18 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Jonan Klaim Subsidi Energi Turun Selama 4 Tahun Terakhir

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

© Disediakan oleh Kumparan Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

Realisasi subsidi energi mencapai Rp 153,5 triliun sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut naik hingga Rp 55,9 triliun dibanding tahun 2017 yang sebesar Rp 97,6 triliun.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, realisasi subsidi energi periode 2015-2018 sebenarnya telah mengalami penurunan jika dibandingkan periode 2012-2014.

Pada periode 2012-2014 atau dalam tiga tahun, realisasi subsidi energi mencapai Rp 958 triliun. Sedangkan periode 2015-2018 atau selama empat tahun hanya sekitar Rp 477 triliun.

“Subsidi energi itu bisa dilihat, ada komparasi 2012-2014 dalam tiga tahun itu Rp 958 triliun. Nah, ini empat tahun berikutnya dari 2015-2018 itu Rp 477 triliun,” kata Jonan dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (4/1).

© Disediakan oleh Kumparan Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

Meski demikian, Jonan mengakui, realisasi subsidi energi di tahun lalu memang meningkat cukup besar yakni 57,3 persen dari 2017. Namun menurutnya, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor ESDM juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama tahun lalu.

Adapun realisasi PNBP di sektor ESDM sepanjang 2018 sebesar Rp 217,5 triliun, meningkat 64,7 persen dari realisasi tahun sebelumnya. Realisasi PNBP tersebut mencapai 181 persen dari target APBN 2018 yang sebesar Rp 120,5 triliun.

“Memang jumlahnya lebih besar, kalau lihat 2017 subsidi energi itu Rp 97,6 triliun dan 2018 Rp 153,5 triliun, tapi lihat juga kan penerimaan naik. Subsidi ini kan didanai oleh penerimaan, penerimaan kan naiknya banyak,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto menambahkan, meningkatnya subsidi energi di tahun 2018 disebabkan karena konsumsi elpiji 3 kilogram (kg) yang meningkat. Selain itu, subsidi solar di tahun tersebut juga naik dari Rp 1.000 per liter menjadi Rp 2.000 per liter.

“Subsidinya (solar) naik dua kali lipat. Solar kan harganya naik. Kurs juga ada,” tutur dia.

© Disediakan oleh Kumparan Konferensi pers Kinerja Kementerian ESDM Tahun 2018

Kepala Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas Fanshurullah Asa menyebutkan, konsumsi solar sepanjang 2018 mencapai 15,54 juta kiloliter (KL). Jumlah ini mencapai 99,52 persennya dari kuota yang ditetapkan.

“Berdasarkan data BPH Migas, verifikasi sampai bulan Desember itu BBM solar mencapai 15,545 juta KL atau 99,52 persen dari kuota. 2017 hanya 14 juta,” sebutnya.

Sementara realisasi konsumsi premium sepanjang 2018 adalah 9.231 KL atau 78,32 persen dari kuota yang sebesar 11 juta KL.

“Realisasi rendah karena ada transisi, waktu di awal-awal kan belum masuk wilayah Jamali untuk JBKP (Jenis BBM Khusus Penugasan). Itu jadi salah satu sebab tidak sampai realisasi mendekati angka itu,” tambahnya.(Dewi Rachmat.K)

%d blogger menyukai ini: