29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Lima Pengakuan Rizky Amelia yang Tak Diakui Dewas BPJS TK

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co

Polemik kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami tenaga kontrak BPJS Ketenagakerjaan, Rizky Amelia, telah diungkap ke publik pada akhir Desember 2018.

Dalam konferensi pers, Amelia mengaku telah mendapatkan tindakan pelecehan seksual oleh mantan atasannya di instansi itu, Syafri Adnan Baharuddin.

Anggota Dewan Pengawas BPJS TK nonaktif itu disebut Amelia pernah melakukan pemaksaan hubungan intim selama empat kali dalam 2 tahun. Peristiwa ini terjadi sejak 2016 hingga 2018.

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Rentetan pengungkapan dugaan kekerasan seksual oleh perempuan 27 tahun itu memperoleh penyangkalan dari sejumlah pihak. Di antaranya oleh jajaran Dewan Pengawas BPJS TK.

Melalui konferensi pers yang dilakukan pada Jumat, 11 Januari 2019 di salah satu hotel di bilangan Semanggi, Ketua Dewas Guntur Witjaksono mengatakan tak pernah melihat Amelia mengadu soal kasus ini di lingkup internal. “Dia hanya mengatakan dimarahi secara keras oleh Syafri,” kata dia.

Berikut ini sejumlah pernyataan Amelia yang disangkal oleh Dewas BPJS TK.

Dugaan kekerasan seksual

Ketua Dewan Pengawas BPJS TK Guntur Witjaksono menolak pengakuan Amelia soal kekerasan seksual yang dialaminya. Menurut Guntur, hubungan keduanya dilandasi relasi khusus.

Pengakuan itu sebelumnya telah diungkapkan Syafri saat disidang oleh jajaran dewas pada akhir November lalu. “Syafri mengakui ada hubungan khusus dengan RA (Amelia),” ujarnya.

Pernyataan senada diungkapkan anggota dewan pengawas lainnya, M Aditya Warman. Aditya mengatakan selama 2 tahun bekerja untuk Syafri, Amelia tak pernah terlihat berada dalam kondisi tertekan.

“Saya ini kan psikolog, jadi sedikit banyak tahu,” ujar saat ditemui Tempo di tempat yang sama. Selanjutnya: Amelia melapor ke anggota Dewan Pengawas

Melapor ke anggota Dewan Pengawas BPJS TK pada 2016

Amelia mengaku pernah melaporkan kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan mantan atasannya kepada Aditya pada September 2016. Namun, Aditya secara keras membantah pernyataan itu. “Tidak ada laporan itu,” ujarnya.

Kala bertemu dengan Aditya, Amelia hanya mengungkap keluh-kesahnya soal pekerjaan yang berlarut sampai tengah malam. Selain itu, Amelia mengeluh kerap masuk saat akhir pekan.

Melapor kepada Ketua Dewan Pengawas BPJS TK pada 2018

Amelia mengaku pernah melapor dugaan kekerasan seksual yang dialaminya kepada Guntur pada 28 November 2018. Laporan itu dilayangkan setelah terjadi pertengkaran hebat antara Amelia dan Syafri mengenai persoalan yang tidak jelas.

Amelia mengatakan Syafri marah dan menuduhnya tak laik bekerja sebagai buntut dari penolakan hubungan intim. Menurut Guntur, kala itu, Amelia hanya melapor bahwa dirinya dimarahi hebat oleh eks atasannya sampai hampir dilempar gelas.

Selanjutnya: Amelia tak diizinkan berdinas berdua dengan Syafri

Amelia pernah mengungkap bahwa ia dan Syafri dilarang berdinas berdua oleh Aditya. Lagi-lagi, pengakuan itu dipatahkan oleh Aditya. Menurut dia, dirinya tak pernah melarang Syafri pergi berdua ke luar kota dengan mantan tenaga kontraknya.

“Yang ada, saya mengatakan ke semua staf, kalau saat berdinas, mereka tidak boleh berdua-duaan. Bukan pergi berdinas berdua,” kata Aditya. Adapun imbauan itu tidak disampaikan secara spesifik kepada Amelia dan Syafri. Namun kepada semua pegawai di lingkup dewan pengawas.

Dirundung selama 2 tahun

Para anggota dewas satu suara soal kondisi Amelia selama 2 tahun. Menurut mereka, Amelia berada dalam keadaan baik dan tak terlihat terundung. “Komunikasi baik, seperti orang biasa saja,” ujar Aditya kepada Tempo.

Rizky Amelia sebelumnya mengaku berada dalam situasi tertekan. Ia mengatakan, pada November 2018, ia sampai mencoba dua kali bunuh diri karena tak kuat terus-terusan didesak Syafri untuk berhubungan intim.

Amelia mengaku ia mencoba bunuh diri dengan menenggak pil dan hendak terjun dari gedung apartemennya di Pluit, Jakarta Utara.

Kronologi Laporan Kasus Rizky Amelia Versi Dewan Pengawas BPJS TK

Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan mengungkapkan versi yang berbeda soal pelaporan salah satu tenaga kontraknya, Rizky Amelia, ihwal kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan Syafri Adnan Baharuddin.

Syafri adalah anggota Dewas BPJS TK nonaktif sekaligus mantan bos Amelia yang saat ini menjadi terlapor atas perkara tersebut.

Ketua Dewas BPJS TK Guntur Witjaksono mengatakan laporan Amelia soal dugaan kasus itu baru terungkap pada 6 Desember 2018.

“Kami baru tahu setelah mendapat surat tembusan yang dikirim Amelia ke DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional),” kata dia saat ditemui di salah satu hotel di bilangan Semanggi pada Jumat sore, 11 Januari 2019.

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Berikut ini kronologi pelaporan Amelia terhadap mantan atasannya versi dewan pengawas yang dihimpun Tempo.

28 November 2018 Siang

Kala itu, terjadi pertengkaran Amelia dan Syafri karena persoalan paspor. Syafri meminta Amelia menyiapkan paspornya hari itu juga. Padahal paspor itu sedang berada di kedutaan lain.

Pertengkaran itu diadukan Amelia kepada Guntur. Perempuan 27 tahun tersebut mengatakan Syafri marah hebat sampai hendak melemparinya dengan gelas kosong.

Saat melapor, Guntur dalam posisi akan rapat. Dalam kondisi terburu-buru, Guntur menyarankan Amelia untuk mundur dari pekerjaannya saat itu bila tak kuat dengan tekanan yang dibebankan oleh Syafri.

Tak ada ungkapan soal dugaan pelecehan seksual. Selanjutnya pada sore harinya ….

28 November 2018 Sore

Amelia diduga kecewa dengan sikap Syafri dan respons Guntur. Ia lalu mengunggah status tak seronok di pesan WhatsApp. Guntur menyuruh stafnya untuk mengingatkan Amelia ihwal unggahannya.

Alih-alih menghapus unggahan, Amelia malah memberondong tulisan lainnya yang menyinggung dewas dan berpotensi mencemarkan nama baik instansi.

28 November 2018 Malam

Guntur memintai komentar Syafri ihwal sikap Amelia. Melalui pesan pendek, Syafri mengaku ada hubungan khusus antara dia dan mantan bawahannya itu. Syafri malam itu sudah berada di Singapura dan tidak bisa ditemui secara langsung.

30 November 2018

Dewan Pengawas BPJS TK menggelar rapat yang dihadiri Syafri. Ia dimintai konfirmasi soal hubungannya dengan Amelia. Secara langsung, Syafri kembali menegaskan bahwa keduanya terlibat hubungan istimewa.

Seusai rapat, dewas menerbitkan surat skors untuk Amelia dengan alasan telah berpotensi merusak nama baik BPJS TK ihwal unggahannya. Selain itu, skors diberikan untuk mencegah pertemuannya dan Syafri.

Awal Desember

Salah satu anggota dewan pengawas, Rekson Silaban, menyarankan Amelia membawa kasusnya ke Dewan Jaminan Sosial Nasional atau DJSN.

Rekson meminta Amelia membuat surat aduan terkait keberatannya soal perilaku Syafri. Selanjutnya 5 Desember 2018…

5 Desember 2018

Dewas BPJS TK bermaksud membuat perjanjian bersama ihwal pemutusan kontrak Amelia dengan kompensasi membayarkan gaji hingga masa kontraknya berakhir. Namun surat itu ditolak ditandatangani Amelia.

6 Desember 2018

Amelia melayangkan surat aduan kepada DJSN yang ditembuskan ke Dewas BPJS TK. Saat membaca surat tembusan, Guntur baru mengetahui kronologi dugaan tindak kekerasan seksual yang dilakukan Syafri.

Sebelumnya, dalam wawancara bersama Tempo pada 2 Januari lalu, Amelia mengungkapkan bahwa ia sudah pernah melaporkan tindakan dugaan kekerasan seksual tersebut sebanyak dua kali.

Aduan pertama dilayangkan pada 2016 kepada M. Aditya Warman. Ia merupakan anggota Dewas BPJS TK lain, yang juga kolega Syafri. Aduan kedua disampaikan kepada Guntur pada 28 November 2018.

“Saya sudah melapor dan mereka tidak merespons. Malah, buntutnya saya akan di-PHK,” kata Amelia.

Lantaran kasusnya mental di internal, Amelia lantas bersurat ke DJSN. Ia juga mengirim surat yang sama kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Dalam surat tersebut, Amelia meminta agar Jokowi memberhentikan Syafri dari jabatannya sebagai Dewas BPJS TK.

Atas kronologi berbeda yang diungkapkan dewas, Rizky Amelia mengatakan bukan masalah.

Ia mengaku posisinya sebagai tenaga kontrak membuatnya tak punya kuasa untuk bersuara. “Saya bukan siapa-siapa dan tidak kenal siapa-siapa di jajaran Dewas,” ujarnya.

%d blogger menyukai ini: