31 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Bandara di AS Ganti Nama Jadi ‘Muhammad Ali’

Berita ini diberdayakan untuk republika.co.id

Petinju legendaris, almarhum Muhammad Ali, masih menjadi inspirasi bagi rakyat Amerika Serikat (AS). Terbaru, bandar udara (bandara) Louisville International Airport di negara bagian Kentucky berganti nama menjadi Louisville Muhammad Ali International Airport untuk menghormati tokoh Muslim yang wafat pada 3 Juni 2016 itu.

Seperti dilansir CBS News, Rabu (16/1), Louisville merupakan kota kelahiran petinju kelas berat tersebut. Atlet yang berjulukan “the Greatest” itu sampai kini merupakan satu-satunya juara dunia kelas berat sebanyak tiga kali. Dia meraih gelar tersebut pada 1964, 1974 dan 1978.

Keputusan untuk penamaan ulang bandara itu terjadi setelah Dewan Otoritas Bandara Regional Louisville mengadakan jajak pendapat pada 16 Januari 2019 atau satu hari menjelang ulang tahun Muhammad Ali yang ke-77.

Pemungutan suara itu menghasilkan putusan, yakni mengubah nama bandara kebanggaan kota tersebut menjadi “Muhammad Ali.” “Muhammad Ali sudah menjadi milik dunia, tetapi dia hanya punya satu kampung halaman.

Dan syukurlah, kampung halamannya itu adalah kota kita tercinta, Louisville,” kata Wali Kota Louisville, Greg Fischer, dalam rilis yang dikutip CBS News, Rabu (16/1).

Walaupun berubah nama, kode bandara itu tetap seperti sediakala menurut Asosiasi Penerbangan Internasional (IATA), yakni SDF. Tidak sekejap mata perubahan nama itu terjadi.

Rilis yang sama mengungkapkan, perlu studi satu tahun lamanya untuk menentukan apakah bandara itu perlu berganti nama atau tidak. Bagaimanapun, semua pihak yang berkepentingan ternyata menyetujuinya, sehingga Louisville International Airport mulai sekarang mengabadikan nama Muhammad Ali.

Yolanda “Lonnie” Ali mengapresiasi langkah pemerintah kota Louisville itu.


© EPA/Matthew Cavanaugh Muhammad Ali (file)

Menurut janda dari Muhammad Ali itu, almarhum suaminya sudah menjadi “warga dunia” karena ketenaran yang diperolehnya tidak hanya dari atas ring tinju, tetapi juga berbagai aktivitas kemanusiaan, anti-rasisme, dan anti-penindasan. Namun, hati Muhammad Ali tetap terpaut pada kota kelahirannya, Louisville.

“Dia (Muhammad Ali) tidak pernah melupakan kota ini yang telah memberikan kesempatan pertama. Ini (penamaan ulang bandara Louisville –Red) adalah testamen atas legasinya selama hidup,” kata Lonnie Ali dalam rilis tersebut.

Muhammad Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr pada 17 Januari 1942. Sejak awal kariernya sebagai petinju, dia sudah dikenal sebagai figur yang inspiratif dan berpengaruh tidak hanya di dunia olah raga, tetapi juga sosial dan politik.

Dia sangat membenci rasisme dan kekerasan negara. Pada 1966, misalnya, Ali menolak mengikuti wajib militer. Dia juga mengecam keterlibatan AS dalam Perang Vietnam.

“Saya tidak punya kebencian terhadap seorang pun Viet Cong. Tidak ada seorang Vietnam pun yang pernah memanggil saya dengan sebutan ‘negro’,” kata-katanya yang sering dikutip.

Oleh karena “pembangkangan” itu, Ali dipaksa menerima skors, sehingga gelar juaranya dicabut oleh Komisi Tinju. Bagaimanapun, dia kemudian berhasil memenangkan banding di Mahkamah Agung AS, sehingga gelarnya itu pulih pada 1971.

Muhammad Ali pertama kali ke Indonesia pada 20 Oktober 1973 dalam rangka untuk mengikuti pertandingan tinju melawan Rudie Lubbers. Duel kelas berat itu dihelat di Istora Senayan, Jakarta, dan dimenangkan petinju Muslim tersebut. T

ahun 1964 menjadi masa yang penting karena pada saat itulah dia memutuskan untuk memeluk Islam. Pada mulanya, orang-orang dan banyak pers tidak terima kenyataan itu. Malahan, banyak media massa yang masih menyebutnya dengan nama lahirnya, Cassius Clay. Bagaimanapun, sang juara terus berdiri tegak.

“Cassius Clay adalah nama seorang budak. Saya bukan yang memilih itu, dan juga saya tidak menghendakinya. Saya sekarang Muhammad Ali, itu nama orang bebas. Artinya, ‘yang disayangi Tuhan’. Dan saya ingin agar orang-orang memakai nama itu kapan pun mereka membicarakan saya atau berbicara dengan saya,” kata-katanya yang marak dikutip.(Teguh Firmansyah)

%d blogger menyukai ini: