petani pun Bisa Sumbang Devisa Negara

Berita ini diberdayakan untuk medcom.id

Oleh : Ade Hapsari Lestarini

Petani secara aktif bisa turut memberi kontribusi dalam menyumbangkan devisa bagi negara. Ini dilakukan melalui potensi ekspor, yang tentu saja akan menguntungkan petani.

Kegigihan dan kesabaran petani padi Indonesia, khususnya di Jawa Barat, sempat berbuah manis. Pada 2009 untuk pertama kalinya Indonesia mengekspor beras organik ke Amerika Serikat (AS) sebanyak 18 ton. Setelah itu, ekspor juga dilakukan ke berbagai negara dengan volume ekspor berkisar antara 42-152 ton per tahun.

Petani padi organik di Kabupaten Tasikmalaya dikenal telah berhasil mengembangkan beras organik. Kesuksesan petani di salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat ini, telah membawa beras organik Indonesia dinikmati diberbagai negara di dunia.

Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Handewi P Saliem pun memberikan gambaran potensi nilai ekspor dari komoditas beras organik. Ini dilakukannya setelah melakukan kunjungan ke sentra padi organik di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

“Nilainya sekitar Rp840 juta-Rp3 miliar per tahun (dengan harga Rp20 ribu per kilogram (kg) di tingkat Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani),” ujar Handewi, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat, 25 Januari 2019.

Informasi yang didapat Handewi dari Gapoktan Simpatik di Tasikmalaya, Jawa Barat, volume dan nilai devisa tersebut masih bisa ditingkatkan. Karena sampai saat ini permintaan dari negara importir beras organik belum semua dapat dipenuhi. Mengingat beberapa keterbatasan yang masih dihadapi dalam memproduksi beras organik.

“Kementan akan melakukan upaya-upaya, agar kendala dan masalah yang dihadapi dalam pengembangan padi organik tersebut dapat diatasi. Sehingga ekspor beras organik Indonesia dapat menjadi sumber pendapatan devisa yang dapat diandalkan,” tutur Handewi.

Gapoktan Simpatik yang dikunjungi Handewi, adalah kelompok tani pelopor padi organik di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat berlokasi di Kecamatan Cisayong. Di Indonesia, arah pengembangan padi organik dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Jawa Barat bagian Selatan di Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Bogor; bagian Timur di Kabupaten Ciamis dan Kuningan; dan bagian Utara Kabupaten Subang dan Purwakarta. Sebagai salah satu sentra produksi di Jawa Barat, usaha tani padi organik di Kabupaten Tasikmalaya sudah dikembangkan sejak sekitar 2004.

Petani Organik

Adang Suparno, seorang petani di Kampung Cipalegor, Desa Kiarajangkung, Kecamatan Sukahening berbagi kisah suksesnya membudidayakan padi organik. “Awalnya ragu juga, karena sudah terbiasa dengan cara konvensional,” kenang Adang sebelum akhirnya mulai berbudidaya beras organik sejak 2008.

Dirinya pun bersyukur telah mengambil keputusan mengolah 13 hektare (ha) sawah dengan cara tanam organik. Karena hasilnya lebih baik, baik dalam jumlah produksi maupun nilai jual.

“Mulai budidaya organik dari 2008, waktu itu ada lahan 13 ha. Alhamduillah hasilnya memang lebih baik dari padi konvensional, dijual juga lebih mahal,” ujar Adang.

Menurut dia padi organik lebih mahal Rp1.000-Rp2.000 per kg, dibanding padi konvensional. Sebagaimana budidaya organik, pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang. Diambil dan dikumpulkan dari kandang ternak kambing dan ternak ayam.

“Pupuk diambil dari kandang ternak yang dipelihara sendiri. Jadi lebih minim biaya, karena tidak perlu mengadakan (membeli) pupuk,” katanya.

Berbagai kemudahan juga dirasakan, karena pemerintah melalui Kementan memberikan bantuan sarana produksi (saprodi) pertanian. “Dulu ada bantuan dari saprodi mulai dari traktor, mesin rontok. Ini sangat membantu petani untuk penambahan hasil. Membantu jadi lebih cepat, memudahkan, dan hemat biaya,” tambah Adang.


© Ade Hapsari Lestarini Petani pun Bisa Sumbang Devisa Negara

Adang mengimbau bagi petani yang ingin sukses berbudidaya padi organik, yakni harus bisa bersabar untuk mendapatkan hasil yang optimal. “Harus sabar. Karena di awal pertumbuhannya lamban. Berbeda dengan budidaya padi menggunakan pupuk kimia. Setahun kemudian (barulah) hasilnya bagus,” kata dia.

Handewi membenarkan keterangan Adang, bahwa keseriusan dan ketelatenan adalah salah satu kendala yang kiatnya harus ditumbuhkan di kalangan petani jika ingin sukses berbudidaya beras organik. Kendala lainnya, areal yang memenuhi persyaratan untuk pengusahaan padi organik masih terbatas. Begitu juga dengan kapasitas mesin untuk memproses beras organik.

“Kementan akan melakukan upaya-upaya, agar kendala dan masalah yang dihadapi dalam pengembangan padi organik tersebut dapat diatasi, maka ekspor beras organik Indonesia menjadi sumber pendapatan devisa yang dapat diandalkan,” pungkas Handewi.

%d blogger menyukai ini: