23 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Tinggal Sendiri di Gubuknya, Nenek 100 Tahun Ini Membuat Kapolda Kaget

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media
Kapolda DIY, Irjen Pol Ahmad Dofiri saat Melakukan kunjungan Ke Rumah Wagiyem yang Tinggal Sebatang kara di Desa Getas, Kecamatan Playen, Gunungkidul Jumat (4/1/2019)KOMPAS.com/MARKUS YUWONO

Setiap hari Jumat, ratusan personel Kepolisian Polda DIY mendatangi warga di pelosok desa.

Pada Jumat (4/1/2019), dipimpin langsung Kapolda DIY Irjen Pol Ahmad Dofiri, anggota polisi mendatangi desa Getas, Kecamatan Playen, Gunungkidul.

Dalam kesempatan itu, selain membagikan sembako pada ratusan warga, Kapolda mendatangi nenek Wagiyem yang mengaku berusia hampir 100 tahun yang tinggal seorang diri di rumah sederhana.

Wagiyem, karena usianya, tidak bisa mendatangi lokasi baksos di Gunung Gede, Getas. Dia tinggal sendiri, karena memang tidak menikah.

Yuli kerabat jauhnya mengaku mengevakuasi Wagiyem dua tahun lalu. Saat itu dia tinggal sendiri di rumah gubug. Saat itu dia sudah meminta untuk tinggal di rumahnya namun menolak.

“Dia (Wagiyem) meminta dibuatkan rumah kecil, tidak mau tinggal di rumah saya. Ya sudah saya buatkan sederhana, yang penting dia nyaman,”kata Yuli ditemui Jumat.

Setiap hari bersama sanak saudara dan masyarakat sekitar, dirinya mengirim keperluan sehari-hari. Sebab, Wagiyem tidak berkeluarga, dan sering memilih menyendiri.

“Senangnya menyendiri, karena mungkin sudah kebiasaan sejak muda,”ujarnya.

Pagi tadi Kapolda DIY bersama rombongan mendatangi lokasi yang terletak di tengah pemukiman.

Wagiyem tinggal sebatang kara dalam rumah yang terbuat dari kayu dengan ukuran kurang lebih 4×3 meter. Saat itu, dirinya sedang duduk di bangku depan rumahnya.

Saat sampai di lokasi, salam diucapkan Ahmad namun Mbah Wagiyem tak bergeming.

“Lebih dekat dan sedikit keras Ndan, pendengarannya sudah terganggu,” kata salah seorang warga.

Sesekali jendral bintang dua ini menanyakan arti dari pertanyaan Mbah Wagiyem karena tidak paham artinya lantaran menggunakan bahasa jawa kromo alus.

“Umur Mbah Wagiyem berapa tahun?” tanya Kapolda.

Ketika dijawab 100 tahun, Ahmad sedikit kaget. Beberapa menit berbincang, ia menyerahkan sembako.

“Saya persilakan Bapak mampir ke rumah saya sebentar,” kata Wagiyem.

Namun, karena akan kembali ke Yogyakarta, Kapolda berpamitan.

“Saya doakan rezeki Bapak Ibu semua yang ke sini lancar,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca

Ahmad Dofiri mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang ada di Polda DIY setiap hari Jumat. Tak hanya di Gunungkidul, tetapi juga di daerah lainnya.

“Kegiatan ini kolaborasi anggota Polri yang diinisiasi oleh Brigadir Ali dengan rekan-rekan yang tiap Jumat mendatangi orang tua jompo di tempat-tempat terpencil, (hari ini bersama) Forum Silaturahmi Desa Getas,” ujarnya.

Ahmad menuturkan, anggota polisi tugasnya tidak hanya menangkap maling atau penjahat saja tetapi juga berbagi memberikan sedikit santunan dan memberikan layanan kesehatan.

“Intinya kegiatan ini adalah bagaimana bekerja sama dengan masyarakat bahu membahu, anggota polisi pekerjaannya bukan hanya menangkapi maling, menilang sepeda motor di jalan dan lain-lain. Hal khusus seperti ini, mereka memberikan bantuan kesehatan, dan lain-lain,”ucapnya

Salah seorang anggota polisi yang menginisiasi kegiatan, Brigadir Nur Ali Suwandi mengatakan, selain Jumat, hari akhir pekan juga digunakan untuk mendatangi lokasi.

“Sabtu menyambangi warga, Jumat tausiyah untuk menenangkan warga, kedua baksos, dan terakhir bakti kesehatan. Kami minta bantuan dokter Polda DIY,”ucapnya

Dia mengaku sudah melakukan kegiatan 2 tahun terakhir, mendatangi warga yang sulit diakses. Ali yang bertugas di kesatuan Provost Polda DIY ini juga merawat ratusan anak-anak yatim piatu di Kotagede, Yogyakarta.

“Alhamdulillah kegiatan ini didukung oleh Kapolda,”ucapnya.

Penulis: Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono

Editor: Khairina

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: