1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Bayar Sendiri, Korban Tsunami Selat Sunda Terbelit Utang di RS Cilegon

Berita ini diberdayakan untuk suara.com

Setelah heboh pungutan liar pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda, ternyata ada juga para korban tsunami Selat Sunda yang menanggung biaya pengobatan sendiri. Kocek yang dirogoh sampai belasan juta rupiah.

Cerita itu datang dari Muginarto (48), warga Lingkungan Ramanuju Tegal, RT 01 Rw 11, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon. Dia merasa aneh, biaya pengobatan anaknya, Nafis Umaam (8) tidak ditanggung pemerintah. Padahal Nafis korban tsunami Selat Sunda saat berada di Pantai Carita.

Nafis selama ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon. Sejak kejadian, Nafis menjalani perawatan di RSKM dengan luka cukup parah.

“Total biaya perawatannya anak saya satu minggu di rumah sakit kurang lebih sebesar Rp 17 Juta, uang saya yang sudah masuk sebesar Rp 10,5 Juta ditanggung oleh BPJS sekitar Rp 2,9 Juta dan sisanya masih belum dibayar,” ujarnya saat ditemui awak media di kediamannya, Jumat (4/1/2019).

Saat peristiwa tsunami Sabtu malam dirinya langsung menuju lokasi kejadian yakni di Villa Mutiara Carita untuk mencari anaknya yang berlibur dengan para tetangga rumahnya.

“Anak saya ketemunya pada Minggu sore di Rumah Sakit oleh tetangga dan langsung di bawa ke RSKM. Saya taunya pas anak ada di RSKM. Saat itu anak saya mengalami luka yang cukup parah tulang geser dan perlu di operasi. Saat ingin dioperasi pihak rumah sakit menerangkan bahwa biayanya harus dibayar,” ungkapnya.

© suara.com Kantor Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur di Jalan Raya Sumur, Pandeglang hancur diterjang tsunami. (Suara.com/Walda)

Saat anaknya berada di rumah sakit, tidak ada satupun perwakilan pemerintah yang datang untuk melakukan pendampingan terhadap anaknya. Ia berharap agar pemerintah dapat menanggung seluruh biaya perawatan anaknya di rumah sakit.

“Sangat keberatan jika dipungut biaya. Saya tahu karena musibah ditanggung pemerintah, waktu mau dioperasi pihak rumah sakit menerangkan bahwa ini harus bayar. Selain itu Selama di rumah sakit perwakilan pemerintah tidak ada yang mendampingi dan sebenernya rumah sakit juga sudah tau anak saya korban tsunami, ” imbuhnya.

Sementara hal yang serupa juga dirasakan oleh Dini Pangestika (25), korban tsunami lainnya. Dia membeberkan, biaya perawatan adiknya bernama Danita Handalia (21) yang juga menjadi korban Tsunami Selat Sunda tidak di tanggung oleh pemerintah.

“Saya juga menjadi korban, adik saya mengalami luka-luka dan mendapatkan jahitan sebanyak 60 jahitan di kepala. Untuk biayanya sebesar Rp 13 juta yang di cover BPJS Rp 2,3 juta sisa bayar sendiri,” bebernya.

Saat dikonfirmasi, Pelaksana Tugas Wali Kota Cilegon Edi Ariadi, mengaku dirinya belum mengetahui jika ada korban tsunami di RSKM yang dipungut biaya perawatan. Ia mengaku akan segera berkoordinasi dengan kantor Palang Merah Indonesia PMI) Cilegon untuk mencari informasi tersebut.

“Saya belum mengetahui informasinya nanti saya cek ke PMI Cilegon.” ujarnya seraya meninggalkan wartawan. (BantenHits.com/Pebriansyah Ariefana)

%d blogger menyukai ini: