29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Gratifikasi Berkedok Bantuan MCK untuk Eni Saragih

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Direktur PT One Connect Indonesia, Herwin Tanuwidjaja, mengakui adanya pemberian uang kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Fraksi Golkar, Eni Maulani Saragih. Uang yang diberikan Herwin adalah sebesar SGD 40 ribu.

Menurut Herwin, ia memberikan uang itu karena Eni pernah bercerita soal adanya daerah pedalaman di Indonesia yang membutuhkan bantuan, khususnya untuk pembangunan tempat Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK).

© Disediakan oleh Kumparan Sidang Eni Maulani Saragih, Pengadilan Tipikor Jakarta

“Buat pembangunan MCK. Kalau daerahnya saya lupa. Tapi ceritanya (Eni) di daerah pedalaman,” kata Herwin saat bersaksi untuk Eni di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (8/1).

Menurut Herwin, Eni menyampaikan kepadanya untuk estimasi dana untuk pembangunan MCK dalam satu rumah sekitar Rp 2 juta. Herwin menyatakan atas cerita Eni tersebut, ia pun berniat memberikan bantuan.

© Disediakan oleh Kumparan Eni Maulani Saragih, Pengadilan Tipikor

Menurutnya, saat itu Eni tidak menyebutkan nominal uang untuk pembangunan MCK tersebut. Namun saat akan memberikan uang, Eni meminta agar uang yang akan diberikannya diberikan dalam bentuk dolar Singapura.

“Dia minta agar dalam bentuk dolar Singapura karena agar mudah dibawa. Saya suruh tukar staf saya Rp 400 juta menjadi SGD 40 ribu,” jelas Herwin.

Pemberian uang dilakukan melalui staf Herwin kepada staf Eni bernama Indra. Herwin mengelak ketika jaksa penuntut umum KPK mempertanyakan kaitan pemberian uang itu dengan jabatan Eni di DPR.

Ia mengaku Eni sering meminta bantuan kepadanya sebelum menjadi anggota DPR. Herwin menyebut bantuan itu sebagai bantuan sosial perusahannya atau corporate social responsibility (CSR).

“Mungkin dia minta sebagai CSR. Sumbangan sukarela. Saya sering memberikan sumbangan kalau ada yang minta, bukan hanya Bu Eni,” tutur Herwin.

Jaksa juga sempat mempertanyakan hubungan dia dengan Indra, staf Eni. Herwin menyebut hubungan dengan Indra ialah pertemanan yang dijalin sejak lama, sama seperti halnya dengan Eni.

Menurut dia, Indra sempat meminjam uang kepadanya untuk bisnis dengan memasukan cooper slag. Namun Herwin tidak menyebutkan nominal uangnya yangn dipinjam itu.

“Indra sempat pinjam uang ke saya, bilangnya untuk bisnis,” kata Herwin.

© Disediakan oleh Kumparan Al Khadziq, Eni Maulani Saragih, Pengadilan Tipikor

Dalam dakwaan, Herwin Tanuwidjaja disebut sebagai salah satu pihak pemberi gratifikasi kepada Eni Saragih. Ia disebut memberikan uang sebesar Rp 100 juta dan SGD 40 ribu.

Menurut dakwaan, uang diberikan karena Eni telah memfasilitasi perusahaan Herwin untuk dapat melakukan impor limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Eni Maulani Saragih tidak hanya didakwa menerima suap Rp 4,75 miliar dari pemegang saham PT Blackgold Natural Resources Ltd, Johannes Budisutrisno Kotjo, terkait proyek pembangunan PLTU Riau-1. Tetapi Eni juga didakwa menerima gratifikasi dari empat pengusaha yang bergerak di bidang energi dan migas yang jumlahnya mencapai Rp 5,6 miliar dan SGD 40 ribu atau Rp 419,9 juta (kurs SGD 1 = Rp 10.480).

Politikus Golkar itu menerima gratifikasi untuk pemenangan suaminya, M. Al Khadziq yang mengikuti Pilkada Kabupaten Temanggung tahun 2018. Khadziq berpasangan dengan calon Wakil Bupati Heri Wibowo yang diusung Partai Golkar pada akhirnya memenangkan pilkada itu.

Uang itu berasal dari sejumlah pengusaha yang berkaitan dengan mitra kerja dari Komisi VII. Beberapa pihak yang memberikan gratifikasi kepada Eni, yakni:

  1. Rp 250 juta dari Prihadi Santoso selaku Direktur PT Smelting
  2. Rp 100 juta dan SGD 40 ribu dari Herwin Tanuwidjaja selaku Direktur PT One Connect Indonesia
  3. Rp 5 miliar dari Samin Tan selaku pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal
  4. Rp 250 juta dari Iswan Ibrahim selaku Presiden Direktur PT Isargas

(Taufik Rahadian)

%d blogger menyukai ini: