22 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Fakta Terbaru Kasus Mesum Eks Pejabat BPJS TK

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

© Disediakan oleh Kumparan Diduga korban pelecehan seksual, pejabat BPJS TK, Bareskrim Polri

Kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan mantan Anggota Dewan BPJS Ketenagakerjaan (TK) Syafri Adnan Baharuddin masih terus bergulir. Setelah Syafri Adnan mengundurkan diri dari jabatannya, terduga korban mulai membawa masalah ini ke ranah hukum. Perempuan yang sempat jadi sekretaris Syafri Adnan juga kembali buka suara.

Berikut sejumlah fakta baru yang kumparan rangkum dalam kasus dugaan pemerkosaan ini.

© kumparan Konferensi pers Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan (TK) membantah tudingan Syafri Adnan Baharuddin memperkosa bawahannya. (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
  1. Syafri Adnan Resmi Dilaporkan

Syafri Adhan resmi dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh eks sekretarisnya. Laporan diterima polisi dengan nomor STTL/003/I/2019/Bareskrim.

Dalam surat tanda laporan tertulis nama Syafri Adnan Baharuddin sebagai terlapor. Pasal yang disangkakan Pasal 294 Ayat 2 KUHP tentang perbuatan cabul yang dilakukan atasan terhadap bawahannya.

“Intinya di pasal itu adalah pejabat yang melakukan perbuatan cabul terhadap bawahannya seperti itu,” kata kuasa hukum pelapor Heribertus S. Hartojo di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (3/1).

Heribertus mengaku memiliki sejumlah bukti seperti screenshot chat WhatsApp antara Syafri Adnan dan korban. Namun, Ia enggan membeberkannya lebih lanjut.

“Nanti kita ada saksi terus chat WA dan bukti lain berupa surat. Kemarin kami sifatnya konseling. Sekarang sudah resmi,” tandasnya.

Sebelum dilaporkan, Syafri juga berencana membawa tuduhan yang menyasarnya ke ranah hukum. Dia merasa telah difitnah mantan stafnya. Hanya saja, hingga berita ini ditayangkan dia belum melapor balik.

2. Diteror Usai Ungkap Dugaan Pemerkosaan

Perempuan 27 tahun yang mengaku jadi korban Syafri sempat bercerita, ada ancaman yang dialaminya setelah membuka kasus dugaan pemerkosaan tersebut ke publik.

“Ada ancaman,” kata perempuan itu saat keluar dari gedung Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (2/1).

Namun, Heribertus selaku kuasa hukum tidak ingin kliennya membeberkan hal tersebut ke publik. Heribertus akan mengungkap ancaman teror setelah laporan ke penyidik masuk.

“Nanti akan disampaikan ke penyidiknya. Kami fokus dulu ke pencabulannya,” ucap Heribertus.

Sementara itu Koordinator Advokasi BPJS TK Timbul Siregar mengungkapkan, ancaman teror yang dialami perempuan itu salah satunya terdapat di media sosial. Timbul menyebut ada akun anonim yang membuat cerita palsu bertujuan merusak citra perempuan itu.

“Ada teror tapi tidak secara langsung, tapi ada kesan membuat RA seakan bersalah. Teror lewat medsos, ada buzzer FB di lamannya (akun yang mengklaim),” pungkasnya.

© Disediakan oleh Kumparan Diduga korban pelecehan seksual, pejabat BPJS TK, Bareskrim Polri

3. Dipaksa Berhubungan Seks Sebulan Sekali

Selain mendapat ancaman, perempuan tersebut juga mengaku dipaksa atasannya itu untuk berhubungan seksual setiap sebulan sekali. Ia menyebut sudah memberikan peringatan ke Syafri tetapi tidak ada tanggapan positif.

“Yang bersangkutan sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi, tapi yang bersangkutan tetap terus memaksakan bahkan sampai 21 September 2018 dia meminta saya untuk melayaninya setiap satu bulan sekali,” kata dia usai melapor ke Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Kamis (3/1).

“Itu peringatan tegas sekali dan menurut saya itu sudah kelewatan bagi seorang atasan,” sambungnya.

Ia mengaku selalu menolak ketika diajak untuk berhubungan seksual dengan Syafri. Namun sia-sia. Perempuan itu memutuskan untuk melapor ketika bosnya itu mengancamnya secara fisik.

“Saat itu saya selalu menolak hingga puncaknya bulan November beliau mengarahkan gelas ke arah saya di kantor dan marah-marah tanpa alasan yang jelas,” kata dia.

“Karena sudah ada ancaman fisik seperti itu jadi saya memutuskan tanggal 28 November itu saya adukan ke dewan pengawas,” lanjutnya.

Namun, bukan pembelaan yang ia dapat. Ia justru diminta berhenti dari pekerjaannya.

“Ketua Dewan Pengawas (BPJS TK) malah mengatakan kalau sudah tidak nyaman silakan resign saja, padahal niat saya melaporkan itu bukan untuk resign saya hanya mengadu apa yang terjadi,” ungkap dia.

Syafri juga membantah telah bersetubuh dengan mantan stafnya itu. Tudingan itu dibantah Syafri lewat pengacaranya, Memed Adiwinata.

“Saya sampaikan tadi, dia inikan pejabat negara, selama masa kerja beliau dia pasti keluar masuk hotel. Sudah ratusan. Alasan yang tadi sampaikan, bahwa 4 hotel, itu tidak hanya 4 hotel pak. Kalau dia ikut, kan dia sekretaris,” beber Memed dalam jumpa pers bersama Syafri di Cikini, Minggu (31/12).

4. Dirayu dengan biaya kuliah

Mantan staf Syafri Adnan yang mengaku diperkosa atasannya, bercerita atasannya itu pernah membiayainya kuliah. Uang kuliah itu dianggap perempuan itu sebagai bentuk rayuan agar mau berhubungan seksual dengan Syafri.

“Dia tahu kalau saya hobinya pendidikan dan memang suka dengan pendidikan. Jadi itu salah satu cara untuk merayu saya,” kata korban usai melapor di Bareskrim.

“Jadi karena saya sudah memaafkan di tahun 2016, tahun 2017, dia memaksa saya untuk kuliah,” sambungnya lagi.

Korban mengatakan meskipun telah diberi uang untuk kuliah, hal itu tidak membuat dirinya merasa berutang budi sehingga mau berbuat mesum, apalagi menikah dengan pelaku.

“Saya sudah tegaskan bahwa saya punya pacar,” kata korban.

Syafri juga membantah soal mantan stafnya yang merasa dirayu. Menurut Syafri, apa yang disampaikannya kepada perempuan itu adalah hal yang sewajarnya saja.

“Sebagai atasan saya punya anak asuh banyak, dan dekat. Jadi indikasi berlebihan melakukan suatu niatan (rayuan), maaf Lillahitaala saya tolak itu. Saya tidak begitu tertarik dengan WA itu,” kata Syafri saat jumpa pers di Hotel Hermitage, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (30/12).

Syafri mengklaim, pesan WhatsApp-nya ke bawahannya itu masih dalam konteks pekerjaan. Ia pun menyesalkan pesan WhatsApp yang harusnya bersifat pribadi diungkap ke publik.

“Mohon maaf, saya tidak tahu soal WA itu. She is not spesial one,” ucapnya.(Raga Imam)

%d blogger menyukai ini: